Bond

2162 Kata
“Bu, aku ingin seorang adik perempuan yang cantik!” pinta seorang anak kecil kepada ibunya. “Ares, kamu kan sudah punya adik. Untuk saat ini belum dulu,” tolak sang ibu membuat anak itu merengut kesal. “Aku melihat seorang gadis kecil yang sangat menggemaskan di taman. Aku juga ingin bermain dengan adik perempuanku yang manis juga menggemaskan. Bukan adik laki –laki yang seperti anak perempuan,” kesalnya membuat sang ibu menggelengkan kepala. Maka, dia menjewer telinga anaknya itu dan berkata,” Jangan katai Simon seperti anak perempuan! Dia anak yang baik! Nanti Ibu bicarakan dengan ayahmu!” “Ibu pelit! Satu adik saja tidak bisa!” sewot anak itu membuat ibunya menghela napas kesal. “Sudah, bermain saja dengan anak perempuan di taman itu. Masih terlalu banyak hal yang perlu Ibu dan ayah urus, Ares!” ujar sang ibu kepada anaknya yang bernama Ares. Putra sulungnya yang berusia enam tahun. ‘Kalau aku punya adik perempuan, maka aku akan melindunginya dan membuatnya jadi perempuan paling bahagia dan beruntung, karena dia punya kakak sepertiku!’ batin Ares. Bayang –bayang itu membuat Ares terdiam. Dia baru saja menarik pelatuk pistolnya dan suara tembakan terdengar jelas di ruangan ini. Di depannya, ada seorang wanita yang menutup mata karena ketakutan. Tunggu! Dia memang menembak, tapi dia sengaja melesatkan arahnya. Pria itu merasakan tangannya gemetaran sampai dia menjatuhkan pistolnya. Saat mendengar suara pistol terjatuh, wanita itu yang tak lain adalah Michelle, membuka matanya. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya tak percaya. Dia masih hidup! ‘Kenapa dia tidak membunuhku?’ batin Michelle berpikir alasan dia masih dibiarkan hidup oleh orang yang dipikirnya sebagai sosok paling berdarah dingin di dunia ini. “Haha… kau terkejut ya?” Ares tersenyum mengejek dan segera mengesampingkan perasaan aneh yang membuatnya tidak jadi membunuh Michelle saat ini. “Apa maumu sebenarnya?” Michelle masih tidak paham dengan jalan pikiran Ares. Orang di depannya ini terlalu sulit ditebak sehingga dia begitu sulit memikirkan apa yang mesti dilakukannya setelah ini. “Bagaimana rasanya tadi, Michelle? Kau sudah siap bertemu dengan siapa, heh? Tapi kematian terlalu mudah untuk kau dapatkan kalau begini. Aku tak jadi membunuhmu, karena kurasa kau masih ada gunanya buatku,” balas Ares dengan tatapan sinisnya. “Kau ingin aku melakukan apa?” tanya Michelle. “Kembali ke Indonesia dan katakan kepada Marcel kalau kau tidak apa –apa. Jangan sampai dia tahu, kalau aku sudah menerima bukti ini. Dan aku rasa, kau mati tanpa membalaskan dendammu juga tidak seru!” jawab Ares sebagai perintah kepada Michelle mengenai apa yang mesti dilakukan oleh wanita itu sekarang. Michelle yang masih belum bisa mencerna semua ini dengan baik masih berupaya menstabilkan napasnya. ‘Orang gila ini tidak bisa ditebak! Aku pikir, dia akan langsung menghabisi aku. Ternyata, dia punya rencana lain lagi!’ batin Michelle dan tak lama dia sudah lebih tenang. Maka, Michelle berdiri lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini. Dan sepanjang dia keluar, dia tidak merasa ada yang mengikuti langkahnya. Dia benar –benar bisa keluar hidup hidup! Sementara itu di dalam, Ares mengusak surainya sendiri karena merasa kacau dengan pemikirannya. Harusnya, dia menghabisi Michelle dan membereskan jasad wanita itu. Tapi tiba –tiba, ingatan masa kecilnya membuat dia ragu melakukan semua ini. Kenyataan kalau dia dan Michelle adalah sepupu, membuatnya tidak bisa menghabisi wanita itu dalam sekejap. Ikatan persaudaraan di antara mereka seakan mejadi penghalang untuk dia melakukan kekejaman kepada Michelle. “Sial kau Ares! Apa yang akan kau katakan kepada Mikaela nanti? Dia pasti akan kecewa dan bilang aku hanya memikirkan keluargaku saja! Tapi… hanya dia yang tersisa kan? Selain anak –anakku, dia adalah saudariku walau dia adalah putri dari pamanku yang b******n itu. Anak –anak tidak seharusnya mewarisi kejahatan orang tuanya. Tidak! Aku benar –benar kacau!” Ares terus bergumam karena tidak tahu harus bagaimana. Dan sekarang, dia membiarkan Michelle pulang begitu saja. Ini semua benar –benar di luar dugaan Ares yang mengira kalau dia bisa dengan mudah saja melayangkan nyawa Michelle. “Aku ternyata masih manusia ya? Aku masih punya rasa kasihan juga! Lebih baik… sekarang aku ke apartemen dan bicara baik –baik dengan Mikaela soal masalah ini. Diapun mengangkat bokongnya lalu keluar dari kamar di mana dia bicara empat mata dengan Michelle tadi. Dia harus memberi penjelasan kepada Mikaela soal kegagalannya kali ini. *** Michelle dengan sigap menyusun barang –barangnya untuk kembali ke Indonesia. Ares sudah memberi dia akses untuk kembali, maka dia tidak boleh menyia –nyiakan itu! Siapa yang bisa menebak jalan pikiran Ares Pratama yang mungkin saja akan tiba –tiba membunuhnya nanti. Tapi tak bisa disangkal, Michelle masih kepikiran mengenai Ares yang membiarkan dia hidup. “Padahal, dia benci kepada pamannya kan? Sejak awal, dia selalu bilang ingin membuat aku menyusul orang itu. Tapi sekarang kenapa ya? Apa dia memang masih ingin memanfaatkan aku?” gumamnya memikirkan baik –baik kejadian tadi. Tapi tak lama, Michelle menggelengkan kepalanya dan segera bergerak untuk pulang. Michelle memang sudah mengkhianati Marcel, karena kini haluannya berubah drastis. Ares sudah mengarahkan tujuan dendamnya dengan benar. Incaran Michelle bukan lagi Mikaela, tapi Marcel dan keluarga Buana. Memang, mereka adalah keluarga Michelle saat ini. Tapi semua itu tidak bisa menutupi semua hal semena –mena yang sudah mereka perbuat kepada Michelle di masa lalu. Memang benar kata Ares, dia tidak boleh mati sebelum membalaskan dendamnya kepada mereka semua! “Walau aku menikah dengan si bungsu dari keluarga iblis itu, tapi tetap saja aku akan tetap membalas mereka. Michael, maafkan aku! Tapi semua ini sejak awal memang adalah kesalahan keluargamu. Mereka tidak bisa cuci tangan dari darah Bapak yang sudah mereka tumpahkan dengan menjadikan aku menantu!” monolognya sambil menarik koper untuk pergi ke bandara. Michelle akan kembali dan mengarahkan tinjunya dengan benar tanpa kesia –siaan lagi! *** Ares masuk ke apartemen dengan perasaan kacau. Pria itu pulang tapi tidak siap bertemu dengan Mikaela. Rasanya, seperti seorang pecundang yang tdiak bisa memenuhi janjinya kepada Mikaela. Padahal, dia ingin melakukan segalanya untuk Mikaela. Tapi sialnya, dia merasa sangat gagal saat ini. Saat menyadari kepulangannya, Mikaela menghampiri Ares. “Ares, bagaimana pertemuanmu dengan Michelle? Apa kau sudah mendapatkan rahasia yang sempat kau duga?” tanya Mikaela sama sekali tidak berbasa –basi soal ini. “Aku sudah dapat satu hal, tapi gagal melakukan hal lainnya,” jawab Ares dengan nada rendah. Mikaela mencoba menatap iris pria itu tapi Ares menghindar. Pria itu tidak mau Mikaela sampai menatapnya dan menyelidiki semuanya. “Kau gagal melakukan apa?” tanya Mikaela lembut sambil meraih tangan Ares. “Aku tidak bisa… menghabisi Michelle.” Ares menjawab lemah membuat Mikaela membelalakkan matanya. Menghabisi Michelle? Tunggu, Mikaela belum mendengar rencana demikian dari Ares sebelumnya. “Memangnya, siapa yang menyuruhmu melakukan itu?” tanya Mikaela. “Kaela, dia mencoba membunuhmu! Itu artinya, akan lebih baik kalau dia mati dan masalahnya selesai, bukan? Dia tak akan membuat masalah lagi denganmu jika sudah mati,” jawab Ares berdasarkan sudut pandangnya. Tapi Mikaela menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang sebenarnya dia mau! “Ares, apa kau tidak tahu betapa berharganya sebuah nyawa? Iya, benar dia mencoba membunuhku. Benar kalau aku ingin membalasnya. Tapi aku rasa, lebih baik membiarkan dia hidup dan menyesali semua kesalahannya. Entahlah, kau bisa mengatai aku aneh tapi Michelle juga berada di dalam situasi yang membuatnya nyaris gila. Dia juga kacau karena semua yang terjadi. Lebih baik, kita buat saja Marcel dan Michelle saling menyerang,” jelas Mikaela dari sudut pandangnya. Ares tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mikaela. Pria itu membuang mukanya karena ini adalah yang ke sekian kali Mikaela membuka pintu maaf untuk orang yang sudah menyakiti dia. Hati Mikaela yang begitu lembut ini lah yang membuat Ares masih ada kesempatan untuk berdiri di hadapan Mikaela lalu menebus semua kesalahannya dengan menjadi sosok yang melindungi wanita itu. “Dia cukup hidup dalam rasa malu setelah apa yang dia lakukan kepadaku. Dan lagi, mungkin setiap melihatku, dia akan terus menyesal. Aku memang tidak berniat baikan dengannya lagi, tapi tidak dengan melayangkan nyawanya. Dia punya seorang anak yang masih membutuhkannya. Kalau aku ingin membunuh dia, rasanya aku terlihat sama saja dengan dia, bukan? Aku tidak mau jadi orang jahat lagi.” Mikaela melanjutkan perkataannya. Ares selalu tersentuh dengan cara berpikir Mikaela. Dia menarik Mikaela ke dalam pelukannya dan mengelus surai panjang wanita ini. Dari luar, Mikaela terlihat begitu angkuh juga manja. Tapi di balik itu, dia memiliki perasaan lembut yang membuat setiap orang yang melakukan kesalahan kepadanya selalu mendapat maaf dengan mudahnya. Mungkin orang lain berpikir kalau Mikaela adalah wanita bodoh! Tapi mereka salah! Mikaela hanya tidak mau menghakimi apa yang bukan haknya. Cukup sekali saja dia melayangkan nyawa orang lain karena kemarahannya yang luar biasa. “Ares, jangan peluk –peluk, ih! Tapi bukan berarti aku akan diam saja! Aku akan rebut kembali universitas milikku saat kembali ke Indonesia!” jelas Mikaela sambil mendorong Ares menjauh darinya. “Ya, aku akan membantumu.” Ares membalas. “Itu bagus, tapi sepertinya bisnismu di sini sedang sangat sibuk. Dari tadi, aku sudah berpikir untuk melakukan semuanya sendiri. Di Indonesia, ada Kak Anye dan Kak Heinry. Mereka cukup untukku. Tapi mungkin aku akan kembali sekitar beberapa waktu lagi sih,” kata Mikaela menjabarkan rencananya. “Lalu si kembar?” tanya Ares soal anak mereka. “Aku akan bawa mereka. Kau bisa datang kapan saja kan? Biar aku yang jaga mereka ya?” pinta Mikaela kemudian diangguki oleh Ares. “Oh, iya? Boleh aku tahu rahasia apa yang kau dapat dari Michelle?” Mikaela kembali ke poin utama perbincangan mereka. Rahasia yang dipegang oleh Michelle. Seketika, Ares terdiam! Dia menatap Mikaela dan berpikir sebelum menyampaikan kebenaran mengerikan itu. ‘Tidak saat ini! Aku harus pastikan Mikaela siap mendengar semuanya!’ batin pria itu memilih untuk membiarkan mental Mikaela kembali pulih dulu, barulah dia menyampaikan kebenaran mengenai kematian Adinata. “Aku akan beri tahu padamu nanti. Oh, iya! Malam ini ada pesta perayaan yang aku buat sebagai penyambutanku yang menjadi pimpinan lagi. Ikutlah denganku!” Ares mengalihkan perhatian Mikaela dari rahasia yang masih dia simpan ini. Dia akan beri tahu jika sudah waktunya. “Hm… baiklah!” Mikaela mengangguk saja. “Sekalian, nanti malam kita resmi kembali ke mansion,” sambung Ares lagi. “Kita? Mungkin kamu saja! Aku ini bukan pasanganmu dasar bodoh! Aku mungkin ibu dari kedua anakmu, tapi aku merasa tak ada gunanya menikah lagi. Menghadapi pria itu rasanya membuat aku lelah!” sanggah Mikaela saat Ares menyatakan ‘kita’ di antara mereka. Ya, pria itu sadar kalau Mikaela masih mengeraskan hatinya. “Jadi, bagaimana dengan permintaanmu supaya aku tidak meninggalkanmu?” tanya Ares lagi. “Itu… ya maksudnya supaya kau tidak mengabaikan aku saat aku butuh bantuanmu. Itu saja!” tegas Mikaela. Wanita itu masih berkeras kalau dia sama sekali tak punya perasaan apapun kepada Ares. Hanya ingin memanfaatkan Ares, itu saja! Mendengar itu, Ares menarik senyumannya dan bersandar di dinding sambil bersidekap d**a. Pria itu menatap Mikaela sehingga wanita itu menyipitkan tatapannya. “Kalau aku menikahi perempuan lain… kau tidak akan marah?” tanya Ares dengan nada iseng sehingga membuat Mikaela menatapnya seakan ingin mengeluarkan bola matanya. ‘A –apa? Dia serius ingin mencari perempuan lain? Dasar orang gila!’ batin Mikaela sama sekali tidak terima kalau Ares dengan mudah membuangnya. “Ka –kau b******k! b******n tengik! Bagaimana bisa ka bicara begitu padaku, huh? Setelah… setelah yang kau lakukan padaku?” Mikaela tidak terima dan sangat marah. Ares sudah menduga Mikaela pasti akan memasang ekspresi seperti ini. Sedikit banyak, dia sudah paham kalau Mikaela tidak mau dia pergi. “Hahahahah! Memangnya, aku terlihat seperti itu?” tanya Ares setelah tertawa melihat kekesalan Mikaela. Wanita itu mengerucutkan bibirnya dan mendesah kesal. “Biar saja kau menikah dengan perempuan mana pun yang kau suka! Tapi asal tahu saja, aku tetap harus melakukan semua kemauanku dan tidak mengabaikan aku! Kuharap, istrimu nanti tidak akan cemburu padaku!” balas Mikaela lalu berbalik sambil melangkah kesal. “Kenapa kamu marah?” tanya Ares mencoba mengetahui apa yang dirasakan Mikaela kepadanya. “Aku tidak mau kehilangan b***k! Dan aku bukan tuan putri yang baik kepada budaknya!” Mikaela masih beralasan bahkan tanpa berbalik menghadap Ares. Melihat pria itu dia kesal apalagi membayangkan pria itu menikah lalu bahagia dengan orang lain. ‘Sial! Kenapa sekarang aku malah tidak rela!’ pikir Mikaela tak tenang. “Mikaela! Aku mencintaimu!” teriak Ares membuat langkah Mikaela terhenti. Tanpa sadar, dia menarik senyumannya karena mendengar pernyataan cinta dari Ares. Dia sebenarnya tahu kalau tidak semudah itu Ares berubah. Hatinya memang tidak tenang karena sudah dikecewakan oleh Marcel sebelumnya. Ares berbeda dengan Marcel, tapi untuk saat ini, Mikaela masih sangat enggan membalas perasaan pria itu. Wanita itu mengepalkan tangannya. ‘Aku tidak boleh mudah jatuh cinta lagi!’ Trauma itu membuat Mikaela sulit yakin akan perasaannya sendiri. “Aku sedang marah padamu ya!” ujar Mikaela lalu melanjutkan langkahnya. Dan Ares, dia masih tersenyum ke arah Mikaela. ‘Aku senang kalau kamu sudah mulai lebih baik,’ batin Ares tanpa sadar tersenyum begitu lama. Mungkin, ini adalah rekor senyum sungguhan dari Ares Pratama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN