“Wah! Jadi begini ya bisnismu? Ribet sekali ya?” komentar Mikaela kala Ares memberi tahu perihal apa saja yang harus dia kerjakan nanti. Waktu keduanya tinggal tiga hari lagi menuju rapat utama pemilihan pimpinan baru dari Simon Property Group. Dan Ares, dia sudah menyiapkan sebagian rencananya dengan matang.
“Sebuah perusahaan besar memang begitu sistemnya. Oleh karena itu, orang yang menjadi pimpinan sekaligus pemilik saham terbesar harus orang yang kuat. Tidak boleh bermental lemah dan juga tegas. Cerdik sudah menjadi yang utama. Dan dengan bangga, aku sudah bisa terbiasa dengan semua itu di usia dua puluh tahun,” balas Ares dengan nada bangga kepada dirinya sendiri. Mikaela memicing ke arah pria itu karena Ares bicara sombong.
“Halah! Gitu aja sombong! Ingat ya, Willy tidak pernah bicara dengan nada sombong! Dia lebih suka bicara lembut dan selalu menghormati orang lain!” Mikaela memperingatkan soal tata bahasa dari Willy supaya nanti Ares tidak salah dalam bersikap.
“Siap, Yang mulia!” Ares menyatakan kesiapannya dan membuat Mikaela terkikik. Ada –ada saja tingkah pria ini!
“Fine! Aku ingin keluar sebentar. Kebetulan, ada penjaga yang merawat si kembar kan? Apa kau mau ikut?” tanya Mikaela karena merasa bosan di apartemen. Sejak pagi, dia hanya membahas soal bisnis dan rencana yang akan mereka lakukan nantinya.
“Aku juga ingin ke suatu tempat. Lebih baik, kamu ikut denganku saja!” ajak Ares lalu menarik tangan Mikaela bersama dengannya.
Keduanya pun keluar dari apartemen dan Mikaela setuju saja untuk ikut bersama dengan Ares. Sebenarnya pun, dia tidak tahu mau apa keluar. Hanya ingin menghirup udara segara saja. Dia memerhatikan jalan dan melihat Ares membawanya ke sebuah tempat yang sedikit terpelosok di kota ini. Mikaela lalu memicing ke arah Ares merasa pria itu membawanya ke tempat yang tidak beres.
“Hei, ke mana kau bawa aku?” tanya Mikaela kepada pria di sebelah itu.
“Sebentar saja! Hanya bertemu seorang mafia lalu pulang,” jawab Ares singkat dan santai tapi membuat Mikaela terbelalak. Apa? Bertemu mafia? Apa Ares tidak tahu apa itu mafia atau memang dia tidak takut? Dan lagi, apa urusan Ares sampai bertemu dengan mereka? Mikaela jelas bertanya –tanya di dalam pikirannya.
“Apa urusanmu dengan mereka?” tanya Mikaela.
“Hanya membeli senjata! Aku tidak bisa mengambil senjata di mansion atau dari salah satu bawahanku. Nanti Helios bisa tahu kalau aku masih hidup. Jadi, aku beli saja langsung dari mafia supaya tidak pakai surat,” jelas Ares akhirnya bisa dipahami oleh Mikaela. Tapi, senjata untuk apa? Kalau Ares ingin menjadi Willy, kenapa mesti membeli senjata? Willy itu sama sekali tak suka dengan kekerasan.
“Mau ikut masuk? Atau tunggu di sini?” tanya Ares.
“Aku di sini saja,” jawab Mikaela dibalas anggukan oleh pria itu. Maka, mobil itu terkunci dan Ares sudah keluar. Dia tahu Mikaela tidak akan ke mana- mana dan dia pun hanya sebentar saja.
Mikaela masih bingung dengan semua yang dilakukan oleh Ares. Saat ini, Ares malah mempersiapkan sebuah senjata dan memang pria itu selalu suka jaga –jaga dan memikirkan banyak kemungkinan terburuk dari sebuah rencana. Sambil menunggu, Mikaela mengambil ponsel baru yang dibelikan Ares kepadanya. Saat membuka ponselnya, ia melihat sosial media dan kemudian terlewatlah foto Selena yang dia simpan. Bukan saja foto Selena, tapi foto keluarganya bersama dengan Marcel. Tanpa sadar, air mata tiba –tiba saja mengalir tanpa dia inginkan. Rasanya sakit mengingat masa –masa yang tenang itu.
“Hikss…! Selena, maafkan mama ya? Kita tidak bisa lagi berkumpul bersama dengan Papa. Ini semua salah mama. Jadi, biar saja mama yang selesaikan!” gumamnya dengan perasaan sesak di hatinya. Foto keluarga bahagia yang dia pikir adalah mimpi indah yang dulu sempat dia raih kini hancur berantakan. Sekarang, yang ada hanya pembalasan dan keinginan untuk menegakkan keadilan. Itulah yang ingin dilakukan oleh Mikaela. Marcel memang sempat memberinya mimpi indah dan tak lama menghempaskannya setelah tahu tabiat asli pria itu.
Marcel bukan orang yang bisa mempertahankan janji yang dia buat! Awalnya dia merasa yakin, tapi ketika ada masalah, pria itu langsung memikirkan apa yang terbaik menurutnya walau itu artinya mengorbankan orang lain. Itulah yang terjadi di antara dia dan Michelle. Mikaela tidak heran soal kebencian Michelle, karena jika dia ada di posisi wanita itu, mungkin saja dia akan melakukan hal yang lebih parah lagi.
“Tapi aku tidak suka menusuk orang lain dari belakang,” gumamnya lagi dengan penuh kekecewaan, apalagi saat Michelle berpura –pura baik dan juga peduli kepadanya. Kalau benci ya benci saja! Itulah Mikaela! Dia tidak suka pura –pura baik kepada orang tidak dia suka. Lebih baik terang –terangan saja!
“Hei! Memikirkan apa?” tanya Ares mengalihkan perhatian Mikaela yang termenung sembari menunggunya. Mikaela langsung menoleh ke arah Ares yang sudah selesai dengan urusannya.
“Bukan. Hanya teringat pada masa lalu saja. Kalau mengingat itu, rasanya aku ingin membencimu lagi,” jawab Mikaela kepada Ares yang memang merusak dan mengacaukan habis rumah tangganya.
“Tidak masalah! Kamu bisa balas aku setelah semuanya selesai,” jawab Ares dengan santainya lalu menghidupkan mobilnya dan keluar dari tempat ini.
“Tidak bisa. Anak –anak butuh kamu. Kamu menyayangi mereka dan aku tidak mungkin membunuhmu,” balas Mikaela karena memikirkan soal si kembar. Dia memang tak berniat hidup bersama dengan Ares, tapi dia tak mau egois kepada si kembar dengan memisahkan mereka dari ayah yang sangat menyayangi keduanya. Raphael dan Haniel berhak dengan kasih sayang ayahnya.
“Terima kasih kalau begitu! Tapi, apa kamu mau mencoba pistol baruku?” tanya Ares sambil menunjukkan senjata yang baru dia beli dengan bangga.
“Aku tidak pernah menggunakannya. Papa dan Kakak selalu marah kalau aku memegang senjata api,” jawab Mikaela. Walau keluarganya berasal dari kepolisian dan juga militer, tapi Mikaela tidak pernah diperkenalkan dengan dunia kekerasan kecuali bela diri. Itu pun hanya sekedar untuk menyelamatkan diri, bukan membunuh.
“Akan aku ajarkan. Mau?” tawar Ares membuat Mikaela melirik senjata api itu lagi. Dia penasaran! Maka, wanita itu mengangguk kecil dan jawaban Mikaela membuat Ares menarik seringaiannya.
Pria itu pun membawa Mikaela ke sebuah arena pelatihan untuk menembak. Sesampainya di sana, keduanya turun bersama –sama dan masuk ke dalam. Mikaela bisa melihat banyaknya orang yang berlatih menggunakan senjata api di sini. Sangat berbeda dengan di Indonesia yang tidak melegalkan masyarakat sipil menggunakan senjata api. Di Amerika, hal itu diperbolehkan untuk membela diri.
“Mau mencoba satu tembakan?” tanya Ares saat mereka berada di sebuah ruangan yang ada papan sasaran untuk berlatih menembak.
“Bagaimana cara menggunakannya? Tinggal tarik pelatuknya saja kan?” tanya Mikaela mencoba memegang senjata api yang berat itu karena memang terbuat dari besi asli.
“Benar! Tapi coba deh kamu angkat dengan benar, lalu arahkan ke sasaranmu,” jawab Ares lalu dilakukan oleh Mikaela. Tangannya belum terbiasa dengan benda ini, tapi dia berusaha memegangnya dengan benar. Dia melihat papan sasaran itu, tapi ini tak semudah yang dia bayangkan atau yang terlihat di film. Lalu, dia melirik ke arah Ares dan mengarahkan senjata itu kepada sang pria hingga empunya sedikit terkejut.
“Kalau aku membunuhmu, semua ini akan berakhir kan?” tanya Mikaela membaut Ares menarik senyuman tipisnya.
“Coba saja kalau bisa,” jawab pria itu tanpa takut sedikit pun.
“Kau tahu aku tidak akan melakukan itu makanya kau sama sekali tidak takut kan? Huftt! Kau saja dulu yang mencontohkannya. Pandanganku berbayang –bayang saat melihat papan itu karena beratnya senjata ini.” Mikaela mengembalikan pistol itu kepada Ares. Pria itu menerimanya lalu mengangkatnya dengan mudah dan mengarahkannya ke sasaran.
“Angkat tepat pada sasarannya, lalu tarik saja pelatuknya!” kata Ares sambil menatap Mikaela yang ada di hadapannya.
‘DOR!!’
Suara tembakan itu mengalihkan perhatian Mikaela sehingga dia melihat ke arah papan sasaran itu. Matanya terbelalak, karena tembakan Ares sangat tepat pada sasarannya. Mata pria itu melihat ke arahnya, tapi sasarannya sama sekali tidak melenceng. Entahlah, tapi Mikaela kagum dengan kemampuan yang ditunjukkan oleh Ares saat ini.
‘DOR!!’ Tembak pria itu lagi mengejutkan Mikaela. Dan lagi- lagi, dia menembakkannya tepat di atas bekas tembakan sebelumnya.
“Kau! Kenapa kau malah pamer kemampuan seperti ini kepadaku?” tanya Mikaela kesal karena Ares menunjukkan kemampuan menembaknya.
“Aku mau Kaela belajar menjadi sosok yang lebih kuat. Dunia ini kejam dan siapa lagi yang akan melindungi kita kalau bukan diri sendiri? Suatu saat nanti, kita akan berpisah dan aku tidak mau menyesali apapun. Aku ingin sedikit menempa karaktermu untuk menjadi lebih tangguh lagi. Inilah alasan kenapa aku membeli senjata api,” jawab Ares membuat Mikaela terdiam.
“Jadi artinya, setelah semua ini selesai, kau tidak akan memedulikan aku lagi?” tanya Mikaela lagi dengan nada sedikit nyeri di dadanya. Perkataan Ares tadi terkesan seperti semuanya akan selesai setelah balas dendam ini. Seakan, dia ini hanya alat yang digunakan Ares untuk mendapat kembali semua hartanya.
“Bukan begitu! Tapi Kaela juga akan menjalani hidup sendiri kan? Aku tahu diri betapa tidak pantasnya aku bersama denganmu. Maka dari itu, aku mau kamu jadi wanita yang kuat dan bisa menjadi pelindung yang terbaik untuk ana –anak kita saat aku tidak ada.” Ares menjelaskan dari sudut pandangnya.
Mendengar itu, Mikaela langsung merampas senjata api itu dari Ares lalu mencoba menembakkannya tepat pada sasaran. Walau agak kesulitan, wanita itu mencobanya. Perlahan, dia menarik pelatuknya dan suara tembakan pun terdengar.
‘DOR!’ Tapi sayang, sasaran Mikaela sedemikian meleset. Tapi wanita itu tidak menyerah sampai banyak sekali dia melakukan tembakan. Tidak peduli sasarannya sama sekali tidak tepat, sampai akhirnya peluru di dalamnya habis.
“Kaela, biar aku isi lagi pelurunya,” ujar Ares tapi Mikaela langsung melempar senjata itu ke sembarang arah dan menarik kerah kemeja Ares.
“Kau! Aku tidak bisa melakukan ini!” kata wanita itu sambil meneteskan air matanya. Ares terdiam memerhatikan apa yang saat ini terjadi kepada Mikaela. Wanita itu menangis, tapi kenapa? Bukannya dia melakukan sesuatu yang baik? Atau, caranya salah lagi? Entahlah, Ares tidak paham dengan apa yang terjadi kepada Mikaela.
“Jangan tinggalkan aku! Kalau pun kita tidak bersama, jangan abaikan aku! Apa cintamu itu hanya omong kosong semata? Atau, kau baru saja sadar sudah mencintai wanita kotor dan murahan sepertiku?” Mikaela bertanya dengan nada sarkas kepada dirinya sendiri. Dia tidak mau ditinggalkan lagi! Cukup dia kehilangan orang –orang yang dia sayangi. Kini, dia punya Ares sebagai pelindungnya dan dia sama sekali tak bisa kehilangan pria ini. Mendengar itu, Ares menarik Mikaela ke dalam pelukannya.
“Tidak, Kaela! Bukan begitu maksudku! Aku sangat mencintaimu dan aku ingin kamu percaya kepadaku. Tidak apa kalau kamu tidak mau melakukan semua ini. Aku akan menjadi pelindungmu sampai akhir napasku. Karena untuk itulah sekarang aku hidup!” Ares berjanji walau dia tak tahu pasti apa yang akan dilakukannya di masa depan.
Jika Mikaela tak ingin bersama dengannya, bagaimana dia bisa melindungi wanita ini? Tapi semua itu bisa mereka pikirkan nanti, karena yang terpenting saat ini adalah pembalasan dendam mereka kepada Marcel dan Michelle. Dan Mikaela, dia terus saja memeluk erat pria ini. Walau dia tahu ini bukan Willy yang dia cintai dulu, tapi perasaan aman dan damai saat bersama dengan Willy, kini kembali dia dapatkan setelah sekian lama.
‘Bolehkah aku egois? Mungkin aku gila, tapi aku tidak ingin membiarkan Ares pergi dariku.’ Mikaela membatin. Perasaannya sudah mulai kian nyata seraya waktu berlalu bersama dengan Ares. Dia menikmati setiap waktu yang mereka lewati bersama walau selalu saja banyak perdebatan di antara mereka. Itu bukan pertengkaran, tapi hanya sebuah peraduan argumen. Walau begitu, akhirnya Ares selalu saja mengalah dan memilih untuk mendengarkan Mikaela.
“Kaela, apa kita akan terus di sini atau pulang? Hari sudah mulai sore.” Ares mengingatkan hingga Mikaela melepas pelukannya. Saat pelukan terlepas, Ares memerhatikan wajar Mikaela yang basah karena air mata. Dia pun mengangkat tangannya dan menghapus air mata di wajah cantik itu.
“Wanita sepertimu tidak layak menangis! Kau harus bahagia dan percayakan semua kebahagiaanmu kepadaku,” kata pria itu diangguki oleh Mikaela.
“Ya, aku harap tidak ada lagi kesedihan setelah semua ini! Ayo, kita pulang dan memastikan keadaan anak –anak.” Mikaela berujar dan Ares pun meraih tangan wanita itu untuk berjalan bersisian dengannya.
Dia akan selalu menjadi sosok penjaga Mikaela dan terus memastikan kebahagiaan wanita itu sampai akhir hidupnya. Mikaela sudah memaafkannya atas kesalahan yang diperbuatnya di masa lalu, maka kini Ares memang mesti hidup demi melindungi Mikaela, wanita yang dia cintai. Mungkin, Mikaela menolak untuk berlatih menggunakan senjata api, bukan masalah! Karena Ares akan melakukan cara apa pun untuk melindungi Mikaela setelah mereka akan berpisah nanti.
‘Semakin jauh menjalani hubungan ini, aku jadi semakin paham apa yang dulunya dirasakan oleh Simon kepada Mikaela. Walau dia enggan bersama denganku, tapi aku ingin menjadi seseorang yang memastikan keselamatan dan juga kebahagiaannya. Karena cinta yang sebenarnya itu tidak pamrih kan?’ batin Ares sambil menjalankan mobilnya ke apartemen milik adiknya tempat mereka berdua tinggal saat ini.