Not Over!

2150 Kata
“Oke, kita turun di sini.” Ares langsung keluar dari mobil dan dengan cepat membantu Mikaela keluar dari mobil sambil menempelkan sesuatu di mobil miliknya yang dia ambil dari mansion tadi. “Ares, jangan ajak aku lari –lari! Aku mengendong dua bayi!” kata Mikaela sambil memastikan dia berhati –hati dengan kedua bayinya. Tak lama, ada mobil lain lagi yang sudah disiapkan oleh Ares sebelumnya lalu mereka berdua masuk ke dalam dan segera bergegas melanjutkan perjalanan. “Maaf, tapi waktu kita hanya lima menit sebelum mobil itu meledak,” kata Ares kepada Mikaela yang kini duduk di sebelahnya. Untung saja si kembar sudah lebih tenang daripada tadi dan Mikaela masih kuat menggendong dua bayi di kanan dan kirinya. Dan ini sudah saatnya Mikaela bersandar untuk beristirahat mental dan tenaganya karena kegilaan Ares malam ini. “Anak –anak! Dia memang gila! Sungguh!” dumel Mikaela kepada si kembar sehingga Ares terkekeh mendengarkannya. Mikaela memerhatikan jalan yang mereka lalui dan merasa ada yang aneh dengan tempat tujuan mereka. Harusnya, jalan ke hotel tempat mereka menginap bukan di sini. “Ares, kita mau ke mana?” tanya Mikaela. “Ke Cambridge,” jawab pria itu sambil terus fokus melajukan mobil dengan kecepatan yang standar. Di sisi lain, seseorang turun dari Ferrari miliknya lalu melihat mobil milik Ares yang terparkir di depan tanak kosong. Semua mobil bodyguard sudah mengepung tapi Helios memberi isyarat untuk tidak mendekat terlebih dulu. Dia melangkahkan kakinya lalu matanya terbelalak melihat ada sebuah bom yang ditempelkan di situ. Segera saja dia berteriak memberi peringatan kepada semua rekannya. “Menjauh! Ada bom!!” teriaknya lalu berlari sejauh mungkin sebelum berakhir sepuluh detik terakhir yang tertera di situ. Dan kemudian- ‘DUARR!!’ Suara ledakan terdengar dan Helios bahkan terjatuh karena terkejut dengan ledakan itu. Ia memerhatikan kalau mobil itu memang sengaja ditinggalkan lalu diledakkan oleh orang yang menculik anak –anak dari Ares. Pria yang selama ini selalu menjadi tangan kanan juga bayangan Ares tak habis pikir dengan betapa gilanya orang yang bermain dengan dia dan sampai melibatkan bayi yang masih tak berdaya. Helios terdiam sementara dan mencoba memikirkan soal siapa yang mungkin saja tersangka di sini. ‘Siapa? Aku sudah mendengar kedatangan Marcel ke sini. Aku tidak bisa menebak pasti apa tujuannya, tapi kalau dia mau menantangku, akan aku ladeni!’ batin Helios menuduhkan semua ini kepada Marcel. Rasanya memang sangat tidak mungkin kalau Ares yang berbuat begini terlebih lagi sangat membahayakan kedua bayinya. Tapi sayang, Helios lupa kalau bosnya itu memang kurang waras. Dan memang ini lah tujuan Ares yang akan membuat Helios semakin siaga terhadap dua orang yang ingin melawan mereka. “Cepat cari tahu di mana orang itu membawa lari si kembar! Dapatkan info sebanyak –banyaknya dan kita akan buat perhitungan dengannya!” titah Helios kepada semua bawahannya dan langsung dibalas kesiapan oleh semuanya. Sekarang, dia tidak bisa mengejar penculik anak itu. Dia berharap yang terbaik tapi tetap berjuang untuk menemukan kedua anak tuannya itu. Dia menghubungi polisi supaya bisa menemukan jejak dari penculik itu. Tapi dia akui, ini cukup sulit seakan semua ini sudah diatur oleh seseorang yang sudah sangat. Ahli. Namun Helios yakin kalau tidak ada yang tak mungkin. Dia mesti berjuang keras supaya tidak mengecewakan Ares. *** Mikaela menatap tak percaya melihat tempat di mana dirinya berdiri saat ini. Tempat yang sudah lama tidak dikunjunginya. Sudah bertahun –tahun sejak terakhir kali dia bertemu dengan pemilik apartemen ini dan sekarang orang itu sudah tiada. Dia menoleh ke arah pria yang sedang menggendong salah satu bayi mereka dan pria itu tersenyum kepadanya. “Kita akan tinggal di sini?” tanya Mikaela kepada pria itu dan dibalas anggukan oleh empunya. “Tapi… bagaimana kamu tahu password apartemennya?” tanya Mikaela lagi. “Oh, itu mudah! Dia menjadikan tanggal lahirmu sebagai kata sandinya. Aku sudah menyuruh salah satu orangku untuk mencari tahu. Ayo, kita letakkan si kembar ke kamar mereka.” Ares mengajak Mikaela dengan masuk lebih dulu. Pria itu sudah menyiapkan dua box bayi di kamar utama yang diketahui Mikaela sebagai kamar pemilik sebelumnya. “Hei, kapan kau menyiapkan semua ini?” tanya Mikaela lagi dengan penuh keheranan. “Saat kita akan pergi ke Boston! Kita memang akan tinggal di sini, di apartemen milik adikku untuk menjalankan rencanaku. Rencana yang aku namakan William Simon,” jawab Ares menambah keheranan di pihak Mikaela. Rencana macam apa itu? Pria di hadapannya ini memang penuh misteri dan agak gila. Tapi mau bagaimana lagi, Mikaela hanya bisa mengikuti permainan yang sudah disiapkan oleh Ares. “Oee!!” Suara tangisan salah satu bayi mengalihkan fokus Mikaela. Ia segera mungkin menggendong si kecil yang menangis dan wanita itu terkejut. “Oh, astaga! Dia ngompol! Ares, apa kau punya popok, tisu basah, bedak bayi dan s**u? Aku mesti membersihkannya! Ah, iya! Baju ganti juga!” pinta Mikaela kepada pria itu. Ares langsung dengan cepat mencari benda –benda itu yang dia yakin pasti sudah disiapkan oleh bawahannya. Seperangkat alat –alat untuk bayi. Dan yang benar saja, semua sudah disediakan dan juga baju ganti untuk anak mereka. ‘Oh, iya! Yang ngompol siapa ya? Raphael atau Haniel? Aku kan jadi bingung milih bajunya? Ah, yang netral saja lah!’ batin Ares dengan sigap segera kembali kepada Mikaela dan membawakan semuanya. Mikaela menerima semuanya dan dengan segera membersihkan bayinya yang mengompol lalu mengganti bajunya. Sudah lama sejak terakhir kali Mikaela punya bayi. Saat itu pun, dia dibantu oleh mertua dan juga kakak iparnya untuk mengurus Selena. Jujur saja, Mikaela cukup kesulitan untuk mengurus anak lagi karena dia belum terbiasa. Tapi Ares langsung cepat membersihkan si bayi perempuan itu lalu memakaikan bajunya setelah Mikaela selesai memberi popok kepada Haniel. “Kenapa kamu terlihat kaku? Sampai keringatan lagi?” heran Ares kepada Mikaela yang terlihat kesulitan hanya mengurus bayi yang mengompol. “Ma –maaf! Tapi aku ini memang payah.” Mikaela menundukkan kepalanya malu di hadapan Ares karena sama sekali tidak terlatih. Ares menatap heran kepada wanita itu sambil mengayun –ayunkan Haniel supaya tertidur lagi. “Kaela… kenapa melamun? Cepat buat s**u untuk Haniel,” kata Ares membuat wanita itu dengan cepat langsung membuatkan s**u untuk putrinya. Untung saja kalau membuat s**u masih bisa dia lakukan dengan baik. Dia sangat malu karena dulu dia tidak mengurus Selena dengan sepenuhnya. Mikaela hanya menyusui lalu menidurkan Selena saja. Setelah selesai, dia kembali lalu memberikan dodot bayi kepada Ares Pria itu menerimanya lalu memberi s**u kepada Haniel sampai akhirnya Haniel tertidur. Dia melihat putri cantiknya itu tertidur dan meletakkannya kembali ke box bayi. Melihat Ares yang sangat terlatih dalam mengurus anak, jujur saja Mikaela merasa sangat kagum. “Bagaimana bisa?” tanya Mikaela kepada pria itu. “Bagaimana? Aku memerhatikan para perawat dan mereka melakukan itu. Terkadang, aku melakukannya sendiri supaya tahu caranya. Dan kamu, kenapa langsung panik sekali saat Haniel mengompol?” Ares menjelaskan lalu diakhiri dengan pertanyaan lagi. “Aku ini memang payah, Ares! Dulu mertuaku yang lebih banyak merawat Selena, terkadang juga Kak Anye karena mereka takut kalau aku yang megang nanti gimana –gimana. Akhirnya jadi begini deh,” jawab Mikaela benar –benar malu karena tidak bisa mengurus anak. Dia seorang ibu, tapi karena terlalu manja dia mengharapkan orang lain untuk menjaga bayinya dan dia hanya terima bersih saja. Mikaela memandang kedua bayi kembarnya di kedua box tempat mereka tidur. Ia sungguh merasa bersalah kepada kedua bayi kecilnya itu. Sungguh Mikaela bukan predikat ibu yang baik. Semua kenyataan itu benar –benar menampar habis seorang Mikaela. Tapi Ares mengelus surai Mikaela dengan lembut sehingga empunya menoleh. “Sudah lah! Mungkin, ini kesempatanmu untuk belajar menjadi ibu yang bai dan lebih memerhatikan anaknya,” ujar pria itu. Saat ini, Mikaela sungguh merasa kalau yang di sebelahnya ini bukan Ares tapi Willy. Air matanya berderai tanpa dia sadari sehingga itu membuat Ares jadi panik sendiri. “Eh? Kamu kenapa menangis?” Ares panik. ‘Hikss! Kamu kenapa sama dengan Willy sih? Dulu saat praktek tentang cara mengurus bayi dengan infant simulator, Willy juga sangat pandai. Sejak awal aku ini memang payah ya?” Mikaela benar –benar merasa kecil hati kalau mengingat soal semua itu. Si kembar Ares dan Willy ini ternyata masih ada persamaannya walau mereka berdua bagaikan gelap dan terang. “Hei! Jangan begitu! Kamu terus bilang kalau kamu ini payah! Kamu tidak seperti itu kok! Aku juga awalnya tidak tahu apa –apa. Tapi yang penting mau belajar kan?” hibur Ares membuat Mikaela terharu dan wanita itu langsung memeluk Ares. Dia benar –benar terhibur kala Ares bilang dirinya pasti bisa kalau mau belajar. “Iya! Aku akan memberi kasih sayang yang sepenuhnya dan juga lebih sesungguhnya kepada si kembar! Mohon bantuannya!” Mikaela berujar yakin dan mendengar itu Ares tersenyum dan tanpa ragu menganggukkan kepalanya kepada Mikaela. Pria itu sangat senang karena saat ini Mikaela memang terlihat sangat membutuhkan dirinya. Setelah selama ini Mikaela hanya menganggap dia sebagai sosok yang dibenci dan juga b******k, ada pula saat di mana dia menjadi orang yang menjadi kekuatan bagi Mikaela. Ares senang dan akan terus berusaha supaya Mikaela juga mau membuka hati untuknya suatu hari nanti. Tak lama, Mikaela tersadar kalau saat ini dirinya sedang memeluk siapa dan segera saja dia melepas pelukannya dan menatap Ares dengan mata terbelalak. Ini di luar dugaannya. “Eumm… maaf! Aku harus membersihkan diri dan istirahat! Bajuku sudah disediakan di sini?” tanya Mikaela memastikan. Ares mengangguk dan langsung saja Mikaela beranjak dari pria itu. Ares terus tersenyum memandang punggung wanita itu. Tak lama, Mikaela berbalik dan tatapan mereka kembali bertemu sehingga Mikaela jadinya salah tingkah. Wanita itu segera membuka lemari dan mengambil pakaian wanita untuk segera mandi. Ia menghidupkan shower dan memulai mandi sambil menenangkan pikirannya. Hari ini cukup banyak kejutan yang di luar dugaannya. Pertama keberadaan Marcel dan Michelle lalu dengan fakta kalau mereka berdua ternyata berselingkuh. Kedua, dia menculik anaknya sendiri dari penjagaan Helios yang sudah aman dan tentram. Tapi memang, saat ini dia memang sangat ingin menggunakan kesempatan untuk merawat anak- anaknya secara langsung. “Kenapa aku jadi merasa nyaman dengan si gila itu ya? Ah, apa aku juga bakal ikutan gila?” gumam Mikaela di tengah pemikirannya. Kalau dipikir, cara hidup Ares memang unik dan cukup menantang. Tapi itu benar –benar membuat Mikaela sampai jantungan setengah mati. Yang tadi itu memang sangat gila. Aksi menculik anak sendiri berhasil membuat jantungnya berpacu tapi entah kenapa rasanya sangat menyenangkan. Ini sesuatu yang menantang luar biasa. “Ini mungkin belum seberapa. Pasti akan ada kelanjutan yang lebih gila lagi,” monolognya sambil melanjutkan acara mandi.Setelah selesai, dia dengan cepat mengenakan pakaiannya lalu kembali ke kamar si kembar. Ares sedang sibuk dengan si bayi laki –laki dengan memberikannya s**u. “Sudah tidur?” tanya Mikaela diangguki oleh Ares. “Oh iya, kamu tidur di sini saja ya? Aku akan di sofa yang di situ. Ya, karena takutnya kamu kewalahan saja kalau sampai anak –anak akan menangis tengah malam nanti.” Ares memberi tahu sambil menunjuk ke sebuah sofa yang cukup panjang dan lebar untuk dia berbaring. “Terima kasih sudah mau membantuku,” ujar Mikaela dibalas senyuman oleh Ares. Wanita itupun dengan segera berbaring di tempat tidurnya sambil memikirkan kalau saat ini dia sedang berada di zona nyamannya. Ada Ares yang melindungi dia dan dia percaya kepada pria itu. Ares cukup bisa diandalkan bahkan untuk mengurus anak –anak. Dan ya, Mikaela pun terlelap karena sudah merasa cukup lelah melalui hari yang cukup panjang ini. *** “Oeee!! Oee!!” Suara tangisan bayi yang begitu deras membuat Mikaela terbangun. Ia berusaha berdiri dan melangkah untuk menghampiri anaknya yang sedang menangis. Dan lebih ajaibnya lagi, ternyata kedua bayi itu menangis bersamaan. Mikaela dengan segera mengayunkan mereka berdua karena bingung mau menenangkan yang mana dulu. “Shh… tenang ya sayang! Bentar dulu! Mama lihat Raphael dulu,” kata Mikaela lalu meraih Raphael kecil yang ternyata mengompol. Dia melirik Haniel dan takut kalau anaknya yang satu lagi malah akan masuk angin kalau dia biarkan begitu saja. “Iya sebentar dulu!” Cukup panik tapi Mikaela mengeluarkan Raphael dan meletakkannya di kasur untuk diganti pakaiannya. Dia melirik ke arah perlengkapan yang sudah tersedia dan dengan cepat membereskan putranya terlebih dahulu. Dia tak terpikir untuk membangunkan Ares karena ingin menyelesaikan semua ini sendiri. ‘Aku pasti bisa!’ yakin Mikaela lalu menggendong Raphael yang sudah selesai dia bereskan dan hanya tinggal memberi s**u kepada Raphael. Saat akan melangkah ke dapur membuat s**u, Mikaela teringat kalau harusnya dia masih punya ASI. Perlahan, Mikaela membuka kancing blazer yang dia pakai lalu duduk untuk menyusui Raphael. “Kaela, kenapa kamu tidak membangunkan aku? Astaga, Haniel sedang menangis kenapa dibiarkan?” tanya Ares membuat Mikaela langsung berbalik. Dia sedang menyusui dan akan sangat malu kalau Ares melihatnya saat ini. “Te –tetap di situ dan tenangkan Haniel! A –aku sedang memberi s**u kepada Raphael supaya dia tenang!” pinta Mikaela membuat Ares diam di tempatnya lalu kembali fokus untuk mengurus Haniel yang terbangun karena suara tangisan saudaranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN