Michelle berhenti di depan sebuah katedral, tepat di tempat yang dipinta Ares untuknya datang. Harusnya, dia bisa kabur langsung ke Indonesia, tapi Michelle tahu benar kalau Ares sama sekali tidak akan pernah main –main dengan ancamannya. Wanita itu melihat ke arah katedral tua dan menatapnya nanar. Dia ke sini untuk bertemu dengan Ares, walau dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Tapi suara nyanyian dari dalam katedral itu membuat dia teringat beberapa masa lalunya.
“Dulu Bapak pernah bilang, kalau aku mesti selalu datang beribadah. Terlebih lagi, saat ritual pengakuan dosa. Apa aku… punya kesempatan?” monolog Michelle lalu melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam katedral.
Dia tidak peduli Ares mungkin saja akan mencarinya. Pria itu pasti bisa menghubunginya lagi nanti. Dia mendengarkan ceramah walau dalam bahasa Inggris dan di sini sangat sepi. Hanya ada tiga orang di dalam dan dia sedang melakukan pengakuan dosa. Setelah seseorang selesai, Michelle pun melangkah pula menghadap sang pastor karena merasa begitu bersalah dengan semua yang dia lakukan.
“Bisakah saya mengakui dosa saya?” tanyanya kepada sang pastor dibalas senyuman oleh sang pastor.
“Silakan, Nona! Akui segala dosamu kepada Tuhan dan bertobatlah sungguh –sungguh supaya engkau mendapat pengampunan,” jawab sang pastor diangguki oleh Michelle. Wanita itu pun berdoa dan menyatakan semua keluh kesahnya sampai menangis. Tindakannya membuat sang pastor bingung, tapi beliau sama sekali tidak mengganggu Michelle yang sedang berdoa untuk mengakui kesalahannya. Setelah selesai, Michelle sedikit lega dan dia tersenyum kepada sang pastor.
“Terima kasih!” ujarnya dan dibalas anggukan oleh empunya.
Saat berbalik, Michelle terbelalak melihat seseorang yang kini sangat dia takuti duduk dengan santai di salah satu kursi seakan sedang menontonnya. Pria itu tersenyum ke arahnya tapi dengan tatapan mengejek. Michelle hanya buang muka lalu melanjutkan langkahnya. Maka, pria itu yang tak lain adalah Ares, berjalan di sebelahnya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam jas panjangnya. Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari katedral menyusuri jalanan Boston.
“Hari ini, kau mencoba mengakui dosamu ya?” tanya pria itu karena melihat Michelle yang sedang berdoa tadinya.
“Apa masalahmu dengan itu?” Michelle balik tanya karena merasa tersindir.
“Tidak ada! Sama sekali tidak ada. Tapi Michelle, di dunia ini ada dua jenis dosa. Pertama, dosa yang disengaja dan kedua adalah sesuatu yang tak disengaja.” Ares menjawab kemudian dibalas lirikan bingung oleh Michelle.
“Kalau sengaja, berarti dia sudah berniat dari hatinya dan yang tak disengaja itu berarti dia tidak ada niatan. Contohnya seperti jika kau sedang mengendari mobil lalu remnya blong dan menabrak orang hingga meninggal. Itu dosa yang tak disengaja. Lain halnya dengan sengaja mendorong seseorang dari tebing, padahal orang itu sama sekali tidak bisa berenang untuk menyelamatkan diri.” Pria itu menjelaskan dengan santai, tapi berhasil membuat Michelle tertohok.
Wanita itu menghentikan langkahnya lalu menatap tajam ke arah Ares. Tapi Ares, dia hanya tersenyum manis dan bertindak dengan begitu santai, seakan dia sama sekali tak merasa sudah menyinggung Michelle. Michelle tahu, ini akan menjadi awal dari sebuah balas dendam yang ditujukan untuknya.
‘Kau pintar sekali, Mbak! Menggunakan Ares sebagai pelindungmu adalah taktik yang luar biasa cerdas!’ batinnya benar –benar takut semua ini akan menjadi akhir buatnya.
“Kau… bicara sok bijaksana! Sangat bukan dirimu sekali, Ares! Tapi aku sungguhan muak dengan akting gilamu!” kata Michelle dengan tatapan melawan.
“Haha… aku suka tatapanmu! Kau sangat berani ya? Soal aktingku, itu hanya di depan semua kolega supaya aku sama sekali tidak dipersulit untuk kembali mendapatkan semua hartaku. Karena wasiat yang di tangan Marcel atas nama William Simon.” Ares menjawab dengan santai. Memang, tidak ada gunanya berakting di depan Michelle. Lagipula, lama –lama semua orang juga tahu siapa dia yang sebenarnya.
“Apa kau menjadi sok suci sekarang? Bicara sok benar, padahal tanganmu lebih berdarah dibanding aku?” tanya Michelle lagi merasa dirinya tak sekotor Ares.
“Tidak! Yang aku bicarakan tadi hanya teori realitas. Hukum juga membedakan mana yang sengaja dan tidak. Dan Michelle, aku pun tak pernah bilang kalau aku ini orang baik! Aku tidak peduli mau dosaku diampuni atau tidak. Tapi satu yang pasti sekarang, aku akan hidup untuk melindungi Mikaela!” jawab Ares dengan sedemikian yakin membuat Michelle terdiam.
Ares tidak pernah ingin terlihat sok suci, karena memang begitulah dia. Dan Michelle? Dia selalu bersembunyi di balik topeng wanita baik –baik. Memang Michelle yang dulu adalah wanita yang sangat baik. Tapi keadaan menempah dia menjadi sosok yang kejam karena kebencian dan rasa sakit. Salahkah Michelle membalaskan semua rasa sakitnya? Dia adalah yang paling tersakiti, bukan? Dia tersisih sejak awal kisah cintanya. Bukan hanya sekali tapi berkali –kali.
“Kau ingin membunuhku?” tanya Michelle sambil menatap ke tanah.
“Itu adalah hukuman terakhir buatmu tapi setelah aku mendapat apa yang aku mau darimu!” jawab Ares penuh penandasan, sehingga Michelle mendongak lalu menatap tajam ke arah Ares.
“Apa yang kau mau dariku? Kau sudah ambil warisan milikku dan hanya menyisakan sepuluh persen. Oh, kau mau ambil semuanya?” tanya Michelle dibalas gelengan oleh Ares.
“Begini ya, aku tidak se –serakah itu kok soal harta. Aku masih sedikit memberi kehormatan menjadi putri b******n Harold itu dengan hartanya pula. Tapi ada yang lebih penting lagi yang aku yakin bisa kudapat darimu,” jelas Ares membuat Mochelle heran.
“Apa?” tanya Michelle. Dia tak merasa menyimpan apapun lagi yang bisa diambil Ares darinya.
“Sebuah rahasia!” jawab sepupunya membuat Michelle terbelalak.
Rahasia? Satu –satunya rahasia yang dipegang Michelle adalah soal kebenaran di balik kasus kematian Adinata, ayah dari Mikaela. Wanita itu mengepalkan tangannya sendiri karena tidak akan pernah buka mulut kepada Ares soal masalah itu karena akan merugikan dia pula. Dia adalah saksi kunci saat ini, karena hanya dia yang ada di tempat kejadian saat itu.
‘Apa dia tahu sesuatu soal kejadian malam itu? Matilah aku!’ batin Michelle mulai merasa tidak tenang jika Ares sampai mengetahui semua ini.
“Diam berarti iya kan?” Ares sedikit menekan Michelle.
“Siapa sebenarnya sasaranmu?” Michelle bertanya lagi.
“Semua yang menyakiti Mikaela. Terutama kau dan juga Marcel. Bukannya dia yang membuat wanita malang itu jadi begini?” jawab Ares semakin membuat Michelle ketakutan. Ares sudah berterus terang kalau dia akan menjadi sasaran balas dendam.
“Kau tidak paham alasan aku melakukan semua itu kepada Mbak Kaela! Kau tidak tahu semua situasinya! Dan Mas Marcel… dia juga hanya melakukan apa yang benar! Bagaimana kalau seandainya kau berada di posisi kami? Kau! Kau satu –satunya orang yang mesti bertanggung jawab atas semua ini, Ares!” tuding Michelle merasa tak terima dipersalahkan untuk semua yang menimpa Mikaela.
Dia merasa kalau dirinya juga adalah korban dari hidup yang tidak adil. Ditinggal oleh suaminya lalu melihat pria itu bersama dengan wanita lain. Mereka bahagia dan disuruh untuk menerima orang lain dalam hidupnya. Michelle dipermainkan dalam takdir kejam yang mengalahkan dirinya. Mengingat itu semua, Michelle menangis karena perih di hatinya kembali terasa. Luka itu terbuka kembali dan rasanya sakit sekali!
“Kau menangis? Mungkin kalau kau melakukan ini di depan adikku akan berpengaruh. Tapi sayangnya, aku tidak! Mungkin kau benar, aku lah sumber dari semua penderitaan Mikaela. Tapi aku bertanggung jawab, bukan menambah penderitaannya. Kutanya padamu, siapa yang salah saat Marcel memilih untuk bersama Mikaela demi Selena? Mikaela? Aku tahu dia sama sekali tak mengharapkan tanggung jwab Marcel! Tapi kau benci kepada Mikaela yang hanya menikah dengan b******n sial itu karena rasa kasihan dan tanggung jawab. Lalu, kenapa Mikaela yang salah?” Ares mencoba membuka pikiran Michelle.
“Jadi bagaimana? Kalau saja Mbak Kaela tidak menerima Mas Marcel, semuanya tidak akan terjadi!” Michelle mash berkeras menyalahkan Mikaela. Semua adalah karena Mikaela yang begitu beruntung. Mikaela mendapat semuanya dari lahir, berbeda dengannya yang berjuang untuk bertahan dalam liku –liku kehidupan yang kejam ini.
“Kau tau fakta kalau Mikaela bahkan mencoba lari tapi Marcel yang mengejarnya. Jadi siapa yang salah?” Ares kini membalikkan pertanyaan lagi kepada Michelle. Penyebab semua ini bukan siapa –siapa, tapi Marcel sendiri.
Semua jadi kacau karena kelakukan Marcel yang dimulai dari dia yang menghamili Mikaela lalu membawanya pergi meninggalkan segalanya. Setelah ada masalah, Marcel memilih untuk meninggalkan dia dan bersama Mikaela alih –alih tanggung jawab. Michelle tersadar, kalau harusnya dia tidak perlu kembali dan merasakan semua rasa sakit ini. Maka, dia pun berlutut di hadapan Ares.
“Aku tahu siapa yang salah! Ares, aku mohon! Beri aku satu kesempatan!” pintanya. Tapi Ares menatapnya sinis lalu menarik lengannya dan membawa Michelle ke tempat yang lebih privat. Semua orang bisa salah paham jika melihat Michelle yang berlutut di hadpaan Ares terlebih lagi di pinggir jalan. Kini, Ares memesan sebuah kamar untuk mereka berdua bicara empat mata.
Michelle hanya diam sambil menatap nanar kepada Ares. Pria itu bisa membunuhnya kapan saja, terlebih tidak ada orang lain di sini selain mereka. Wanita itu menggigit bibirnya kuat –kuat karena membayangkan nasib buruk yang akan dia dapatkan setelah ini.
“Aku pernah memeriksa sendiri kasus kematian adikku saat masih di penjara. Aku terkejut, karena kau terlibat ya?” Ares memulai perbincangan di antara mereka.
“Aku memang terlibat, tapi waktu itu aku ingin menyakiti Mbak Kaela saja. William datang dan dia menyadarkan aku untuk tidak membalas Mbak Kaela.” Michelle menjawab sesuai fakta waktu itu.
“Wah… menarik! Bukankah itu berarti, sebelumnya adikku sudah memberimu kesempatan untuk berbalik dari kesalahanmu?” tanya Ares membuat Michelle tertohok. Wanita itu meremas ujung bajunya karena merasa begitu bersalah dengan apa yang terjadi di masa lalu. Benar! Willy sudah pernah membuka mata hatinya supaya tak mendendam kepada Mikaela.
“Benar! Tapi…” Michelle menghentikan ucapannya lalu menatap Ares tajam. Pria itu membalas tatapan Michelle tak kalah tajam.
“Kau pernah bilang padaku untuk tidak membiarkan orang yang menghancurkan hidupku bahagia.” Michelle kini kembali menyalahkan Ares atas perubahan sikapnya.
“Oh! Aku ingat! Kita pernah bertemu di makam ya? Tapi apa benar, yang menghancurkan hidupmu adalah Mikaela?” selidik Ares seketika membuat Michelle terdiam.
Jawaban yang sebenarnya jelas, bukan! Tapi melihat Mikaela bahagia begitu menyiksa untuknya. Yang membuat Bapaknya meninggal adalah kedua mertuanya dan yang meninggalkan dia begitu saja adalah Marcel. Jadi, di mana kesalahan Mikaela di sini? Michelle benar –benar salah sasaran karena rasa iri dan dengki kepada wanita itu.
“Oh, sudah paham di mana letak kesalahpahamanmu? Baik, aku tidak suka basa –basi! Katakan padaku sekarang juga, apa rahasia Marcel yang ada padamu? Pria itu punya sesuatu yang membuatnya selama ini selalu ada di sisimu kan? Singkatnya, kalian bekerja sama!” Ares kembali pada poin utama supaya bisa mendapatkan sasarannya.
“Ada satu hal yang mungkin sedang dalam penyelidikan polisi, tapi aku tahu kebenarannya,” jawab Michelle pada akhirnya. Ya, sudah jelas dia memilih untuk mengungkapkan segalanya, karena Marcel adalah orang yang harusnya dia balas. Posisi Michelle juga sama sekali tidak menguntungkan kalau dia menutup mulutnya.
“Katakan!” perintah Ares kini menatap tajam Michelle. Mereka berdua duduk berhadapan di sofa dan dibatasi sebuah meja kayu kecil. Tapi aura menusuk dari tatapan tajam itu terasa begitu dekat buat Michelle.
“Pembunuh Tuan Djuanda adalah Mas Marcel!” jawabnya membuat Ares seketika terbelalak. Dia tidak menduga, kalau Marcel bisa melakukan hal sekejam itu kepada Adinata yang dirasanya sama sekali tidak bersalah kepadanya.
“Kau punya bukti?” Ares masih ingin tahu lagi. Entah kenapa, Michelle menurut saja lalu mengambil ponselnya dan mengirim sebuah video singkat kepada Ares. Saat melihat bukti itu, Ares terbelalak karena tak menyangka semua ini adalah sesuatu yang disembunyikan oleh Michelle.
“Hahh… orang itu! Dia ternyata sudah lebih gila dari aku ya? Baiklah, rahasia yang ingin aku ketahui sudah kudapat darimu. Sekarang, urusanku denganmu sudah selesai!” Ares tanpa basa –basi mengambil senjata api yang dia simpan di balik jasnya.
Michelle terbelalak dan napasnya tersenggal karena melihat benda yang kini diarahkan Ares tanpa ragu tepat kepadanya. Michelle merasa, dia sudah sampai di akhir perjalanan hidupnya. Maka, dia menutup matanya. Tidak bisa lari juga, bukan?
‘Mungkin, aku akan mati saat ini juga. Rose… maafkan Mama tidak bisa kembali!’ batinnya tanpa sadar mengeluarkan air matanya lagi.
“Titip salamku kepada orang –orang di alam kematian. Kalau kau beruntung dan bertemu dengan adikku, katakan padanya kalau kau menyesal sudah mengabaikan kesempatan darinya,” ujar Ares tidak dibalas oleh Michelle. Pria itu segera menarik pelatuknya dan-
‘DOR!’