Another Side

2203 Kata
Raphael sudah tertidur dengan lelap setelah sang ibu menyusuinya. Suara tangisan Haniel juga tak terdengar lagi. Mikaela tersenyum lega setelah berhasil menidurkan Raphael dan langsung menutup kembali bajunya. Ia berbalik untuk menaruh Raphael ke box bayinya. Tapi saat berbalik, dia melihat Ares masih menggendong Haniel yang ternyata belum tertidur walau tangisannya sudah berhenti. Di tengah malam begini, Haniel terbangun mungkin karena merasa haus. “Dia tidak ngompol atau sejenisnya. Dia mungkin lapar. Maukah kamu memberinya makan juga?” tanya Ares sambil menyerahkan Haniel kepada Mikaela. “Tentu saja! Untung saja, ASI –ku masih lancar setelah cukup lama berpisah dari mereka. Haniel sayang… kamu tidak akan pernah lapar lagi karena ada Mama di sini,” ujar Mikaela sambil menggendong bayi kecilnya itu. Wajah Haniel yang cantik dan sangat mirip dengannya membuat Mikaela sangat gemas. Haniel memang benar –benar putrinya. Dia memang sangat salah menyingkirkan kedua bayi ini dari hidupnya waktu itu. Tapi setelah ini, dia tidak akan membiarkan ketiga anaknya menjauh. “Terima kasih!” ungkap Ares kepada Mikaela sambil tersenyum. “Sama –sama! Kau …kembalilah istirahat! Pasti sudah banyak hal yang kamu kerjakan. Terima kasih juga sudah membantu aku mengurus si kembar. Tanpamu, aku pasti kewalahan,” balas Mikaela. “Aku sama sekali tak keberatan kalau untuk anakku!” ungkap Ares dengan penuh ketulusan diangguki oleh Mikaela. Setelah itu, Mikaela duduk di pinggiran ranjang dan berbalik untuk menyusui putrinya. Ares juga kembali ke sofa untuk istirahat lagi karena besok dia ingin melanjutkan hari. Sembari menyusui Haniel, Mikaela sama sekali tidak berhenti tersenyum. Dia melihat sisi lembut Ares terhadap kedua anaknya. Pria itu benar –benar sangat ke-ayahan di balik sikap gilanya yang keterlaluan pula. Mikaela tahu, di balik sisi gelap juga ada sisi terang. Tidak selamanya orang jahat akan terus begitu! Semakin mengenal Ares, rasa kesal dan bencinya di masa lalu perlahan pudar. ‘Apa? Apa yang sebenarnya aku rasakan ini?’ batin Mikaela mulai merasakan dilema luar biasa. Tapi tak lama, Haniel menyelesaikan minumnya dan membuat sang ibu tersadar. Mikaela segera membereskan pakaiannya dan mengembalikan Haniel untuk tidur di box bayinya. Saat meletakkan Haniel, sekilas dia melirik Ares yang tertidur di sofa dan tanpa sadar dia melangkah mendekat ke arah pria itu. Wajah pria itu memang selalu membuatnya rindu kepada mantan kekasihnya yang paling indah dalam hidupnya. Kali ini, Mikaela mengikuti nalurinya dan duduk di sebelah Ares. Ia mengangkat tangannya ke wajah Ares dan tiba –tiba pria itu membuka matanya. Mikaela terkejut dan lalu diam. Ares juga heran kepada Mikaela yang tiba –tiba ada di sini, tepat di sebelahnya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Ares membuat Mikaela bingung sendiri. Tak lama, dia melayangkan sebuah tamparan yang cukup kuat dan mengejutkan Ares. “I –itu ada nyamuk!” alasannya dan langsung berdiri kemudian berbalik untuk menghindari Ares. Wanita itu benar –benar salah tingkah tak ada habisnya karena apa yang dia lakukan malam ini. Sementara itu, Ares memegang bekas tamparan Mikaela dan terus memerhatikan wanita itu yang sudah berbaring di kasur. Ares terus berpikir mengenai alasan Mikaela. Nyamuk? Mana mungkin di apartemen sebagus ini ada nyamuk? Ada –ada saja! Alasan yang sangat klise! ‘Apa Mikaela mau membalasku? Apa dia terlalu geram padaku selama ini dan mencari kesempatan untuk mencoba balas dendam sedikit demi sedikit?’ pikir Ares sangat jauh dari fakta. Otaknya hanya penuh dengan konspirasi dan tidak bisa paham hal lainnya lagi. Dia sama sekali tidak paham kalau Mikaela sudah mulai terbawa perasaan kepadanya. “Harusnya kau sedikit bersabar untuk menyerangku, Kaela. Balas dendam kita masih panjang!” gumamnya lalu melipat tangannya dan kembali tidur di sofa. Dan biarlah malam yang sudah masuk ke subuh itu berlalu dengan tenang di antara keduanya. *** Matahari pagi menyinari langit pagi dan orang –orang terbangun karena diterpa oleh sinarnya. Mikaela juga terbangun dan mulai mendudukkan badannya. Ia melirik ke arah box kedua bayinya dan perlahan bangkit untuk memastikan keduanya sedang dalam keadaan baik –baik saja. Wanita itu tersenyum dan mulai melangkahkan kakinya menuju ke dapur untuk membuat sarapan. Tapi saat keluar, dia tersadar kalau ada satu orang lain yang menghilang dari sini. ‘Eh? Ares ke mana ya?’ batinnya lalu melirik tempat pria itu berbaring tadi malam. Tidak ada! Tentu saja ini membuat Mikaela kecarian. Dia mencari ke seluruh apartemen dan tetap saja pria itu tidak dia temukan. Rasa khawatir mulai mendera Mikaela karena takut kalau pria itu meninggalkannya di saat seperti ini. “Ares! Ke mana kau? Apa aku ditinggalkan di tengah –tengah rencana ini? Atau kau sudah muak karena aku bilang hanya ingin memanfaatkanmu?” gumamnya mulai merasa takut. Pasalnya, dia sendiri di Cambridge dan tidak ada yang bisa dia mintai tolong setelah ini. Mikaela benar –benar terlihat kebingungan setengah mati. “Ares! Kau kenapa pergi sih?!” teriaknya kesal setengah mati. “Apa? Pergi? Aku hanya sebentar tadi jogging.” Suara itu mengalihkan perhatian Mikaela sehingga wanita itu berbalik. Terlihat seorang pria yang mengenakan jaket jogging dan mengelap peluhnya dengan handuk kecil. Ares hanya pergi sebentar untuk olahraga pagi. Mikaela yang terlalu berlebihan ternyata! “ Oh! Aku… hanya ingin bertanya bagaimana soal makanan? Aku tidak bisa masak!” Mikaela langsung beralasan untuk menjaga nama baiknya. Wanita itu bersidekap d**a dan buang muka dari Ares. “Kebetulan, aku juga tadi sudah beli kok! Jangan khawatir kalau ada aku,” jawab Ares dengan santainya sambil memberikan bungkus kertas yang isinya adalah sarapan mereka. Pria itu meletakkannya di meja makan, lalu Mikaela mengikuti pria itu untuk duduk bersama. ‘Aku ini kenapa sih? Rasanya sangat takut ditinggalkan. Apa karena sudah berulang kali aku kehilangan orang yang aku sayang? Jujur, aku memang sama sekali tak mau kehilangan siapa pun lagi. Cukup Willy dan Papa!’ batin Kaela sambil memandang kosong di depannya. “Kaela, kamu melamunkan apa?” tanya Ares dengan lembut. ‘Bukan apa –apa! Aku mau makan!” Mikaela mengalihkan perhatiannya dan dengan cepat melahap sarapannya. Dia juga mengambil s**u yang dibeli Ares lalu menenggaknya sampai habis. Kalau pikirannya sedang kacau, Mikaela jadi sering bertingkah aneh. Kadang makannya jadi tak terkendali dan kadang juga tidak mau makan. Ares hanya diam dan memerhatikan tingkah Mikaela dan memilih diam. Dia tahu, saat ini pikiran Mikaela masih sangat jauh dari kata stabil itu sendiri. Dia ingin memberi waktu lebih banyak lagi kepada Mikaela supaya wanita itu bisa benar –benar tenang dan bisa berpikir lebih baik. “Ares, aku mandi dulu ya?” Mikaela beranjak dan diangguki oleh Ares. Sementara menunggu Mikaela selesai mandi, Ares ke kamar dan melihat kedua anaknya yang masih sangat lelap. Pria itu tersenyum hangat sembari mengayun –ayun box bayi si kembar. Tadi memang dia bangun lebih dulu dan tidak mau mengganggu Mikaela. Pria itu sudah terbiasa mengawali hari dengan olahraga pagi supaya tetap menjaga kesehatan fisiknya. Ya, walau mentalnya masih sangat jauh dari kata sehat. Setidaknya, tidak rusak keduanya. “Ares, bisa jelaskan padaku apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Mikaela yang sudah selesai dengan acara mandinya. “Tinggal sembilan hari lagi! Aku butuh bantuan kamu untuk membuat rencana ini sempurna! Nama rencana ini adalah William Simon, yang artinya aku akan menggantikan peran adikku lalu menghadap mereka semua. Helios, Marcel, Michelle dan semua dewan petinggi bisnisku,” jawab Ares membuat Mikaela terbelalak. Dia tak menyangka! Ternyata, ini lah yang direncanakan oleh Ares. Lebih gila daripada yang dia tebak. ‘Aku pikir, dia ingin menunjukkan dirinya sendiri kepada semua orang kalau dia tidak –benar mati. Ternyata, dia ingin menjadi orang mati!’ batin Mikaela yang merasa kalau rencana Ares sangat jauh dari akal sehat. Tapi kalau yang waras, bukan rencana Ares. “Ha… ha! Kau memang benar –benar gila ya? Kenapa tidak jadi diri sendiri saja?” tanya Mikaela sambil tertawa sarkas. Ares tersenyum santai dan sudah menduga kalau rekasi Mikaela akan seperti ini. “Kenapa? Pertama, aku ingin membuat Marcel dan Michelle terlihat seperti orang gila saat rapat nanti dan kedua aku tidak perlu kesulitan mesti membalik nama karena bisa saja ada pertentangan soal identitasku. Menggunakan nama adikku dan identitasnya adalah cara terbaik,” jawab Ares dengan alasan yang benar –benar kompleks yang dia yakini tidak akan yang bisa menjatuhkannya lagi setelah ini. Rencana yang memang benar –benar membuat semua yang terlibat di dalamnya menjadi gila. “Masuk akal walau agak gila. Baiklah, tapi kamu butuh bantuan seperti apa dariku? Bukannya kamu kenal adikmu sendiri?” tanya Mikaela lagi. “Tidak sebaik dirimu! Walau aku adalah saudara kembarnya, yang aku tahu dia adalah orang baik yang suka memasak dan pandai bernyanyi. Dia meniru ibuku dengan baik dan aku seperti ayahku. Jadi, ceritakan apa saja yang sering dilakukannya dan juga kebiasaannya,” jawab Ares lalu diangguki oleh Mikaela. Ini alasan kenapa Ares melakukan semua ini, bahkan sampai memilih tinggal di apartemen milik mendiang adiknya. Untuk memaksimalkan aktingnya dan membuat siapa pun tidak bisa menyangkal kebohongan gilanya. ‘TING –TONG!’ Suara bel apartemen mengalihkan perhatian mereka berdua. “Biar aku yang bukakan! Itu adalah orang panggilanku!” ujar Ares lalu berjalan membukakan pintu. Saat pintu terbuka, seorang wanita paruh baya dengan seragam yayasan perawat datang. “Selamat pagi, Tuan!” ujar wanita paruh baya itu kepada Ares. “Sudah datang ya? Baiklah, saya akan titipkan anak –anak kepadamu hanya siang ini saja, karena ingin keluar sebentar,” kata Ares sebagai perintah kepada perawat bayi itu. “Siap Tuan! Saya akan menjaga anak anda dengan baik!” katanya dengan sangat meyakinkan. “Ya! Kau harus memastikannya! Kalau sampai terjadi sesuatu pada anakku, kau akan kehilangan nyawamu!” ujar Ares dengan sangat mengerikan seketika membuat bulu kuduk wanita itu merinding. Rasanya, pria di hadapannya ini sama sekali tak main –main dengan ancamannya. Lagipula, dia juga sama sekali tidak ada niatan buruk karena ini memang pekerjaannya. “Saya akan lakukan yang terbaik!” Dia membungkukkan badannya sebagai bentuk persetujuannya. Ares mengangguk singkat lalu mengizinkan wanita itu masuk ke dalam. Mikaela yang sedang di kamar bersama si kembar agak terkejut melihat seorang babysitter datang ke sini. “Ares, kenapa kamu panggil babysitter?” tanya Mikaela. “Karena aku ingin banyak bertanya padamu dan sedikit berkeliling di sini untuk semakin mendalami peranku sebagai Simon,” jawab Ares lalu menarik tangan Mikaela untuk ikut bersama dengannya. “Kami akan kembali Baby!” ujar Ares ke arah kedua bayi yang masih terlelap itu. Kini, mereka berdua keluar dengan santainya dari apartemen milik Willy. Ares ingin Mikaela memberi tahu apa saja yang sering dilakukan oleh adiknya dan tempat mana saja yang sering dikunjungi Willy. Dia juga perlu sedikit fokus bicara dengan Mikaela supaya wanita itu juga bisa terbiasa dengan akting dengan menganggap dirinya sebagai Willy. “Sejauh yang aku ingat, Willy selalu datang ke kampus tepat waktu. Saat pulang, dia suka belajar di taman. Ketika kami pacaran pun, dia suka ajak aku ke taman hanya untuk piknik sederhana. Dia tidak suka sesuatu yang mewah dan cenderung bersahaja.” Mikaela memulai ceritanya sambil memandang bangunan Harvard dari kejauhan. Ia tersenyum tipis, karena di balik bangunan yang bisa dibilang tua itu, banyak sekali kenangan yang sangat bermakna buat wanita itu. “Lalu… apa lagi yang kamu ketahui dan perbedaan yang mencolok dari kami berdua?” tanya Ares lagi. “Yang paling mencolok adalah cara bicara kalian dan caramu menatap. Willy selalu menatap sekitarnya dengan penuh kehangatan, sedangkan kau sangat dingin dan tampak kejam. Lalu, cara bicara Willy juga sangat lembut juga penuh respek kepada siapa pun,” jawab Mikaela seadanya. Ares mengangguk kecil karena setelah ini dia mesti bekerja keras dalam waktu sembilan hari supaya bisa terlihat seperti adiknya. Ares memang tidak ingin menjadi adiknya, tapi hanya terlihat saja. “Kenapa diam, Ares? Susah ya?” tanya Mikaela sambil memberikan tatapan mengejek kepada pria itu. “Tidak! Jangan remehkan aku!” balas Ares percaya diri sehingga Mikaela terkikik. “Hei? Apa kau pandai bernyanyi?” tanya Mikaela lagi penasaran. Sepanjang yang dia ingat, Ares sama sekali tak pernah melantunkan lagu. “Tidak! Suaraku sangat datar dan terdengar bodoh. Tidak ada nada dan akan membuat telingamu rusak!” Ares jujur saja. “Hahahahaa!” Mikaela tak bisa menahan tawanya karena mendengar kejujuran dari Ares soal kemampuan bernyanyinya yang sangat menyedihkan. Kalau Willy, sudah pasti suaranya enak didengar sehingga Mikaela merasa nyaman dan sering meminta pria itu bersenandung buatnya. Dan setelah mengetahui kualitas suara seorang Ares, jelas saja Mikaela tidak mau mencoba –coba menyuruh Ares untuk bernyanyi. “Ya, silakan ejek saja! Setiap orang ada kelebihan dan kekurangannya. Se- sempurna apapun adikku di matamu, tetap saja dia juga punya kelemahan.” Ares sedikit kesal karena Mikaela mengejeknya. “Satu –satunya kelemahan Willy hanya penyakitnya! Dan setelah itu, dia sangat sempurna! Hah… tapi semua itu sudah berlalu. Sekarang, hanya ada imitasinya saja,” balas Mikaela membuat Ares makin tersinggung. “A- apa? Imitasi?” tanyanya tak percaya. Bagaimanapun, William Simon adalah kembarannya dan itu terdengar sangat menyebalkan. “Maaf … maaf! Abaikan saja! Baik, kita lanjut ke tempat lain yang paling sering dia kunjungi.” Mikaela memilih mengalihkan topik lalu mengajak Ares untuk melanjutkan perjalanan mereka. Kebetulan, mereka hanya berjalan kaki, karena lokasi yang sering dikunjungi Willy tidak pernah jauh –jauh dari apartemennya. Kampus, taman, café dan yang terakhir… “Gereja?” tanya Ares saat Mikaela berhenti tepat di depan sebuah bangunan tua dengan lambang salib besar yang ada di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN