Crazy Night

2181 Kata
“Apa maksudmu, heh? Aku dengan baju maid seperti ini?” tanya Mikaela saat Ares memberinya seragam maid yang katanya dipakai untuk rencana mereka malam ini. “Iya, benar! Saat kita masuk nanti, kamu akan pura –pura menjadi salah satu babysitter si kembar,” jawab Ares dengan gampangnya membuat Mikaela menaikkan alisnya karena merasa rencana Ares sama sekali tidak masuk akal. “Tapi pasti mereka akan saling kenal satu sama lain kan? Masa iya, para pekerja di mansionmu tidak saling mengenal?” Mikaela masih tidak bisa yakin dengan rencana pria itu. “Tenang saja, kalau soal itu serahkan padaku. Sebelum masuk, kamu mesti pakai jaket dulu dan saat sudah masuk ke mansion, kamu lepas dan kenakan itu saja. Baiklah! Ayo beraksi!” Ares langsung menarik tangan Mikaela untuk keluar dari hotel. Keduanya tentu saja keluar dengan penutup wajah karena berhati –hati kepada orang lain yang bisa saja memergoki mereka yang berada di hotel ini. Saat akan ke basement, ternyata dua orang itu baru keluar dari mobil bersamaan. Mikaela sedikit memerhatikan mereka walau dia berama Ares. Melihat Marcel dan Michelle bergandengan tangan bersama dan kemudian saling b******u satu dengan yang lain sebelum masuk ke dalam hotel. Lagi –lagi kelakuan mereka berdua membuat Mikaela terkejut bukan main. Daripada menatap nanar ke arah dua orang itu, lebih baik dia masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan rencananya dengan Ares. “Hei, ada apa denganmu?” tanya Ares kepada Mikaela yang ekspresinya ditekuk seperti tadi siang. “Ternyata, Marcel itu pengkhianat ya? Kenapa dia bisa begitu ya?” Mikaela berujar heran karena tidak terima dengan kenyataan bahwa pria yang pernah dia pilih sebagai suaminya bisa dengan mudah melakukan pengkhianatan dengan mantan istrinya yang sekarang adalah iparnya. “Sudah kubilang dari awal kan? Jangan percaya kepadanya! Menurutku, Marcel itu hanya angin –anginan saja. Cintanya terlihat menggebu di awal dan saat sedikit saja masalah, dia sudah menyerah dengan mudahnya. Pria yang mudah terhasut! Dia itu bodoh!” Ares menanggapinya dengan santai saja menghina Marcel di depan Mikaela. Jujur saja, dia tidak suka pada sifat Marcel yang begitu. Saat tahu kalau hubungan Marcel dan Mikaela yang fondasi awalnya sangat lemah. Hanya demi tanggung jawab semata dan rasa bersalah. Orang mana pun tahu kalau hubungan seperti itu tidak akan bisa bertahan. “Padahal, aku sudah memberikan seluruh hatiku kepadanya. Apa aku terlihat bodoh?” tanya Mikaela sendu. Selama setahun lebih, dia percaya pada cinta dan janji manis yang keluar dari mulut Marcel. Dia pikir, pria itu akan menerimanya kalau dia sudah memberi hak asuh kedua anaknya kepada Ares dan meluruskan semua kesalahpahaman di antara mereka. Tapi sayang, Marcel malah memulai pengkhianatan. “Tidak juga! Kamu tidak bodoh! Kamu itu korban dari sebuah cinta rumit. Jadi sekarang, kau bisa percaya kepadaku,” kata Ares sembari tersenyum menatap Mikaela dengan penuh kesungguhan. “Maaf, aku tidak mau terluka lagi!” tolak Mikaela yang belum siap menerima luka lagi. Hubungannya saat ini dengan Ares hanya simbiosis mutualisme. Mikaela butuh Ares untuk mendapatkan kembali keadilan atas semuanya. Setelah itu, semuanya selesai di antara mereka. Mikaela yakin itu! “Baik, kita sampai! Kita masuk lewat sini untuk langsung ke penjara bawah tanah!” Ares menghentikan mobilnya. Mereka berdua keluar dan memerhatikan sekitar yang cukup gelap karena memang mansion ini berdiri sendiri dan tidak ada tetangga di sekitarnya. Ares memegang tangan Mikaela lalu menyusup diam –diam sambil memerhatikan beberapa penjaga yang sedang sedang bertugas. Pria itu memerhatikan dan melihat ada tujuh orang yang berjaga di sekitar sini. Ares mengenakan sarung tangan lalu menghajar mereka semua, ya bawahannya sendiri dan meratakannya sampai pingsan di tempat. Mikaela ngeri –ngeri sedap melihat pemandangan seperti itu dan memang sepertinya Ares tidak membiarkan mereka melapor soal kedatangan penyusup di sini. Tapi ini tidak akan berlangsung lama, karena saat shift berganti, penjaga yang lainnya akan melapor adanya penyusup yang masuk. “Ayo, cepat kita masuk!” Ares menarik tangan Mikaela untuk masuk ke gudang belakang untuk ke ruang bawah tanah. Saat melihat dua ekor anjing besar itu, Mikaela terbelalak dan menggenggam tangan Ares sekuat –kuatnya karena merasa takut. Tapi ada yang aneh! Kedua anjing itu tidak menggong –gong kepada mereka. Jalan mereka mulus sekali sampai masuk ke dalam. “Ares, kenapa anjing itu tidak berbunyi?” tanya Mikaela heran. Ares sedang fokus mengambil sesuatu di balik saku jaketnya lalu meletakkannya di tanah. “Anjing? Mereka kan peliharaanku. Mereka kenal bau majikannya,” jawab Ares dengan santai sambil menekan beberapa angka di benda kecil yang dia keluarkan tadi. “Hei, itu apa?” tanya Mikaela melihat benda itu. Rasanya agak familiar dengan bentuknya. “Oh, ini ranjau. Cepat! Aku sudah mengatur waktunya hanya dua puluh menit!” Ares dengan cepat menarik tangan Mikaela dan masuk ke dalam penjara bawah tanah. Mikaela ikut saja dengan apa yang dilakukan oleh Ares. Mendengar pria itu memasang ranjau di gudang ini, jantungnya sudah berpacu karena merasa ini adalah sesuatu yang sedemikian menegangkan dan agak gila. Tapi mereka sudah cukup jauh dari ranjau itu dan dekat dengan lift di mana akan terhubung langsung dengan ruang kerja pribadi Ares. “Hei, kau yakin kalau Tuan Ares beneran mati?” Terdengar suara seseorang sehingga membuat keduanya sembunyi di sudut gelap penjara. “Gak tahu sih? Tapi yang kayak Tuan Ares mana mungkin mati! Soalnya, setan bakal takut mencabut nyawanya!” balas temannya itu membuat keduanya tertawa. Ares yang mendengar bawahannya itu membicarakan soal dirinya sesantai itu. Mikaela bisa memerhatikan Ares seperti sedang menahan emosinya di balik ekspresi matanya. Pria itu masih menggunakan penutup wajahnya. “Diam saja sebentar di sini sambil lepaskan jaketmu! Aku akan bereskan mereka!” bisik Ares sebagai perintah. Pria itu keluar dari persembunyiannya lalu menyerang kedua bawahannya lagi dan sebentar sja kedua orang itu sudah tumbang. “Ares, kenapa kau bisa menghajar mereka dengan mudah? Berarti, mereka payah ya?” tanya Mikaela sambil berjalan mengikuti Ares menuju ke lift. “Bukan, itu karena mereka figuran,” jawab Ares sambil masuk ke lift bersama dengan Mikaela. “Hei, kau kira ini film?” tanya Mikaela kesal. “Ingin tahu sesuatu? Aku sudah belajar bela diri sejak usia delapan tahun dan setelah itu aku terbiasa dengan kekerasan. Mereka tidak sepayah itu kok, tapi aku hapal dengan baik titik vital manusia dan melumpuhkan orang lain yang belum bersiap adalah hal yang mudah,” jelas Ares kepada Mikaela supaya tidak terlalu heran. Wanita itu hanya mengangguk mendengar penjelasan Ares. Mikaela yang bisa bela diri pun merasa insecure dan tidak ada apa –apanya dengan Ares. Sekali serang, dia pasti sudah tumbang kalau lawannya pria seperti Ares. Tak lama, mereka sampai di ruang kerja pribadi Ares. Mereka berdua langsung masuk dan Ares dengan cepat membuka PC –nya untuk meretas sistem keamanan di mansionnya sendiri. Jari pria itu bergerak dengan cepat dan menghapus semua napak tilas penyusupan mereka. Pria itu kembali ke lift meninggalkan Mikaela sendiri. “Eh, kenapa aku ditinggal?” tanya Mikaela kepada pria itu. “Dengarkan aku! Saat sudah mati lampu, cepat keluar dari sini dan langsung ke kamar utama di tempat si kembar. Tunggu saja aku di sana!” perintah Ares lalu lift tertutup begitu saja. Mikaela berkedip berkali –kali karena tidak menyangka kalau dia disuruh bergerak sendiri. ‘Akan mati lampu katanya ya? Aku harus mencari penerang!’ Mikaela dengan cepat mencari sesuatu yang bisa dia jadikan penerang untuk keluar dari ruangan ini nantinya. Mikaela juga tipikal orang yang sama sekali tidak tahan dengan kegelapan. Dan setelah mencari, dia menemukan sebuah senter kecil. Beberapa detik kemudian, lampu benar –benar mati. ‘Shitt! Kenapa gelap sekali sih? Terus bagaimana dia bisa menyusuli aku?’ batin Mikaela sangat benci dengan kegelapan begini. Tapi berulang kali wanita itu menenangkan diri, kemudian langsung berjalan keluar dari ruang kerja ini. Dia bisa keluar karena Ares sudah merusak sistemnya dan bisa terbuka tanpa perlu sidik jari atau kartu khusus. Ia melangkah sambil memerhatikan sekitar di mana para penjaga sepertinya tidak ada di sekitar sini. Jujur saja, dia heran dengan keadaan mansion ini yang seperti kosong dan tanpa penjagaan. “Ada penyusup! Bagian Selatan mansion diserang!” teriak seseorang yang dikenal oleh Mikaela suaranya. Wanita itu menutup mulutnya sendiri sambil terus berjalan menuju kamar utama di mana si kembar berada. ‘Helios! Di mana sekarang Ares berada?’ batinnya. Demi apa, jantung Mikaela berdebar tak karuan dalam keadaan ini. Tapi dia mesti tenang dan segera masuk ke dalam. Dia bisa melihat salah seorang babysitter yang berjaga setelah menidurkan salah satu dari si kembar. “Hei, kebetulan sekali! Ini bagianmu kan? Aku kembali dulu ya,” kata babysitter itu kepada Mikaela yang sudah dengan seragam maidnya. Wajah Mikaela yang tak begitu jelas membuatnya mengira kalau Mikaela pasti adalah salah satu rekannya dan ini memang sudah waktunya berganti shift. Mikaela hanya mengangguk dan membiarkan dia keluar dari kamar ini. ‘Mudah sekali!’ batin Mikaela tak percaya kalau jalannya bisa selancar ini. Tak lama, dia mendekat ke box bayi tepat si kembar diletakkan. Mikaela tak bisa melihat dengan jelas wajah kedua bayi itu tapi langsung menggendong salah satunya. “Hai sayang! Mama sudah datang! Kalian kangen sama Mama?” tanyanya kepada bayi yang sedang tertidur itu. Ia menciumi wajah kecil bayinya itu dan kemudian melakukan hal yang sama kepada yang satunya lagi. Saat ini, yang harus dia lakukan cuma satu. Menunggu sang ayah dari kedua bayi ini menyusulinya. “Kita akan tunggu Daddy kalian datang ya, Nak! Sejujurnya, Mama tidak mengerti kenapa dia ingin menculik kalian seperti ini dan bagaimana cara membawa kalian keluar dari sini. Tapi pria itu sangat pintar sehingga membuat Mama pun heran,” gumam Mikaela bicara kepada kedua bayi yang sedang tidur itu. Dia berulang kali menyenter wajah bayi yang lucu itu sambil tersenyum gemas. ‘DUAARR!!!’ Suara ledakan langsung mengalihkan perhatian Mikaela. Dia melihat cepat ke arah jendela besar dan ternyata itu berasal dari gudang di belakang mansion. Oh, Mikaela ingat kalau itu adalah ranjau yang dipasang oleh Ares tadi. Mikaela terdiam sejenak dan merasa pria itu sengaja melakukan ini untuk memancing semuanya berkumpul di sana. “Oee!!!” Bayinya langsung menangis karena terkejut dengan suara ledakan itu. Mikaela dengan cepat menggendong salah satu dan mengayunkan yang lainnya supaya bisa tenang. “Ares b******k!!” teriak Mikaela kesal karena membuat anaknya yang tadi sudah tidur tenang kini dibuat menangis. Malah dua –duanya lagi! Satu saja Mikaela sudah puyeng apalagi dua suara tangisan bayi yang menggelegar. “Wah, aku memang datang di saat yang tepat ya? Baiklah, sekarang kita gendong satu –satu lalu keluar menuju basement. Kita keluar dengan mobilku,” ajak Ares sambil menggendong salah satu anaknya yang menangis. “Sshh!! Sayang, jangan menangis dulu ya? Daddy ada di sini kok!” hiburnya dan tak lama si bayi diam seakan menurut begitu saja. Sedangkan yang di tangan Mikaela sedang menangis dan membuatnya sibuk mengayun –ayunkannya. “Ayo, cepat!” Ares meraih bahu Mikaela dan mengajaknya untuk cepat bejalan ke basement segera. Sementara itu, Helios dan para penjaga lainnya berkumpul dan melihat kalau gudang yang menjadi jalan pintas ke penjara bawah tanah sudah meledak dan banyak api yang membakar. Dua ekor anjing penjaga itu sudah dilepas dan sedikit terluka karena kelakuan Ares. Tapi Helios masih belum tahu ini perbuatan siapa. “Sial! Siapa yang berani menjadi pengacau di sini!” gumamnya kesal. “Cepat bagi kelompok dan awasi setiap bagian mansion! Dan ya! Ruangan si kembar harus dijaga ketat. Pasti orang itu mengincar anak –anak tuan Ares,” perintahnya langsung dilaksanakan para bawahan dengan cepat. Dan beberapa menit kemudian, lampu kembali menyala karena sudah diperbaiki oleh salah satu bawahan yang bekerja di sini. Helios kembali ke pintu utama dan dia dikejutkan dengan salah satu lamborgini hitam yang melaju cepat keluar dari pagar mansion. “Sial! Siapa orang itu! Cepat kejar mobil itu!” teriak Helios sehingga para bodyguard bergerak cepat menggunakan beberapa mobil untuk mengejar mobil itu yang diketahui Helios adalah milik Ares. “Tuan! Si – si kembar menghilang!” lapor seorang maid yang harusnya bertugas menjaga kedua bayi kembar itu malam ini. Helios terkejut bukan main dan merasa orang yang sedang mencari masalah dengannya. “Biar aku yang kejar si b******k itu langsung! Sial, dia pikir dia itu siapa berani bermain gila denganku?” kesal Helios sambil masuk ke Ferrari merah miliknya dan dia dengan cepat menginjak pendal gas untuk mengejar mobil yang keluar tadi. Ia menyeringai dan menghidupkan GPS. ‘Dia pasti orang bodoh! Berani sekali dia menggunakan mobil Tuan Ares yang seluruhnya dipasang GPS. Dalam sekejap, kau akan kutemukan dan aku habisi!’ batin Helios merasa mengejar mobil itu bukan hal yang terlalu sulit. Tapi sayang, orang yang dihadapinya memang sosok yang sangat gila dan Tuannya sendiri. Helios belum sejauh itu berpikir dan merasa kalau yang mencari masalah di sini adalah salah satu dari orang yang sangat haus akan harta milik Ares. Mereka akan menggunakan kedua bayi kembar itu sebagai sandera untuk mempermainkan Helios. “Aku tidak akan mengingkari janjiku, bahkan rela mengorbankan nyawaku demi keselamatan si kembar! Aku tidak akan biarkan siapa pun melukai kedua anak Tuan Ares!” gumamnya sambil terus mengarungi jalanan dan mengikuti ke mana mobil itu sekarang. Dan ya, mobil itu akhirnya berhenti di satu titik yang semakin dekat dengannya. ______ Kejar-kejaran~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN