It Can't Be

2360 Kata
Ares mengerjapkan matanya berkali –kali lalu melirik Mikaela yang tersenyum mengejek di sebelahnya. Oh, pria itu benar –benar merasa dikerjai habis –habisan oleh Mikaela. Pria itu ingat kapan terakhir kali dia masuk ke tempat ibadah seperti ini dan itu pun karena demi meyakinkan Mikaela soal peran abal –abalnya menjadi William Simon saat menipu Mikaela dulu. “Kenapa? Kamu juga pernah masuk denganku waktu itu. Mungkin nanti beberapa mata –mata akan mengawasi kamu kan? Jadi coba saja masuk dan berdoa di dalam sana,” kata Mikaela masih dengan tatapan mengejeknya. “Ha… haha. Jangan bercanda Kaela. Kau ingin tahu sebuah fakta tentangku?” tanya Ares. “Fakta apa lagi selain kau gila?” Mikaela penasaran. “Aku ini ateis,” bisik Ares membuat Mikaela menatap horror pria yang yang ada di sebelahnya itu. Apa ini? Kembaran dari William Simon yang sangat percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa malah benar –benar memiliki tingkah yang sangat berbeda dengan kembarannya. Sampai seratus delapan puluh derajat malah kalau soal kepercayaan. “Kenapa bisa begitu? Kau ini hidup karena ada campur tangan Yang di atas!” Mikaela tidak terima Ares bicara demikian yang bisa sedikit dibilang rasis. Untung saja saat ini mereka di Amerika dan soal kepercayaan sama sekali tidak pernah dipertanyakan dan dianggap sebagai privasi setiap orang. Ateisme sudah terlalu menyebar luas dan hal itu sudah bukan rahasia lagi. “Kaela, sudah ya? Baik, aku akan coba masuk ke sini saja dan berpura –pura jadi sosok manusia terang kan? Nanti akan aku lakukan di hari Minggu. Apalagi yang sering dilakukan adikku?” Ares malas kalau sudah membicarakan soal ini dan lebih suka mengalihkan pembicaraan. “Baiklah… Willy juga sering ke perpustakaan dan suka sekali membaca buku,” jawab Mikaela memilih mengikuti saja pembicaraan Ares. Mikaela terlalu malas berdebat dengan Ares soal keyakinan. “Oh, itu sangat sama denganku. Aku suka sekali membaca buku. Oke, aku bisa kalau yang itu. Hmm… ini sudah jam makan siang. Kita ke café dulu yuk!” ajak pria itu. Ya, mereka berjalan –jalan di sekitar sini dan tak terasa kalau waktu berjalan dan hari sudah siang saja. Mereka berdua ke sebuah café lalu memesan makanan untuk mereka. Mikaela memerhatikan tempat ini dan dulu dia sering ke sini kalau untuk makan dengan Willy. Benar –benar semua kenangan itu terasa nyata buat Mikaela. “Hello! William? Lama tidak bertemu ya!” ujar seorang wanita paruh baya di hadapan Ares. Kali ini, pria itu terkejut lagi karena mesti bertemu dengan orang –orang yang dikenal oleh adiknya. “Oh! Lama juga tidak bertemu dengan anda,” balas Ares se –ramah mungkin dengan senyuman yang berusaha dia buat. Mikaela hanya terdiam kala salah satu mantan dosen dari Willy menghampiri mereka di sini. “William, bagaimana kabarmu sekarang? Terakhir kali, kamu menolak tawaran untuk menjadi Proffersor di Harvard. Dan ini Cassie kan? Kalian sudah menikah?” Sang dosen malah banyak tanya sehingga Ares bingung sendiri. ‘Tapi ini adalah latihan kan? Aku harus coba!’ pikir Ares harus bisa menjadi sosok adiknya tanpa celah sedikit pun. “Saya baik dan saat ini saya sedang fokus dengan bisnis keluarga. Dan lagi, saya dan Cassie kami… memang sudah menikah!” jawab Ares dengan penuh semangat lalu meraih tangan Mikaela untuk digenggamnya. “Wah! Selamat ya! Mahasiswa terbaik sepertimu juga mendapatkan wanita se –cantik Cassie, kalian cocok sekali. Kamu pasti akan membawa siapa pun ke jalan yang benar ya!” puji dosen itu diangguki saja oleh Ares. “Baiklah, saya pamit dulu ya? Ada beberapa kelas lagi setelah ini. Saya memang baru saja selesai makan siang. Sampai jumpa lagi William!” pamit sang dosen lalu beranjak dari duduknya. “Ya… sampai jumpa lagi…” Ares bingung mau menyebut nama wanita paruh baya itu. Kemudian, dia melirik Mikaela yang berisyarat lewat mulutnya untuk memberi tahu siapa nama dosennya itu. Ares tersenyum karena bisa menangkap dengan baik maksud dari Mikaela. “Ma’am Anna!” sambut Ares lagi dan dibalas lambaian tangan oleh dosennya itu. Setelah Ma’am Anna pergi, Ares dan Mikaela menghela napas lega. “Wah… syukurlah dia tidak curiga. Kenapa sih, setiap orang yang melihatmu selalu kira kalau kamu adalah willy. Padahal sifat kalian beda,” ujar Mikaela kesal sendiri. “Kan orang hanya melihat luarnya saja. Tapi dari beberapa kenalan adikku adalah yang langsung merasa kalau ada yang berbeda. Contohnya anak kecil di panti asuhan di Boston dan juga susternya. Feeling mereka cukup bagus,” balas Ares teringat kejadian yang hampir setahun yang lalu. “Oh, iya! Aku ingat kalau Grace takut kepadamu. Hah… tetap saja ada yang beda ya? Baiklah, setelah makan siang aku ingin langsung pulang. Aku merindukan Rapha dan Hani,” pinta Mikaela diangguki oleh pria itu. Ketika makan siang yang mereka datang, mereka berdua langsung melahapnya. Dan setelah itu, mereka langsung kembali ke apartemen milik Willy. Sang babysitter menyambut mereka dan melakukan tugasnya dengan cukup baik. Si kembar sangat tenang dan semuanya beres. Setelah itu, dia pamitan meninggalkan Ares dan Mikaela di sini. “Baik, aku akan mulai bicara dengan tutur kata yang lembut dan juga senyuman. Begitu kan?” tanya Ares sambil duduk dan meneguk sebuah minuman soda yang diambilnya di lemari pendingin. Dia beli minuman itu tadi pagi. “Asal tahu saja, setiap tindakan Willy itu didasarkan karena dia punya acuan,” jawab Mikaela. “Acuan? Apa?” tanya Ares penasaran. Mikaela menarik senyumannya lalu berjalan ke lemari yang adalah milik Willy. Di dalam lemari itu terlihat berbagai koleksi Kitab Suci dan beberapa buku pengetahuan lainnya. Buku itu sudah cukup berdebu karena pemiliknya sudah tidak ada lagi. Mikaela melihat Kitab Suci itu lalu teringat bagaimana Willy sering membacanya dalam banyak kesempatan dengan suara rendah. Setelah itu, Mikaela berbalik dan memberikan buku kepada Ares. “Ini adalah buku yang selalu dia baca dan karena membaca buku ini dia jadi sosok yang sangat baik,” kata MIkaela sambil menyerahkan buku itu. “Ha… Kaela jangan bercanda, deh? Ini hanya buku tua yang ketinggalan zaman!” Ares menilai dengan sebelah mata. “Oee!!” Tiba –tiba suara bayi mengalihkan perhatian Mikaela dan Ares. Keduanya langsung dengan tanggap untuk menghampiri sang bayi. Tapi Mikaela menghalangi langkah Ares. “Cepat baca dulu! Kalau kau tidak mau baca, aku tidak akan membantumu lagi! Biar aku yang urus anakku!” paksa Mikaela sebagai perintah yang harus dilakukan oleh Ares. Pria tampan itu meneguk ludahnya dan setelah itu Mikaela meninggalkannya dan mengurus bayi mereka. Dengan perasaan terpaksa, Ares memegang Kitab Suci yang sering dibaca oleh adiknya. Dia selalu ingat kalau adiknya itu selalu banyak mengutip kata –kata dari buku ini. Memang tidak heran, adiknya itu sangat baik dan nyaris sempurna. Tapi fakta mutlak tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini, tetap saja segalanya ada kekurangan. Adiknya punya penyakit yang cukup keras dan mengalami depresi yang tidak diketahui olehnya. Sungguh ironis! ‘Kalau begitu, apa gunanya menjadi orang baik ya?’ Ares bertanya pada dirinya sendiri. Selama ini, dia selalu memerhatikan banyaknya orang baik lebih cepat mati daripada orang jahat. Berulang kali dia menghela napasnya lalu mencoba membaca buku itu. Ah, tapi ternyata dia tidak sanggup melakukannya. Mikaela baru saja menidurkan Haniel yang terbangun karena mengompol. Setelah sang putri terlelap, Mikaela berpikir untuk kembali memastikan apa yang sedang dilakukan oleh Ares. Dia melihat pria itu sedang membaca sebuah buku, tapi sepertinya itu bukan seperti buku yang tadi dia berikan. Kitab Sucinya sudah ditutup begitu saja olehnya. “Kau memang keras kepala sekali ya?” kesal Mikaela karena pria itu tidak melakukan apa yang diminta Mikaela.Ya, Mikaela pun sebenarnya harus sadar kalau Ares tak bisa sepenuhnya menjadi sosok adiknya yang sangat taat agama. “Maaf, Kaela! Eumm… mungkin aku mesti terbiasa panggil kamu Cassie ya? Tapi, buku itu sangat bertentangan dengan ideologiku,” jawab Ares ternyata masih berkeras dengan pendiriannya. “Apa yang salah?” Mikaela bertanya sambil duduk di sebelah Ares. Mikaela membuka Kitab Sucinya dan merasa semua yang ditulis di sini tidak ada yang salah untuk dipelajari. “Udahlah, Kaela! Itu tidak cocok dengan pemahamanku. Aku lebih percaya dengan teori Charles Darwin kalau kehidupan adalah sebuah kebetulan,” jawab Ares dengan santainya. Mikaela sungguh tak habis pikir dengan cara pandang pria itu, walau memang teori yang disebut sebagai evolusi itu memang banyak diajarkan oleh para professor dan ahli di bangku universitas. Apalagi Ares bersekolah dan besar dengan cara pandang orang Amerika yang sangat yakin dengan teori tersebut. “Terserahmu saja! Dasar keras kepala! Lebih baik latih cara bicaramu dengan lebih baik lagi saja!” Mikaela kesal karena tidak mau berdebat dengan Ares yang tidak semudah itu berubah menjadi seperti Willy yang punya keyakinan kuat terhadap Yang Maha Kuasa. Itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan kepada orang lain karena itu adalah hak pribadi. “Aku jadi heran bagaimana kau mengisi Kartu Tanda Pendudukmu di bagian agama,” ujar Mikaela sambil menyimpan kembali Kitab Suci milik Willy. “Ya, hanya sekedar di KTP saja sih. Tapi kalau di Amerika, soal agama sama sekali tidak dituliskan bukan? Beda dengan identitas di Indonesia,” jawab Ares dengan mudahnya. Bukan hanya Ares sebenarnya yang hanya punya agama KTP saja. Dan jujur saja, Mikaela juga penganut Agnostik yang meyakini kalau Tuhan itu ada dan semua agama itu benar asal berbuat baik saja. “Hmm… baiklah! Apalagi yang mesti kita lakukan setelah ini?” tanya Mikaela setelah selesai menyimpan buku itu dan kembali duduk di sofa yang berhadapan dengan Ares. “Pertama aku akan mengawasi banyak rekanan bisnisku dan soal Helios juga. Setelah itu, aku akan belajar bertutur kata dengan baik dan benar. Contohnya terbiasa memanggil Kaela dengan Cassie.” Ares menjawab lalu dibalas anggukan oleh Mikaela. Masih ada waktu untuk mereka berdua bersiap. *** “Tidak ada bukti yang menunjuk bahwa Marcel yang adalah pelaku penculikan semalam. Dia berada di Four Season Hotel bersama dengan Michelle Prasasti dan semalaman mereka tetap di kamar tanpa keluar.” Vincent memberi tahu hasil penyelidikannya dan beberapa rekaman CCTV yang dia dapatkan dari tempat penginapan Marcel. “Apa? Jadi menurutmu, ada orang lain yang ingin mengusik kedua anak Tuan Ares? Tapi siapa lagi yang tahu soal si kembar selain mereka? Mana ada yang tahu kalau Tuan Ares punya anak?” Helios tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Tidak ada bukti kalau Marcel yang adalah pelakunya dan dia bingung mencari tersangka dari peristiwa semalam. Tapi demi apa, dia sama sekali tidak bisa memaafkan dirinya kalau samai terjadi apa –apa dengan kedua bayi malang itu. “Tuan Helios, sepertinya saya tahu siapa yang melakukan ini.” Salah satu bawahannya angkat bicara. “Siapa Jay?” tanya Helios penasaran. “Tuan Ares!” jawab Jay dengan yakin membuat Helios langsung berdiri dari duduknya. Setelah sekian lama sama sekali tidak mendapat informasi mengenai tuannya yang dikira sudah tiada itu, kali ini salah satu bawahannya menyebut kembali nama itu. Helios memang tak sepenuhnya yakin kalau itu Ares memang meninggal dunia. Karena terlalu banyak pekerjaan yang mesti dia lakukan, dia sampai tak sempat menyelidiki kematian Ares. “Vin, tolong autopsy jasad yang aku bawa dari Indonesia! Dan Jay, jelaskan kepadaku kenapa kau bisa yakin kalau Tuan Ares adalah pelaku semua ini!” perintahnya. Jay yang adalah salah satu personil bodyguard yang tadi malam harus baku hantam dengan Ares sangat tahu bagaimana gerakan Ares. “Saya sudah pernah berlatih dengan Tuan Ares dan bersamanya lima tahun belakangan ini. Gerakan dan kuda –kudanya sangat Tuan Ares sekali. Aku selalu kalah ketika Tuan Ares menyerangku dan selalu di titik yang sama,” jelas Jay berdasarkan pengalamannya. Helios merasa itu sangat masuk akal. Kehebohan dan juga pembobolan sistem keamanan yang bisa ditembus di mansion ini. Tapi yang tidak dia paham adalah kenapa Ares harus melakukan semua ini? Berbuat kehebohan, menculik anak sendiri dan setelah itu malah menghilang. ‘Kalau itu adalah anda, kenapa anda berbuat segila ini?’ Helios sama sekali tidak habis pikir dengan apa tujuan Ares sebenarnya. “Jay, menurutmu apa tujuan Tuan Ares melakukan semua ini kalau itu memang dia?” tanya Helios meminta pendapat rekannya. Jay terdiam karena juga tidak bisa memikirkan dengan logis sebenarnya apa maksud dan Ares melakukan semua ini. Karena memang, kelakuan Ares sama sekali tidak ada logikanya. “Aku tidak bisa paham sebenarnya, tapi memang Tuan Ares selalu melakukan hal –hal yang tidak normal kan?” Jay bertanya balik sehingga membuat Helios terdiam. Tapi bukan masalah! Dia sudah sedikit tenang mengetahui kalau Ares ternyata masih hidup dan mungkin saja merencanakan sesuatu di luar sana. Ares pasti melakukan ini karena ingin membuat musuh yakin kalau dia sudah tiada. Orang yang terdekat dengannya pun dibuat kebingungan habis –habisan. “Benar juga! Tapi coba selidiki lagi kebenarannya! Kita tidak bisa tenang saja kalau belum tahu faktanya. Keselamatan si kembar benar –benar terancam kalau seandainya itu buka Tuan Ares!” Helios sama sekali tidak mau melonggarkan rasa waspadanya. Dia tidak boleh lengah sama sekali. Helios juga orang tua dan pastinya tidak ada orang tua yang mau kalau keselamatan anaknya dalam bahaya. “Baik, Helios! Kami akan melanjutkan penyelidikan,” kata Jay lalu keluar dari ruang kerja milik Helios. Setelah selesai mendiskusi penyelidikan soal kejadian semalam, Helios berpikir untuk kembali ke rumah miliknya sebelum mengawasi mansion Ares. Dia tentu saja merindukan putranya karena sudah lama mereka tidak bertemu. Helios selalu sibuk dan jarang pulang. Sesampainya di rumah, dia melihat Siska yang sepertinya baru saja selesai menyusui putra mereka yang sudah berusia tiga bulan. “Aku pulang!” kata Helios mengalihkan perhatian Siska. Tapi saat melihat pria itu, Siska malah menatapnya sinis. Bukan tanpa alasan, tapi selama mereka resmi menjadi pasangan, pria itu sama sekali tidak memedulikannya dan hanya fokus dengan putra mereka, Carl. “Kenapa gak sekalian gak usah pulang saja? Carl itu hanya anakku! Papanya sama sekali tidak peduli,” sinisnya kepada Helios. “Maafkan aku. Aku sangat sibuk karena semua yang terjadi,” balas Helios dengan nada sendu. “Tapi, berita soal kematian Ares apa itu benar?” tanya Siska yang mendengar berita itu dari pembicaraan beberapa anak buah Helios yang terkadang sering ke sini untuk memastikan keadaannya dengan sang putra. “Menurutmu bagaimana?” tanya Helios. “Aku tidak tahu sih! Tapi memang, b******n seperti dia layak mati sih! Aku benci sekali padanya!” jawab Siska dengan nada geram membuat Helios terdiam. Kebencian Siska belum sirna ternyata.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN