Mikaela memerhatikan gaun yang dibelikan khusus oleh Ares untuknya. Dia memang masih dalam rencana untuk menghancurkan Marcel juga Michelle. Tapi untuk sekarang, mungkin dia bisa sedikit bersantai karena merasa akhir –akhir ini dia pun terlalu banyak berpikir. Semua berjalan sesuai dengan rencana Ares dan kedua orang itu sudah kembali ke Indonesia.
“Saat aku kembali pun, akan kubuat mereka hancur. Tapi… aku masih penasaran dengan rahasia yang dipegang oleh Michelle. Ah, biarkan saja lah! Ares pasti akan memberi tahu semuanya kepadaku nanti!” gumam Mikaela sambil memerhatikan wajahnya di cermin.
Saat melihat pantulan dirinya sendiri, berulang kali Mikaela merasa miris. Dia memang cantik dan juga berasal dari keluarga kaya raya. Tapi hidupnya penuh tantangan juga banyak hal yang tidak menyenangkan. Mikaela memegang wajahnya yang dia rasa sudah terlihat tanda penuaan, karena dia pun sudah dua puluh delapan tahun.
‘Susah menjadi wanita! Mereka harus terus menjaga penampilan supaya tidak disepelekan oleh suaminya. Terlebih lagi, kalau suaminya adalah dari kelas atas. Ini adalah alasan kenapa setelah semua ini selesai, maka aku tidak mau menikah lagi. Aku tidak bisa percaya kepada pria lagi,’ batinnya. Mikaela memang merasa miris sendiri dengan penuaan yang memang alamiah terjadi kepada manusia, padahal dia sudah berusahauntuk merawatnya.
“Kaela, sudah selesai?” tanya Ares dari balik pintu kamar.
“Iya, sebentar lagi aku selesai!” jawab Mikaela.
‘Walau dia berulang kali menyatakan cintanya, aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Semua yang terjadi sudah cukup menyakitkan!’ katanya lagi dalam hati karena merasa dia hancur karena cinta. Maka sekarang, Mikaela meraih lipstick dan mempoles ke bibirnya. Dia dan Ares akan datang ke acara penyambutan pria itu sebagai pimpinan baru dengan nama William Simon. Mikaela masih harus berkontribusi untuk mensukseskan rencana ini. Meyakinkan semua orang mengenai identitas palsu Ares sebagai adiknya sendiri adalah rencana yang harus mereka selesaikan sebelum melangkah lagi.
***
Indonesia
Mansion Buana
Marcel sudah tiba di mansionnya. Dengan perasaan kesal, dia mengambil koper dari bagasi lalu masuk ke dalam. Pasti akan banyak pertanyaan yang dilontarkan untuk Marcel dan lagi, dia sama sekali mendapat harta yang dia kejar dengan merebut milik orang lain. Rasanya, dia benar –benar ditipu habis juga dipermainkan oleh Ares Pratama. Saat akan masuk, pintu mansion terbuka lalu menampilkan sang ibu yang terkejut akan kepulangannya.
“Marcel, kamu sudah pulang?” Ribka begitu terkejut.
“Ya… begitu lah Ma,” jawab Marcel lemas.
“Sudah pulang? Harusnya sebelum ke Boston, kau mengecek benar tidaknya kematian Ares Pratama! Lihat! Warta berita sudah habis –habisan membahas soal ini!” ujar Elmand dengan sangat kesal kepada Marcel. Pria itu merasa nama baik keluarga Buana benar –benar sudah dipermainkan di sini dan lagi oleh Marcel yang sempat dia banggakan. Marcel yang mendengar itu mengepalkan tangannya.
“Aku memang agak gegabah, Pa.” Marcel meyatakan penyesalannya.
“Iya, dari dulu kau selalu gegabah dalam mengambil keputusan! Selalu saja mengikuti emosi dan tidak memikirkan hal lain! Ck! Masuk dulu! Kita bicara di dalam!” Elmand sangat emosi bahkan lupa kalau belum membiarkan putranya masuk ke dalam. Marcel masuk dengan perasaan yang begitu kesal karena berulang kali teringat peristiwa di Boston.
“Papa, jangan marah –marah sama Marcel ya? Kamu gak lihat, dia pun sudah pusing memikirkan semua ini,” kata Ribka berusaha mendinginkan situasi.
“Tapi ini benar –benar memalukan, Ma! Marcel dengan percaya diri bilang ke kita sudah menghabisi Ares Pratama, tapi kenyataannya katanya William Simon belum mati sebagai pewaris sesungguhnya! Saat melakukan identifikasi, semua pihak terkait mengakui kalau William Simon belum meninggal! Gilanya lagi, catatan kematian William sudah lenyap! Ini pasti pekerjaan Ares kan?” Elmand menjelaskan hasil penyelidikannya selama dua puluh empat jam terakhir. Karena mendengar berita yang buruk, Elmand berusaha mencari celah untuk membela Marcel, tapi sayangnya tidak ada.
“Maksud Papa, William dinyatakan masih hidup? Bukannya ada makamnya di sini?” heran Marcel.
“Tidak ada! Papa yakin lokasinya di sekitar makam orang tuanya, tapi tidak ada! Malah makam yang diduga milik William sudah dibongkar dan itu bukan miliknya. Papa sudah periksa ke ahli forensik!” jelas Elmand. Kalau Elmand menyelidiki seusatu tidak akan pernah tanggung –tanggung, bahkan sampai ke akar –akarnya.
“Sial! Ares pasti sudah sengaja merencanakan semua ini!” kesal Marcel lagi. Dia berhasil dibuat terpojok, baik di Amerika juga di sini.
“Dengar, Nak! Papa yakin, dia tak akan pernah berhenti sampai di sini! Kau pun harus bersiap!” Elmand memberi aba –aba kepada putranya supaya tidak lengah lagi. Sudah cukup semua yang terjadi juga mempermalukan nama baik keluarga mereka.
“Maaf, Pa! Aku tidak akan gegabah lagi,” ujar Marcel sebagai tanggapan kepada ayahnya.
“Kak? Michie di mana? Apa dia tidak bersama denganmu?” tanya Michael yang baru keluar dari kamarnya. Marcel mengangkat kepalanya lalu menggelengkan kepala kepada adiknya. Dia sungkan membiicarakan soal Michelle kepada adiknya, karena sudah sengaja melakukan perselingkuhan dengan adik iparnya sendiri.
“Oh, begitu ya? Jadi bagaimana di Amerika?” tanya Michael polos dibalas tatapan tajam juga mematikan oleh Elmand. Michael terdiam lalu mendengus kesal. Artinya, dia tidak perlu tahu masalah ini karena sudah pasti sangat sensitive.
“Marcel, kamu istirahat dulu ya?” suruh Ribka karena yakin putranya pasti lelah setelah perjalanan jauh dari Amerika ke Indonesia. Hari memang masih pagi, tapi Marcel sudah cukup lelah bukan saja jasmani tapi pikirannya pula.
“Pa! Ma! Aku juga mau kasih tahu, kalau Mikaela masih hidup,” ujarnya kemudian membuat Elmand dan Ribka saling melirik satu sama lain.
Mikaela yang tidak ditemukan berhari –hari di danau yang dalam ternyata masih hidup. Ini merupakan kebenaran lainnya yang sangat mengejutkan dan akan membawa masalah besar berikutnya ke dalam keluarga ini.
“Jadi, kau bertemu dengannya di Boston?” tanya Ribka dibalas anggukan oleh Marcel.
“Dasar jalang itu! Menjijikkan sekali! Pasti dia bersama dengan Ares berselingkuh,” kesal Ribka kepada wanita yang sebentar lagi resmi tak akan menyandang nama keluarga mereka yang selalu dibanggakan.
“Ma, gak usah berlebihan! Lagian, Kak Marcel sudah menceraikannya,” ujar Michael membuat yang lain tertegun. Tunggu! Michael bicara seakan membela Mikaela yang bersama dengan Ares.
“Michael, apa otakmu sudah rusak ya? Kenapa kau membela p*****r dari keluarga Djuanda itu? Ah, Papa ingat! Kau memang sudah pernah rusak sebelumnya!” sinis Elmand yang tidak suka mendengar penuturan si bungsu.
“Papa masih saja mengingat semua itu ya? Tapi bukannya itu adalah hal yang lumrah? Wajar saja jika Kak Mikaela mencari perlindungan lain kala kakak sudah membuangnya. Sebenarnya pun, aku tidak setuju dengan cara kakak membuang istrinya begitu saja. Semua masih bisa dibicarakan baik –baik! Ya, tapi sekali lagi itu bukan urusanku, makanya aku diam.” Michael tak takut memberi pernyataan.
“Michael! Kau ini benar –benar-“ Elmand nyaris ingin menghajar putra bungsunya tapi Marcel menahan sang ayah. “Cukup Pa! Setiap orang berhak berpendapat. Tapi adikku, sebenarnya kau itu terlalu naïf!” balas Marcel lalu melangkahkan kakinya melewati Michael.
Dia sedang tidak ingin banyak bicara karena semua yang terjadi. Semua hal yang benar –benar di luar perkiraannya. Saat akan melangkahkan kakinya ke kamar, dia melihat Selena yang baru keluar sambil mengucek matanya. Kelihatannya, gadis kecil itu baru saja bangun. Marcel tidak bisa menahan senyumanannya lalu meraih Selena ke dalam gendongannya.
“Sayang, baru bangun ya?”
“Papa sudah pulang? Mana Mama?” tanya Selena sambil melihat ke belakang Papanya. Tapi sayang, tidak seorang pun yang pulang bersama papanya. Selena kemudian menata sendu ke arah sang ayah sambil berkata,” Papa dan Mama mau pisah lagi?”
‘DEG!’
Pertanyaan yang dilontarkan Selena benar –benar membuatnya semakin terpojok. Wajah sendu dari putri yang sangat dia sayangi ini kembali membuatnya berpikir, betapa hancurnya Selena saat dia akan benar –benar berpisah lalu tak membiarkan Mikaela bertemu dengan Selena lagi. Bagaimanapun, Selena sangat dekat dengan ibunya tapi begitu sayang kepada ayahnya. Ini akan sangat berat jika dia kehilangan salah satunya.
“Nak, untuk sekarang Papa tidak bisa bawa Mama pulang.” Marcel bicara dengan penuh penyesalan.
“Tapi besok? Kita akan kumpul lagi kan, Pa? Kita akan sama –sama lagi?” tanya Selena semakin menampar Marcel. Kmebali bersama Mikaela setelah semua ini? Tidak mungkin! Tapi… apa Mikaela mau jika itu demi Selena?
Marcel benar –benar memikirkan semua itu dengan matang sebelum memikirkan keputusan berikutnya. Sekali lagi dan itu demi Selena. Memang, jika dia kembali menarik Mikaela bersama dengannya, maka semua masalah akan selesai kan? Kedua bayi kembar Mikaela juga bersama dengan ayahnya di Amerika. Tidak akan ada lagi yang akan ganggu mereka kan? Biarlah mereka bersama selaku orang tua Selena.
“Iya, Sayang! Nanti… Papa akan usahakan untuk bersama Mama lagi!” ujarnya membuat Selena bersorak.
“Yeaayy! Okay, Pa! Tulunin Selena dong! Mau makan sama nenek,” pinta gadis kecil itu lalu Marcel menurunkan putrinya. Marcel terus memandang Selena dan berulang kali menghela napasnya.
‘Aku mungkin masih bisa mengajukan pembatalan perceraian sebagai penggugat,’ batin Marcel merasa semua ini masih ada kesempatan. Entah takdir akan berpihak padanya lagi atau tidak, lihat saja kedepannya. Karena Marcel sudah menyia –nyiakan kesempatan yang berusaha diulurkan oleh Mikaela. Benang takdir di antara Mikaela dan Marcel sudah terlalu kusut sehingga adalah hal yang mustahil membenarkannya kembali. Semuanya sudah terlalu sakit! Tapi… siapa yang tahu masa depan?
***
Michelle duduk pesawat sambil menyesap minuman yang diberi oleh salah seorang pramugari yang bekerja di sini. Dia tak memberi tahu siapa pun soal kepulangannya ke Indonesia. Sudah beberapa jam perjalanan dan sebentarlagi transit. Tapi Michelle sama sekali tidak merasakan ketenangan di dalam kepalanya. Rasanya, dia begitu kacau karena apa yang terjadi di Boston. Ah, bukan itu saja! Tapi juga yang terjadi sebelumnya.
‘Benar kata Ares, harusnya aku tidak menyakiti Mikaela. Andai saja aku bisa memutar waktu, harusnya aku tidak serang dia. Aku benar –benar salah sasaran yang malah membuat aku terpojok juga. Sekarang, Ares sudah menyimpan rahasia Mas Marcel. Kira –kira, apa yang akan dilakukannya nanti ya?’ pikirnya tidak berhenti.
Ares memang membiarkannya kembali ke tanah air. Tapi bukan berarti dia akan memperoleh kebebasan. Michelle merasa kalau dia akan terus diawasi oleh Ares dan pembalasan berikutnya akan segera menyusul walau tampaknya ini adalah waktu yang aman. Tak lama, Michelle meremas ujurng bajunya sendiri sambil menggelengkan kepalanya.
“Tidak! Mereka tidak boleh menghancurkan aku! Semua ini adalah salah keluarga Buana dan Mas Marcel! Ah, tidak juga! Sebenarnya pun, Tuan Adinata juga ikut mengacaukan semuanya!” gumamnya dengan perasaan yang benar –benar tidak terkendali. Untung saja, dia tak bereaksi berlebihan dan mengalihkan atensi penumpang lainnya. Tapi memang, tidak akan ada ketenangan untuk seorang penjahat.
***
Boston, USA
Mikaela keluar dari kamarnya. Ares sudah menunggu di depan kamar sambil bersidekap d**a. Saat melihat penampilan Mikaela dengan gaun hitam yang dia belikan, pria itu tersenyum karena mengagumi kecantikan Mikaela. Pria itu tidak pernah berhenti mengagumi kecantikan wanita yang melahirkan anak –anaknya ini. Rasanya, ingin sekali dia memberi segalanya kepada Mikaela supaya wanita ini mau berama dengannya. Walau dia sudah bertekad tidak akan memaksanya lagi.
“Kenapa hanya menatap? Si kembar sudah lebih dulu dibawa ke mansion dan setelah pesta ini, kita akan ke mansion kan?” tanya Mikaela karena Ares hanya menatapnya saja dan tak bicara sepatah kata pun.
“Ah, benar! Aku hanya sedang mengagumi dirimu,” balas Ares setelah sadar dari lamunannya.
“Ares, sadarlah! Kecantikanku ini mungkin hanya akan tahan sampai usia empat puluh. Setelah itu, semuanya pudar! Apa kau masih akan menatapku juga jika sudah tidak seperti sekarang? Pasti, kau hanya akan mendecih lalu merasa bodoh sekali,” ujar Mikaela sinis membuat Ares tertegun. Oh, Mikaela memikirkan hal begini lagi.
“Lebih bodoh pria yang menyia –nyiakan wanita yang sudah bersamanya sejak muda. Aku merasa, kecantikan itu relative. Selain kecantikan, kamu juga punya aura yang luar biasa. Kurasa itu tidak akan dimakan usia. Ya, tak semua akan dimakan usia kan, Kaela? Contohnya kepintaran.” Ares beropini.
“Jangan terus memujiku! Pujian itu akan hilang suatu hari nanti!” Mikaela masih sinis. Karena banyak realita bahwa pria akan berubah ketika istrinya sudah tak cantik lagi.
“Semua itu bergantung dengan pola pikir pasanganmu! Apa yang dia harapkan dari wanitanya! Kalau aku sih, hanya ingin menjaga kamu sampai tutup usia. Memberikan segalanya lalu membuatmu bahagia,” kata Ares membuat Mikaela terdiam. Perkataan Ares benar –benar realistis juga tak melebih –lebihkan. Semuanya bergantung cara pandang setiap orang mengenai cinta itu sendiri.