Decision

1791 Kata
Rumah Sakit Sudah dua hari Mikaela tak sadarkan diri pasca melahirkan bayi kembarnya. Sebenarnya, bisa bisa langsung sadarkan diri. Tapi karena permintaan sang ayah kepada pihak dokter, maka dia baru bisa membuka matanya setelah dua hari. Keadaan Mikaela harus benar –benar stabil saat menerima kenyataan yang sangat menyakitkan ini. Wanita itu memerhatikan sekitanya dan dia sendirian. Belum ada yang menjenguk dirinya. ‘Tak ada seorang pun di sini?’ batinnya sedih dan tak lama terbukalah pintu ruang rawatnya. Dia melihat Papa dan seorang perawat sedang berjalan masuk. Senyuman terukir di wajah cantiknya dan Mikaela pun mendudukkan tubuhnya. “Papa!” panggilnya mengalihkan perhatian Adinata. Pria yang sudah nyaris kepala enam itu langsung terbelalak dan berjalan ke ranjang tempat putrinya berbaring. “Di mana Marcel? Apa dia bekerja?” tanya Mikaela untuk pertama kali. Adinata terdiam tak mampu bersuara ketika mendengar pertanyaan yang pertama kali diajukan putrinya. Demi apa pun, hatinya hancur karena kenyataan sangat buruk. “Ah! Bagaimana dengan anak –anakku? Apa mereka berdua sehat?” Mikaela bertanya lagi. “Cucu kembar Papa sehat. Apa …kamu mau melihat mereka?” Adinata akhirnya bersuara kala Mikaela mengalihkan pembicaraan soal kedua anaknya. “Tentu saja, Pa! Bagaimana Selena? Dia pasti kesepian karena aku tidak ada. Huftt! Aku ibu yang buruk ya,” gumam Mikaela dibalas gelengan oleh Papanya. “Tenang saja! Selena di mansion kita bersama dengan Paman dan bibinya. Suster, tolong bawakan si kembar ke sini ya. Ibunya ingin memeluk mereka.” Adinata memberi perintah kepada suster yang bertugas. Mikaela sudah menunggu saat ini. Saat di mana dia akan melihat anak kembar yang dia kandung selama sembilan bulan. Awalnya dia takut. Tapi, saat Marcel merawatnya dengan penuh kasih sayang, dia tahu kalau kedua anak ini sangat dinantikan. Si kembar yang dia yakini akan mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ah, Mikaela sangat penasaran dengan wajah kedua anaknya itu. Tak lama, masuklah suster dengan mendorong dua box bayi. Bayi perempuan yang sangat cantik itu langsung diraih Adinata dan dia berikan kepada Mikaela. Wajah Mikaela berbinar saat melihat bayi perempuannya sangat cantik, persis seperti dirinya. Dia menciumi wajah mungil itu dengan penuh kasih sayang. Ah, anaknya masih tidur dan mungkin sudah diberi s**u formula oleh rumah sakit. Dan setelah itu, sang ayah mengambil sang bayi perempuan lalu sang suster memberi bayi laki –laki yang satunya. Mikaela meraih bayinya dengan wajah bahagia. Tapi saat melihat wajah bayi itu, matanya terbelalak. Bentuk wajah dan matanya sangat mengingatkan Mikaela kepada seseorang. Orang yang menghancurkan hidupnya. Tubuhnya bergetar dan anak laki –laki itu kembali mengingatkan soal identitas yang sebenarnya dari kedua anak kembar itu. “Ini anak orang itu! Jauhkan mereka dariku!” Mikaela langsung memberi bayi itu kepada ayahnya. Adinata se – segera mungkin meraih bayi laki –laki itu dan menaruhnya di box bayi. Oh, keadaan seperti ini lah yang sangat dia khawatirkan. “Pa! Apa Marcel melihat anak itu?” tanya Mikaela dengan nada ketakutan. “Dia langsung pergi saat melihat bayinya, Kaela. Dan Marcel tidak pernah kembali setelah itu,” jawab Adinata dengan nada sendu. Mikaela langsung shock bukan main dan pikirannya luar biasa kacau! Ini yang dari dulu dia takutkan. Mikaela tahu, sepandai apapun dia berusaha menutupi identitas anak –anaknya, ujung –ujungnya juga akan ketahuan. “Hikss! Tidak, Pa! Aku hancur, Pa! Ha –harusnya aku lenyapkan mereka waktu itu! Aku tidak mau begini! Mereka adalah anak pria itu!” tangisnya dengan keras. Mikaela sangat tertekan sambil menarik rambutnya sendiri. Ia tak siap kalau Marcel harus meninggalkan dirinya. Adinata dengan cepat langsung memeluk dan menenangkan putrinya. “Sshh! Kaela! Harusnya kamu bilang semua ini dari awal. Tapi tak ada gunanya ini diungkit lagi. Kamu harus menerima dan memberi kasih sayang kepada si kembar. Mereka anakmu juga!” kata Adinata dengan demikian lembutnya. Namun Mikaela menggeleng keras sebagai jawaban. “Gak, Pa! Kalau karena mereka Marcel meninggalkanku, maka lebih baik mereka dibuang saja!” balas Mikaela dengan nada yang sedemikian tega. Adinata terkejut dan langsung melepas pelukannya untuk menatap tajam ke arah putrinya. “Membuang anak –anakmu? Kaela, kamu itu seorang ibu! Layakkah kamu bicara seperti itu?” Adinata mempertanyakan maksud perkataan putrinya. “Anak? Anak itu harusnya memberi kebahagiaan, bukan mimpi buruk! Harusnya dulu aku aborsi mereka, karena anak dari si b******k itu tak selayaknya mendapat kehidupan seperti ayahnya,” jawab Mikaela lagi dan hal ini benar –benar memancing emosi Adinata. Bisa –bisanya Mikaela bicara begitu pada anaknya sendiri dan juga cucunya. “Beri saja dia kepada b******n itu!” ujar Mikaela lagi dengan nada tak peduli. ‘PLAK!’ Sebuah tamparan dilayangkan oleh Adinata kepada Mikaela. Setelah sekian lama, Adinata lagi –lagi menampar putrinya itu. Dia tak mau melakukan ini, tapi Mikaela harus sadar akan kata –katanya. Tidak seharusnya seorang wanita yang melahirkan anaknya bicara begitu soal bayinya. Mikaela terdiam walau air matanya terus mengalir. Dia tahu, perkataannya tadi pasti membuat sang ayah marah dan kecewa. “Kaela, kamu yang paling tahu bagaimana rasanya dibesarkan tanpa seorang ibu. Kamu selalu merindukan sosok ibu. Tapi kenapa kamu bicara begitu soal anakmu? Dulu juga kamu mau membunuh Selena saat berada di kandungan. Kapan kamu berubah? Harusnya yang terjadi di masa lalu dijadikan pelajaran!” tegas Adinata membuat Mikaela terdiam. Ia menangis tanpa suara sementara air matanya terus saja mengalir. Keadaan ini sangat membuat dirinya tertekan. “Pa, aku tahu! Tapi, lebih baik mereka hidup di bawah naungan pria itu! Setelah lebih baik, aku akan mengeluarkannya dari penjara,” kata Mikaela masih tetap keras kepala. “Pikirkan dulu keputusanmu, Kaela!” bujuk Adinata lagi tapi wanita itu menggeleng. “Aku tidak mau membesarkan anak dari pria yang menghancurkan hidupku.” Putrinya masih berkeras. “Kurasa, aku memang sudah salah terlalu memanjakanmu selama ini. Kaela, kau akan menyesali semua ini suatu hari nanti!” Adinata menyerah dan Mikaela hanya bungkam. Dia mengalihkan perhatiannya ke arah jendela rumah sakit untuk melihat pemandangan di luar sana. “Oeee!!!” Suara tangis bayi mengalihkan perhatian keduanya. Adinata dengan sigap meraih bayi laki –laki yang terbangun sambil menenangkannya. Mikaela hanya menatap datar dan terkesan sama sekali tak peduli. Saat Adinata mencoba memberi bayi itu kepada Mikaela, dia tak mau menerimanya. “Bayi merepotkan!” sinisnya dan membuang muka dari anaknya sendiri. “Ssshh! Cucu opah sayang! Jangan nangis ya. Mama kamu masih belum pulih. Nanti juga Mama kamu akan menggendong dan menyayangi kamu,” ujar Adinata berusaha menenangkan cucunya itu. Bayi ini adalah cucu lelaki pertama dari anak perempuan kesayangannya. Ah, baik laki –laki atau pun perempuan juga sama saja bagi Adinata. Dia akan menyayangi semua cucunya yang kini sudah berjumlah enam orang. “Pa, jauhkan dia dariku! Suara tangisannya mengganggu! Aku mau istirahat!” keluh Mikaela membuat Adinata menatap kesal kepada putrinya. Mendengar suara Mikaela, sang bayi menangis lebih keras lagi. Hal itu membuat tensi Mikaela naik dan tak bisa menahan diri. “Bayi sial! Menjauh dariku!!!” teriaknya lagi sambil berusaha meraih bayi itu dan menutup mulutnya. Oh! Adinata merasa Mikaela benar –benar sudah sampai ke tahap tertinggi depresinya. Dia meletakkan bayi itu dengan pelan dan menyuruh suster membawa anak itu kembali ke ruang bayi. Adinata menahan Mikaela dan menatap dengan sangat marah kepada Mikaela. “Kau mau membunuh anakmu sendiri? Kau manusia, Mikaela? Kau bilang, kau sangat membenci ayah dari anak –anakmu kan? Tapi sepertinya, kau malah meniru sikap gilanya dan jauh lebih gila lagi! Kau benar! Mereka akan lebih baik jika berada di dalam pelukan Ares. Karena Ares akan menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Tak seperti ibu yang melahirkan mereka!” kata Adinata lagi lalu meninggalkan Mikaela sendiri di ruangannya. Di satu sisi, dia paham kalau saat ini Mikaela sangat kacau. Tapi bagaimanapun, Mikaela harus menerima kedua anaknya itu. Soal Marcel, mungkin saja masalah ini bisa diluruskan jika semuanya sudah lebih baik dan stabil. Melihat kepergian sang ayah, Mikaela terdiam sambil menangis dan menekukkan kaki untuk menyembuyikan wajahnya. Dia tak tahu mau bilang apa lagi untuk saat ini. Karena saat ini, mimpi buruk yang membuatnya gila akan segera tiba. *** Mansion Buana “Marcel, kamu sudah keluar, Nak? Astaga, kamu belum makan sampai dua hari. Sini duduk dan makan ya,” ujar Ribka sambil menyiapkan makanan untuk putra sulungnya itu. Mansion terlihat sepi karena Papa dan adiknya sedang bekerja. Di mansion hanya ada Michelle dan mamanya. “Ma, di mana Selena?” tanya Marcel. “Dia berada di mansion keluarga Djuanda.” Ribka menjawab lalu menyodorkan sepiring nasi dan banyak lauk yang tersaji di hadapan Marcel. Pria itu sama sekali tak napsu makan karena yang di pikirannya saat ini adalah mengenai Selena. Dia sudah memutuskan sesuatu di dalam hati dan pikirannya. “Selena harus bersama kita, Ma! Karena aku rasa, menceraikan Mikaela adalah pilihan yang harus aku ambil saat ini,” katanya mengejutkan Ribka. “Ka –kamu yakin ingin menceraikan Mikaela? Papanya sudah memberikan warisan yang besar ke kamu loh. Mu –mungkin kedua anak itu bisa diasingkan ke panti asuhan atau diberi kepada ayahnya saja.” Ribka menyarankan tapi Marcel menggeleng. “Apa Kaela mau meninggalkan anaknya? Mungkin, aku akan memikirkannya jika dia bersedia. Walau perasaanku kepadanya sudah lenyap semenjak melihat anak itu. Mikaela berbohong dan menipuku selama ini. Padahal, selama hampir delapan bulan aku memberi kasih sayang kepada anak yang dia kandung itu. Padahal, ayah dari anak itu hanya b******n sial tak tahu diri!” balas Marcel membuat Ribka tertegun. Menurutnya, semua ini memang murni salahnya Mikaela yang tak mau jujur dari awal. Dan lagi, apa kata orang kalau tahu Mikaela sudah melahirkan anak dari pria lain? Bisa –bisa, nama baik keluarga Buana yang terhormat ini akan tercoreng habis. Ribka tak mau itu terjadi! Kalau Marcel menceraikan Mikaela, wanita itu bisa dituntut berselingkuh dengan bukti anak kembar itu. Ah, semua ini jadi sangat rumit! “Siang, Kak!” Panggilan Michelle mengalihkan perhatian mereka berdua. Wajah Michelle terlihat sedemikian berseri sambil duduk di sebelah mertuanya. “Akhirnya, Kak Marcel bisa lebih baik ya,” lanjutnya lagi. “Hai, Michelle! Bagaimana Rose?” Marcel membalas perkataan Michelle dan membuat senyuman semakin terkembang di wajah mantan istri pria itu. “Rose baru saja tidur. Anak itu sangat lucu dan menggemaskan. Nanti saat jadwal imunisasi yang ketiga, Mama bisa temenin lagi ya,” jawab Michelle sambil bicara kepada mertuanya. Ribka dengan senang hati mengangguk kepada Michelle karena dia akan melakukan apa saja demi cucunya. Marcel hanya terdiam mendengar pembicaraan itu karena merasa dia tak punya kesempatan untuk merawat seorang bayi kecil yang adalah miliknya. Yang di pikirannya saat ini adalah Mikaela yang sudah tega menipunya dan dia sama sekali tak terima. Dan samapi kapan pun, Marcel takkan menerima anak itu terlebih lagi bayi laki –laki yang mirip sekali dengan Ares. Michelle sedikit memicing memerhatikan ekspresi Marcel yang kesal. Wanita itu menyeringai tanpa terlihat karena senang rumah tangga Marcel sudah sangat kacau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN