Michelle terdiam karena Ares seakan sudah menentukan hukuman untuk apa yang dia lakukan. Bukan tidak mungkin, kalau Ares tidak tahu apa yang sudah dilakukannya kepada Mikaela malam itu! Mau mengaku jadi Willy sampai kiamat pun, Michelle tidak akan pernah percaya kalau orang yang sudah mati bisa hidup lagi. Dan Ares dipastikan akan memberi balasan yang tidak pernah dikiran oleh Michelle, sama seperti yang terjadi pada saat ini.
“Kau… ingin menghabisi aku?” tanya Michelle menyembunyikan rasa takutnya. Ares tersenyum hangat, tapi sangat jelas di balik senyuman itu tersirat kelicikan. Karena memang pada dasarnya, Ares selalu menyimpan kepicikan dalam setiap ekspresi dan ucapannya.
“Kenapa sepupuku bicara begitu? Aku hanya ingin memberi hakmu saja loh! Jangan berpikir buruk ya?” balas Ares pura –pura bodoh aja dengan apa yang dilakukan oleh Michelle terhadap Mikaela sebelumnya. Tapi Mikaela kini hanya diam sambil bersidekap d**a menatap remeh kepada Michelle. Seakan wanita itu berkata, ‘Kau tidak akan bisa menyakiti aku lagi, karena aku punya pelindung yang kuat!’
“Terserahmu lah Ares! Sudahi semua sandiwara gilamu! Kau ingin menghukumku? Membunuh atau menghilangkan jasadku? Tapi aku sama sekali tidak takut! Camkan itu!” Michelle berkata dengan segenap keberaniannya lalu memilih keluar dari ruangan ini.
“Wah… dia benar –benar mewarisi kesombongan ayahnya!” ujar Ares sekeluarnya Michelle dari ruang rapat ini. Sekarang yang tersisa memang Ares, Mikaela dan Helios di sini.
“Ares… kenapa aku baru tahu kalau Michelle itu sepupumu?” tanya Mikaela kepada Ares. Wanita yang selama ini selalu berada di sebelah Ares itu ternyata sangat ketinggalan soal informasi ini.
“Hmm… apa itu penting? Menurutku, itu sama sekali tak seberapa penting untuk diumbar –umbar. Kalau bisa, harusnya aku lenyapkan saja dia supaya semua harta milikku tidak beralih dan tak ada ancaman sama sekali,” jawab Ares dengan santainya terkesan begitu tega kepada saudari sendiri.
Wajar sih, karena Ares tidak punya alasan untuk peduli kepada Michelle. Baru juga mereka kenal ketika Ares datang ke Indonesia dan tidak pernah terpikir olehnya kalau sang paman punya seorang anak. Mencari Michelle memang murni sekedar untuk meminta persetujuan wanita itu untuk harta yang selama ini dia kumpulkan setengah mati dengan bekerja non stop.
“Tidak penting? Kau sama sekali tak menganggapnya?” tanya Mikaela dibalas anggukan oleh Ares. Dia tidak peduli soal Michelle sama sekali! Itulah yang dia yakini saat ini.
“Eumm… maaf Tuan! Tapi selamat datang kembali!” Helios membungkukkan badannya menyambut Ares yang selama ini bersembunyi sehingga membuatnya sedemikian repot mengurus ini dan itu.
“Oh, hai Helios! Aku sangat senang karena melihatmu masih dalam kondisi baik –baik saja! Bagaimana kejutan yang aku lakukan kemarin? Apa kau syok?” balas Ares dengan bertanya santai soal peristiwa penculikan si kembar.
“Ah, tentu saja Tuan! Tapi… salah satu bawahan yang Tuan serang menyadari kalau pelakunya adalah Tuan. Jadi akhirnya, saya tidak terlalu khawatir lagi.” Helios menjelaskan dengan tenang membuat Ares terkejut. Dia tidak menduga, kalau ada bawahannya yang bisa mengendus perilakunya.
“Hem… dia hebat! Itu berarti dia lebih pintar darimu ya, Helios?” tanya Ares lagi.
“Bukan begitu! Tapi memang kebetulan dia lah yang berhadapan langsung dengan anda,” jawab Helios seadanya. Mungkin saja, Helios akan langsung sadar kalau berhadapan langsung dengan Ares. Bahkan, Helios pun bisa merasakan aura Ares kalau mereka berada dalam jarak dekat.
“Hmm… benar juga! Itu alasan kenapa aku tidak mau menghadapimu hahaha! Baiklah, terima kasih untuk semuanya! Kau memang bawahan terbaik!” Ares menyatakan rasa terima kasihnya sambil menepuk pelan punggung Helios. Pria itu memang sudah seperti saudara buatnya saat ini.
“Sama –sama, Tuan! Sejak awal pun, saya tidak yakin kalau Tuan bisa meninggal dengan mudah. Dan Mikaela, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?” tanya Helios kini mengarah kepada Mikaela.
“Michelle… dia berusaha membunuhku.” Mikaela menjawab dengan singkat dalam satu kalimat.
Helios sangat terkejut mendengar pengakuan MIkaela. Bukan apa –apa, tapi wanita itu terkesan terlalu santai menghadapi Michelle. Normalnya, Mikaela mestinya marah atau mungkin memaki –maki wanita itu di hadapan semua orang.
“Lantas, kenapa kau diam saja?” tanya Helios ingin tahu alasan Mikaela saat ini.
“Karena Ares yang akan melakukan semuanya. Aku tidak mau terlalu terbawa emosi, karena itu akan membuatku terlihat lemah. Bukankah begitu, Ares?” Mikaela kini menatap Ares yang ada di sebelahnya.
“Kita akan mempermainkan dua orang itu dengan rencana yang sudah aku persiapkan, Helios! Kau sekarang hanya perlu menyaksikannya saja, Helios!” jawab Ares dengan seringaian yang kembali terpatri di bibir tipisnya. Kini, wajah kalem Willy yang tadi dia pasang sudah hilang sepenuhnya.
***
Michelle sama sekali tidak tenang setelah Mikaela dan Ares muncul di depan matanya. Perasaannya tadi malam memang sama sekali tidak salah, karena semua yang dia rencanakan dengan Marcel malah gagal total. Sekarang, dia benar –benar dalam masalah besar. Untuk urusannya dengan Ares dan juga Mikaela yang pastinya akan membalaskan dendam kepadanya.
“Aku akan kembali malam ini!” Ucapan Marcel mengalihkan perhatian Michelle yang sedang melamun.
“Mas meninggalkan aku sendiri?” tanya Michelle tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Marcel seakan membiarkan dia sendiri di sini. Di Boston, tempat yang masih asing untuknya.
“Aku harus mengurus soal perceraianku dan Mikaela. Aku juga mau memastikan kalau Selena berada dalam genggamanku,” jawab Marcel karena merasa sudah tak punya urusan lagi di sini. Yang ada, dia hanya akan kena banyak masalah kalau bertahan di kota ini.
“Aku masih harus di sini! Tapi, Mas… bisa aku memberi sebuah saran kepadamu?” kata Michelle.
“Saran? Soal apa?” tanya Marcel.
“Mbak Kaela! Lebih baik, Mas batalkan saja perceraian dengan Mbak Kaela.” Michelle menyarankan sehingga membuat Marcel menatap heran kepada wanita itu.
Membatalkan perceraian setelah sejauh ini, rasanya sangat tidak mungkin. Sudah terlalu jelas kalau Mikaela tidak akan mau kembali padanya. Marcel merasa, saran yang diberikan Michelle sama sekali tidak membantu.
“Mana mungkin Mikaela mau menerimanya! Dia juga ingin cepat bercerai denganku supaya bisa bersama dengan Ares,” balas Marcel merasa itu adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
“Justru itu! Manfaatkan keberadaan Selena! Jangan biarkan Mbak Kaela bersama dengan Ares. Karena kalau sampai dia bisa bersama dengan Ares, bukan tidak mungkin kebenaran soal kematian Tuan Adinata dibiarkan begitu saja. Heinry Djuanda juga sudah mulai mengusutnya, begitu pula dengan Mikaela.” Michelle memberi tahu cara yang bisa dimanfaatkan oleh Marcel untuk tetap mengikat Mikaela.
Kalau boleh jujur, Marcel sudah tidak memiliki rasa apapun kepada Mikaela. Dia mati rasa kepada wanita itu tatkala tahu dia sudah ditipu selama ini. Dia tidak punya alasan untuk bersama dengan Mikaela. Tapi mendengar perkataan Michelle, dia memang harus terus mengawasi Mikaela dan memastikan secara langsung kalau wanita itu tak curiga kepadanya soal kematian Adinata. Semua itu adalah demi dirinya sendiri. Walau dia tahu, mengikat kembali Mikaela untuk bersama dengannya bukan hal mudah bahkan nyaris tidak mungkin.
“Aku rasa kau ada benarnya, Michie! Tapi satu hal, jangan sampai semua kebenaran itu keluar dari mulutmu!” Marcel memperingatkan Michelle.
“Tenang saja, Mas! Aku sekarang sudah mendapatkan apa yang aku mau! Aku harap, sesampainya di Indonesia kau sama sekali tidak memberi tahu soal perselingkuhan kita di sini,” jawab Michelle sebagai negosiasi dengan Marcel.
“Kuhara kau juga bisa dipercaya, Michelle!” Marcel berujar lalu menarik kopernya untuk pergi. Michelle memang tinggal sendiri, tapi alasan Marcel untuk kembali ke Indonesia juga sangat penting.
‘Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Tapi aku harap, aku bisa membungkam Mbak Kaela! Tapi bagaimana? Ares pasti sudah tahu semuanya tanpa terkecuali. Sial!’ kesal Michelle dalam hatinya karena merasa berada dalam jalan buntu.
Sekarang, dia baru menyesal karena mengikuti emosinya waktu itu. Harusnya tidak seperti ini! Kalau saja dia tidak mendorong Mikaela malam itu, maka dia hanya tinggal menonton saja drama kehidupan Mikaela tanpa adanya Ares. Saking gusarnya dengan apa yang akan terjadi padanya nanti, Michelle bahkan menggigit jarinya sendiri. Hari esok memang sama sekali tidak bisa ditebak olehnya.
‘Drrtt!! Drrtt!!’
Suara ponsel mengalihkan perhatian Michelle. Wanita itu mengambil ponselnya lalu melihat ada panggilan dari nomer asing. Dia berpikir sebentar sebelum mengangkatnya dan dia memutuskan untuk mengangkatnya saja.
“Sepupuku akhirnya mau menjawab! Boleh kita bertemu besok?” Terdengar suara Ares yang mengajaknya bertemu.
“Apa yang ingin kau lakukan padaku?” tanya Michelle.
“Jangan berburuk sangka padaku. Dan jangan berpikir kau bisa kembali ke Indonesia, karena aku terus mengawasimu. Aku harap, kau bisa datang ke tempat yang aku beri tahu kepadamu lewat pesan.” Ares mengakhiri panggilannya dan tak lama sebuah pesan singkat masuk. Michelle mendengus kesal karena Ares sudah memulai permainannya.
“Michie, aku harap kau hati –hati ya!” pesan Marcel sebelum keluar dari kamar hotel yang mereka tempati saat ini.
“Aku tidak akan mati semudah itu!” balas Michelle yakin membuat Marcel terdiam. Dia tidak bisa menebak apa yang mungkin saja direncanakan Ares kepada Michelle. Tapi satu hal yang pasti, Michelle tidak akan bisa menang karena fakta Ares adalah lawan yang sangat tangguh.
“Kau harus kembali demi putrimu,” kata Marcel lalu benar –benar keluar dan meninggalkan Michelle di sini. Sekeluarnya Marcel, wanita itu terduduk di sofa karena merasa begitu lemas. Tanpa sadar, air mata mengalir tanpa dia kehendaki karena takut tidak bisa kembali hidup –hidup.
‘Marcel dibiarkan hidup karena tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu kan? Dan Ares mengincarku karena aku mencoba membunuh wanita yang dicintainya. Ayo, berpikir Michelle! Apa yang mesti kau lakukan sekarang demi menyelamatkan diri?’ Michelle benar –benar sangat khawatir soal keselamatannya sendiri. Ya, lihat saja bagaimana Ares melakukan permainannya!
***
Mikaela baru saja selesai menyusui Haniel. Dia menidurkan kedua anaknya satu per satu, tapi pikirannya sama sekali tidak bisa tenang. Bukan karena Michelle, karena dia yakin Ares bisa membereskan wanita itu dengan mudah. Tapi kali ini soal Selena yang saat ini jauh darinya.
“Kau terlihat gusar sekali. Ada apa?” tanya Ares yang baru saja masuk ke dalam kamar.
“Ares, aku sedang bingung sekarang. Aku mesti kembali ke Indonesia untuk memastikan keadaan Selena. Tapi kedua bayiku juga masih membutuhkan aku di sini. Kalau mereka melakukan perjalanan jauh lagi, aku merasa itu sama sekali tidak efektif.” Mikaela mengungkapkan segala keluh kesahnya. Selain Raphael dan Haniel, dia masih punya dua anak lagi yang masih sangat membutuhkan dirinya sebagai seorang ibu.
“Bukannya ada Kakakmuyang menjaga Selena?” tanya Ares lagi.
“Iya, mereka tentu saja akan jaga Selena. Tapi gadis kecilku itu sangat menyayangi ayahnya sehingga adalah hal mudah buat Marcel untuk mengambilnya dariku. Bagaimana ini, Ares?” Mikaela benar –benar merasa bingung. Rencananya di sini belum juga selesai dan malah dia dilanda kebingungan soal Selena yang bisa saja dihasut oleh marcel dan keluarga Buana untuk benci kepada Mikaela.
“Apa aku harus menghalangi kepulangan Marcel?” tanya Ares merasa itu adalah solusi.
“Kau sudah menghalangi kepulangan Michelle. Marcel pasti akan melakukan apa pun untuk melawanmu walau hasilnya hanya sebuah kegagalan. Tapi seingatku, dia punya seorang teman dari FBI yang mungkin saja sudah dia hubungi sebelumnya untuk memastikan kepulangannya akan aman. Tidak, itu bukan rencana yang bagus.” Mikaela tak merasa kalau menahan Marcel di sini adalah sesuatu yang efektif.
Keluarga Buana akan bertanya –tanya kenapa Marcel tidak kembali dan itu malah akan berbahaya untuk Mikaela. Dia bisa dituduh berselingkuh dan berencana untuk menghabisi Marcel di sini. Ditambah lagi, ada seseorang yang diandalkan Marcel. Ares tidak bisa banyak berkutik di sini karena kasus hukum sebelumnya. Ares tidak bisa bebas berbuat gila lagi, terlebih lagi kalau tercium oleh pihak berwajib. Tapi kalau Marcel pulang, semua orang akan tahu dia masih hidup dan bersama dengan Ares pula. Sama saja! Memang lebih baik, kalau Mikaela kembali ke Indonesia secepatnya.
“Ares, aku memang harus kembali! Aku harus kasih tahu kepada Kak Anye dan Kak Heinry kalau Michelle adalah pelaku percobaan pembunuhan padaku dan menahan Selena darinya!” Mikaela terlihat begitu panik saat ini. Ares yang melihat semua ini langsung menarik Mikaela dalam pelukannya.
“Kaela, tenang dulu! Kita masih harus menghancurkan mereka satu per satu! Pertama, kita bungkam Michelle dan kemudian Marcel. Karena sepertinya, Michelle menyimpan sesuatu yang penting mengenai Marcel yang tidak kita semua ketahui,” ujar Ares membuat Mikaela terheran.
“Maksudmu? Michelle punya rahasia?” tanya Mikaela bingung.
“Ini hanya perasaanku, tapi bagaimana mungkin Marcel dan Michelle bisa sangat kompak untuk merebut semua hartaku? Michelle tidak mungkin memberi tahu identitasnya yang sebenarnya kepada Marcel kalau tak ada kepentingan. Bisa saja, dia ingin meraup semuanya sendiri.” Ares menyatakan dugaannya.
“Kau bicara berbelat –belit! Maksudnya, Michelle menyimpan sebuah rahasia makanya kau incar dia lebih dulu?” tanya Mikaela diangguki oleh Ares.
__________________
YUK LANJUT DI FIZZZO