Semua orang masih tercengang dengan kedatangan Ares yang malah mengaku sebagai William Simon. Semua orang sangat yakin kalau yang kini menunjukkan diri itu adalah Ares Pratama, tapi dia sengaja mempermainkan semuanya, terlebih lagi Marcel dan Michelle. Bicara dengan penuh hormat kepada orang lain, tatapan lembut dan senyuman yang begitu ramah. Sikap yang demikian membuat semuanya jadi bingung menanggapi kejadian ini.
“Ah, Tuan William akhirnya datang juga! Semuanya! Perkenalkan, ini adalah Tuan William Simon, adik kembar dari Tuan Ares. Mereka memang sama persis, karena mereka kembar.” Helios langsung angkat bicara dan melempar senyum kepada Ares. Walau agak terkejut, dia sudah bisa mengerti ke mana arah semua ini. Jadi, tidak ada salahnya dia bermain juga. Ini jelas akan seru.
“William… Simon?” Howard Blendy bertanya lalu berdiri dari tempat duduknya sambil berjalan ke arah Ares.
Dia memerhatikan gaya berpakaian yang sangat berbeda dari Ares yang biasanya suka pakai baju serba hitam padahal tidak sedang berkabung. Kini, warna bajunya cerah seperti wajahnya. Tatapan yang tidak ambisius tapi lembut. Oh, Ares berusaha keras sekali untuk mengubah ekspresinya dengan bantuan wanita di sebelahnya.
“Kau menggunakan nama Simon, berbeda dengan saudaramu. Jadi, apa kau tahu kalau dia sudah tiada?” tanya Howard dibalas anggukan pelan dan tatapan sendu dari Ares.
“Saya sangat menyesal mendengar semua itu. Karena selama ini saya selalu bersembunyi di balik bayang –bayangnya dan tidak mau mengambil tanggung jawab untuk menjalani usaha besar ini. Tapi sekarang, saya harus melakukan kewajiban saya yang merupakan satu –satunya harapan bagi Simon Property Group,” jawab Ares dengan nada penuh hormat kepada Howard. Tidak seperti biasanya dengan tatapan remeh kepada orang lain.
“Hmm… sifat kalian berbeda ternyata. Yang lain, apa kalian percaya kalau dia ini William Simon?” tanya Howard kepada yang lainnya. Tak lama, Mr. Charter mengangkat tangannya lalu bicara,” Mau Ares atau William, yang penting mereka berdua mewarisi darah yang sah. Dan baru saja aku melihat Profil William Simon yang adalah tamatan Doktor di Harvard dan pernah ditawarkan sebagai professor manajemen di sana. Saya sih sama sekali tidak ragu.”
Begitulah tanggapan positif yang diberikan oleh salah satu pemegang saham bisnis property ini. Ares tersenyum lalu menatap ke arah Mikaela yang ada di sebelahnya. Kemudian, dia kembali melihat Marcel dan Michelle yang sudah mati kutu saat ini. Mereka berdua sama sekali tidak bisa berkutik, karena lebih banyak yang pro kepada Ares yang dianggap sebagai Willy.
“Mr. Charter benar juga! Mereka sama –sama jenius. Darah keluarga Simon dari dulu memang tidak pernah mengecewakan,” tambah yang lain lagi membuat semuanya mengambil keputusan untuk memberi tampuk kepemimpinan Simon Property Group kepada William Simon tanpa perlawanan.
“Jadi… bagaimana keputusan kita semua?” tanya Helios kepada semua anggota dewan perusahaan. Langsung saja mereka memberi voting dengan mengangkat tangan bahwa kalau mereka setuju memberi kepemimpinan kembali ke tempatnya. Marcel yang merasa sangat dipermalukan dengan kondisi ini sama sekali tidak bisa diam.
“Bagaimana kalian percaya kepada penipu ini? William Simon sudah jelas –jelas mati satu setengah tahun yang lalu?” Marcel bicara dengan nada sama sekali tidak terima.
“Tapi Mr. Buana! Mau Ares atau pun William, mereka sama –sama memiliki status yang sah atas perusahaan ini,” ujar Alexa sebagai tanggapan.
“Hanya karena William tamatan doktor? Kalian meragukan orang lain? Lihat! Dia menipu kalian semua dengan memanipulasi kematian adiknya sendiri. Dia juga pasti punya tujuan untuk merebut segalanya dari Michelle Prasasti Simon yang adalah sepupunya!” Marcel berkata dengan begitu yakin.
Kondisi ini memang sama sekali tidak menguntungkan Marcel. Memang benar, baik Ares atau pun Willy dianggap sama saja oleh semua petinggi di sini karena mereka adalah pewaris yang sah. Tapi di sisi lain, sekarang ada Michelle juga yang bisa dia jadikan senjata selaku pewaris darah Simon yang merupakan putri dari pemilik sebelumnya dari Simon Property Group, Harold Simon.
“Saya tidak pernah berniat begitu,” jawab Ares dengan tenang.
“Bukan kah Ares membunuh Harold Simon demi mendapatkan semua ini? Harusnya yang memiliki segalanya adalah Michelle, bukan kau! Aku tidak peduli mau kau Ares atau William yang merangkak dari kubur, tapi kau sama sekali tidak pantas!” tuding Marcel membuat Ares tersenyum santai. Mudah saja menyangkal semua ini, tapi dia tidak akan angkat bicara. Karena yang diinginkan Ares hanyalah tanggapan dari orang lain.
“Michelle Prasasti Simon? Helios, bisa aku minta profilnya?” Mr. Charter kini meminta profil dari putri Harold Simon. Helios dengan cekatan mengirimkan ke semua petinggi perusahaan mengenai profil Michelle. Saat mereka melihatnya, langsung saja Michelle mendapatkan tatapan remeh.
“Seorang sarjana biasa? Dari Indonesia, pula? Hahaha!” Alexa tidak dapat menahan tawanya. Mereka mana bisa memercayakan perusahaan raksasa yang merupakan sumber kekayaan mereka kepada seseorang yang bahkan latar belakang pendidikannya tidak meyakinkan di mata mereka. Kalau Marcel, mereka menentang karena semua ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pria itu, walau lulusan Marcel adalah Master Manajemen di Stanford. Tidak bisa diremehkan sebenarnya.
“Saya akan memberikan hak kekayaan sepuluh persen dari penghasilan bisnis ini sebagai kompensasi kepada Michelle!” ujar Ares tegas membuat semua mata langsung melotot ke arahnya, termasuk Mikaela.
Semakin semua orang yakin kalau yang sedang berdiri di sini bukanlah Ares, tapi memang William Simon. Karena setahu mereka, Ares adalah sosok yang suka memonopoli semuanya tanpa ampun. Dan Mikaela sendiri merasa ada yang salah dalam situasi saat ini.
“Saya tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Kakak saya sebelumnya. Banyak rumor buruk mengenai dirinya dan saya di sini ingin memperbaiki semua hal buruk yang sudah dia perbuat,” kata Ares lagi benar –benar tidak seperti dirinya. Para pengusaha semakin mengerjapkan matanya tak percaya dengan apa yang mereka dengar saat ini. Pemikiran mereka semakin yakin kalau yang saat ini berdiri di sini memang bukan Ares sama sekali tapi memang William Simon.
“Ya, apalagi yang ingin kita rapatkan? Keputusan sudah jelas kan? William Simon memang pimpinan yang paling tepat untuk melanjutkan bisnis ini. Aku rasa, tidak ada yang perlu dibicarakan lagi.” Mr. Charter mengangkat bokongnya dan merasa rapat ini sudah selesai.
Yang lain ikut dan memberikan selamat berupa salam kepada Ares sebagai pimpinan. Setelah itu, Helios mempersilakan Ares berdiri di depan untuk memberikan pidato kemenangannya di hadapan semua orang. Ares memberi senyuman lembutnya lalu berdiri di depan semuanya dengan sangat berwibawa seperti biasa.
“Saya sangat berterima kasih kepada dewan pimpinan dari Perusahaan ini sekaligus para investor. Saya harap, kalian bisa mempercayakan bisnis ini seperti kepada Ares. Saya akan melakukan yang terbaik!” kata Ares dengan nada yang sedemikian lembut. Berbeda dengan Ares yang dulu menyampaikan pidato kepemimpinannya dengan penuh ambisi.
‘PROK! PROK! PROK!’
Semua orang bertepuk tangan termasuk dengan Mikaela. Semuanya sekali lagi memberi sambutan kepada Ares yang dikira sebagai Willy dan akhirnya rapat besar itu dibubarkan. Tapi masih ada pihak yang tidak terima dengan hasil dari rapat besar yang sudah sama –sama ditunggu oleh mereka ini. Marcel masih berada di sini lalu berjalan menghampiri Ares yang masih dalam mode menyamar lalu menarik kerah kemejanya.
“William ya? Hahaha! Kau memang sudah gila, Ares!” teriaknya lalu dengan penuh emosi dia memukul Ares tepat di wajahnya. Helios terkejut dan langsung menarik Marcel lalu mendorongnya menjauh.
“Ares? Kenapa kau sekarang? Kau sudah jadi pengecut? Biasanya kau juga akan melawan siapa pun yang datang ke hadapanmu?” remeh Marcel.
“Marcel, kau masih mau memukulku?” tanya Ares sambil mengangkat kepalanya lalu memberi senyuman kepada Marcel.
“Wi –Willy? Ada apa denganmu?” tanya Mikaela walau agak gugup memanggil Ares dengan nama Willy.
“Cassie, bukannya jika pipi kananmu ditampar, kau beri pipi kirimu pula? Begitu kan cara kita mengasihi musuh?” jawab Ares sangat mengejutkan semua orang di sini. Gaya bicara itu benar –benar milik Willy sekali. Mikaela tidak ingat pernah memberi tahu kata –kata ini kepada Ares sebelumnya.
‘Aku bahkan tidak ingat dengan kata –kata ini, tapi memang Willy suka berkata bijak kan?’ pikir Mikaela.
“Sampai kapan kau terus berakting, b******n?!” Marcel tak terima tapi ada Helios yang menghalangi gerakan Marcel.
“Sudah ya? Kau pasti sangat malu karena tidak bisa merampas apa yang tidak seharusnya jadi milikmu! Marcel Arya Buana, aku ingatkan kepadamu, lihat siapa lawanmu dulu kalau mau bertindak!” Helios memperingatkan sambil menepuk –nepuk punggung Marcel sebagai bentuk simpatinya kepada pria yang sudah menahan malu sepanjang rapat dewan diselenggarakan.
“Helios, jangan bicara begitu. Marcel, karena kau adalah temanku, aku masih memaafkanmu,” kata Ares lagi belum mau buka topeng.
“Siapa yang temanmu, b******k? Bagaimana mungkin seseorang yang sudah mati dengan berbagai luka di tubuhnya sekaligus penyakit dalam bisa hidup? Candaan apa yang sedang kau buat ini, Ares? William tidak mungkin hidup lagi! Bahkan, makamnya masih ada di Indonesia!” Marcel berujar untuk mematahkan semua rencana Ares. Tapi salah besar kalau Ares tidak memperkirakan semua itu sebelumnya.
“Marcel, mungkin inilah yang disebut sebagai keajaiban Tuhan. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa kembali. Tapi setelah itu, aku memutuskan menghilang dari kehidupan kalian. Sayangnya, kau melukai Cassie yang memaksaku harus kembali lalu merebutnya darimu!” Ares memberi alasan yang cukup kuat untuk kembalinya Willy.
“Oh, jadi peran William saat ini menjadi perebut istri orang?” ejek Marcel.
“Niatnya dari awal begitu. Tapi karena aku kira kau adalah orang yang baik dan bisa menjadi penjaga Cassie, aku percayakan dia padamu. Namun sekarang, semuanya tidak begitu ya? Kau hanya bisa membuat Cassie –ku menangis,” jawabnya membuat Marcel mengepalkan tangannya. Ia menatap kepada Mikaela yang berdiri di sebelah Ares. Wanita itu bahkan tidak berhenti terus menggenggam lengan Ares dan selalu membuang mukanya dari Marcel.
Marcel sadar betul kalau tidak mungkin Willy hidup lagi. Tapi kata –kata Ares terdengar seperti tamparan keras buatnya, seakan itu lah yang akan dikatakan oleh Willy seandainya dia masih hidup. Marcel menarik napasnya dalam –dalam lalu berjalan menghampiri Mikaela lalu menatap wanita itu sebentar. Tapi Mikaela tidak mau melihat Marcel karena perasaannya sangat sakit setelah apa yang terjadi.
“Berpura –pura mati adalah cara kalian untuk membungkam musuh ya? Kaela, sekarang kau sudah memilih jalanmu. Tapi ingat, Selena saat ini ada di tanganku. Tetap di sini atau kembali ke Indonesia, pilihan ada di tanganmu,” ujar Marcel membuat Mikaela terbelalak.
“Kau sudah menceraikan aku, Marcel!” Mikaela membalas dengan tegas.
“Kau benar! Tapi kalau kau tidak kembali, maka hak asuh Selena otomatis akan jatuh padaku, bukan? Kau tidak bisa mengambil putriku!” jawab Marcel dengan santai sekali. Yang di pikiran pria itu adalah bagaimana membuat Mikaela tidak bisa bahagia setelah dia hancur. Tidak bisa! Wanita itu sudah mengacaukan kehidupan tenangnya. Seandainya Mikaela tidak membuat masalah, semua ini tidak akan terjadi.
“Aku akan memperjuangkan putriku!” tegas Mikaela. Sebagai seorang ibu, dia juga akan merebut Selena yang adalah darah dagingnya. Mikaela tahu kalau Marcel memang menyayangi putri mereka, tapi Mikaela adalah yang paling berhak atas Selena.
“Sudah lah, Kaela! Nikmati saja kehidupan barumu! Bukankah kau sudah senang di sini bersama anak kembarmu dan juga b******n di sebelahmu? Dengan melakukan ini, pilihanmu sudah jelas! Kau tidak pernah memikirkan Selena tapi dirimu sendiri. Untuk apa juga kau bersama Selena? Bukannya dia mengingatkanmu padaku?” Marcel berkata sehingga menambah emosi Mikaela. Marcel memang benar –benar sangat sengaja memojokkannya.
“Cukup, Marcel! Mau bicara apapun, Cassie tetap ibu dari Selena dan dia lah yang melahirkan juga membesarkan Selena, bahkan tanpa dirimu. Jangan percaya diri sekali kau!” sergah Ares dengan nada tak suka kepada Marcel.
Sebelum semua ini, Mikaela sudah menceritakan segalanya. Semua yang Willy tahu tentang masa lalunya, kini juga diketahui oleh Ares. Dan ya, ketidaksukaan Ares kepada Marcel semakin mendalam karena sejak awal, Mikaela sudah berhasil dia jadikan korban atas keegoisannya. Dan kini, Marcel ingin merenggut segala yang dimiliki oleh Mikaela. Itu terdengar sungguh kejam, bahkan lebih kejam dibanding dirinya.
“Jaga bicaramu, Ares! Jangan lupa, kalau sumber kekacauan ini adalah dirimu! Seandainya kau tidak membuat Mikaela hamil, semua ini tidak akan terjadi! Tidak akan pernah! Camkan itu, Kaela! Kau memilih bersama Ares, itu artinya kau wanita bodoh yang sengaja jatuh ke jurang.” Marcel bersikeras dengan masa lalu itu. Setelah merasa cukup dengan segala kekesalan dan rasa malu luar biasa di hadapan semua orang, Marcel benar –benar keluar dari ruang rapat dewan ini. Dan ya, dia berhasil membungkam Mikaela.
Ares adalah penyebab semua ini! Kalau Ares tidak melakukan kejahatan kepada Mikaela, mungkin saja dia akan bahagia. Mungkin saja, dia akan punya keluarga yang utuh dengan Marcel. Tapi, apa itu mungkin? Tidak akan ada pengkhianatan sama sekali seandainya Ares tidak hadir? Selama ini, bukankah sudah jelas kalau perasaan Marcel hanya sebatas rasa kasihan? Tidak! Itu hanya kebahagiaan semu dan sangat sementara. Pernikahan Marcel dan Mikaela baru berjalan setahun lebih. Semuanya masih bisa dia terima, tapi perlahan Marcel mulai memikirkan masa lalu ketika Mikaela melakukan sebuah kesalahan yang bahkan tak dia kehendaki.
“Sekali tak berpendirian, akan tetap begitu!” ujar Michelle tanpa sadar mengalihkan perhatian mereka semua. Ares sedikit terkejut karena harusnya ada di kubu yang bersebrangan dengan mereka.
“Ah, aku bicara begini bukan karena aku membela kalian dan drama bodoh ini. Tapi hanya pendapat pribadi,” lanjut Michelle sambil menatap tajam kepada Ares.
“Aku juga tahu, Michelle! Tapi ingatlah, urusan kamu di sini belum selesai sebagai putri dari Paman Harold!” Ares berkata dengan santai tapi secara tak langsung memperingatkan Michelle.
-------
Kedepannya aku akan lebih sering update di fizo~~