Divorce

1036 Kata
Marcel masih terdiam sejenak dan kebetulan sedang keluar untuk bertemu dengan beberapa rekan arisannya. Kini, di dalam mansion itu hanya ada Marcel dan Michelle. Kebetulan pula, Rose sedang tertidur dan Michelle merasa ini adalah saat yang aman untuk memulai rencananya. Maka, wanita itupun menghampiri Marcel yang sedang melamun di sofa ruang tamu. “Kak, apa kakak tega kepada Kak Kaela dengan meninggalkannya? Harusnya, kakak bisa sedikit memaafkannya,” ujar Michelle membuat Marcel tertegun. “Michelle, kau tidak tahu bagaimana berada di posisiku! Dia sudah menipuku dan hatiku merasa sangat dikhianati!” balas Marcel membuat Michelle semakin berteriak senang dalam hatinya. ‘Kau mengerti bagaimana rasanya dikhianati kan, Marcel sialan? Sekarang, kau akan merasakan lebih banyak penderitaan lagi. Karena menurutku, bercerai dengan Mbak Kaela saja masih belum seberapa!’ batin Michelle merasa ingin melakukan hal lain untuk semakin mengacaukan rumah tangga iparnya itu. Pria tampan di hadapannya ini pernah menghancurkan hidupnya dan dia akan membalas Marcel. Pria itu memberinya harapan, lalu menjatuhkannya hingga hancur tak bersisa. Memperlakukannya seperti barang yang bisa dioper ke sana dan kemari. Memang, Michael sangat mencintainya. Sayangnya, Michelle menganggap semua ini sekedar kewajiban belaka tanpa didasari oleh cinta. “Kakak akan mengambil hak asuh Selena kalau begitu ya?” tanyanya lagi dibalas anggukan singkat oleh Marcel. Oh, Michelle bisa menebak kalau saat ini Marcel masih sangat sulit diajak bicara. Masalah seperti ini jelas tak mungkin membuatnya bisa berpikir jernih. Tapi, justru keadaan seperti ini lah yang sangat dia tunggu –tunggu. “Aku sih, berharap yang terbaik untuk kalian berdua ya! Sementara, Kak kaela masih di rumah sakit, aku akan mengurus kampus dengan sepenuh hatiku. Keadaanku juga sudah lebih stabil. Aku ke dalam ya Mas!” ujar Michelle tanpa sadar memanggil Marcel dengan sebutan ‘Mas’ dan membuat marcel tertegun. Wanita itu sudah pergi, tapi Marcel masih terngiang – ngiang panggilan yang dulu diberikan Michelle kepadanya. Seketika, kenangan di antara mereka yang pernah bersama selama tiga tahun kembali terputar di dalam memorinya. Marcel tahu kalau ini terdengar gila. Tapi, hatinya mulai membandingkan Michelle dan Mikaela yang sangat jauh berbeda. ‘Kalau dulu aku mempertahankan Michelle, apa semua kekacauan ini akan terjadi?’ batinnya. *** Ares menerima beberapa laporan dan sebuah file yang jelas membuat matanya terbelalak. Ia tak menyangka, kalau dia benar –benar memiliki sepupu yang adalah anak dari pamannya. Satu –satunya orang yang kini menjadi lawannya dalam berbagi harta yang luar biasa banyaknya itu. Sedikit pemberitahuan, meski Ares berada di dalam penjara, tempat ini lebih pantas disebut apartemen yang memiliki ruang kerja yang bagus dan sangat berkelas. Helios duduk di hadapan Ares dan sedikit terkejut melihat Tuannya memicing membaca data mengenai ‘sepupunya’ itu. Mungkin, itu adalah wajah terkejut seorang Ares Pratama. Tak lama, sebuah seringaian tercipta di wajah Ares dan mengembalikan fokus Helios. “Aku harus segera bertemu dengannya. Sebagian harta keluarga Simon itu sangat besar untuk anak haram seperti dirinya. Dan juga, aku yang sudah bekerja keras selama ini. Tidak mungkin, aku menyerahkan semua ini begitu saja kan?” ujar Ares sebagai keputusannya. “Kapan kita atur waktu untuk bertemu dengannya, Tuan?” tanya Helios. “Mungkin bulan depan. Karena kita harus membuat surat pernyataan yang mengharuskanmu menguruskan kembali ke Amerika. Buat di surat itu, kalau anak dari Harold Simon hanya menerima sepersepuluh bagian dari semua ini. Aku sudah cukup baik hati kan?” jawabnya diangguki oleh Helios. Sebulan kedepan sudah terbilang waktu yang agak mepet untuk mengurus surat seperti itu. Tapi Helios hanya bisa menuruti perkataan Ares. Memang benar, Ares pernah nyaris membunuhnya. Namun faktanya, Ares membiarkan dirinya hidup dan memang sudah sumpahnya untuk menjadi bawahan Ares yang setia sepanjang hidup. “Oh, iya Helios! Bagaimana putramu?” tanya Ares kemudian dengan sedikit berminat. “Dia baik dan sehat, Tuan. Siska menjaganya dengan baik dan dia hidup tenang di Boston,” jawab Helios dibalas anggukan oleh Ares. Pria itu menatap Helios dengan sedikit iri karena bawahannya itu sudah memiliki anak yang suatu hari nanti bisa mewarisi segala milik ayahnya. Sedangkan Ares merasa tak punya siapa pun lagi dan sendirian. Andai saja, dia tahu kalau sepasang anak kembar telah lahir sebagai anaknya. “Baiklah, Tuan! Saya akan segera mengurus semuanya!” Helios kembali berujar dan menundukkan badannya sebelum keluar dari ruangan Ares yang mungkin bisa dibilang penjara di sini. Ares langsung menyandarkan tubuhnya di kursi empuknya sambil memikirkan apa tujuan hidupnya setelah ini. “Mikaela, bagaimana kabarmu? Sudah hampir sembilan bulan aku ada di sini dan terus menahan diri untuk tidak mencari tahu soal dirimu. Kau sangat membenciku ya? Ya, yang seperti aku memang tak pantas memiliki tempat di hatimu. Tapi … apa kau bahagia?” gumamnya kembali teringat soal Mikaela, wanita yang sangat dia cintai sampai akhir napasnya. Ares yakin, dia takkan memberi hatinya kepada wanita lain jika itu bukan Mikaela. Pria kaya yang berlimpah harta itu pun merasa kalau semua ini hanya sia –sia belaka karena tak memiliki pewaris. Tapi Ares ingin melihat hasil kerjanya dan tak menyerahkannya begitu saja kepada orang lain, walau itu adalah sepupunya sendiri. *** Pengadilan Negeri Marcel kini berdiri di depan gedung pengadilan Negeri untuk mengurus perceraiannya. Dia dulu pernah ke sini untuk mendapatkan Mikaela. Tapi kini, dia ingin melepaskan Mikaela. Ternyata, pasangan ini sudah bergantian ke sini untuk saling melepas satu sama lain. Marcel tahu, Mikaela pasti sedih dan kecewa dengan keputusannya. Namun, dia juga sama sekali tak merasa bersalah melakukan semua ini. Mikaela berbohong soal identitas anaknya dan itu sangat menyakiti hati Marcel. “Tidak! Aku tidak akan menerima kedua anak itu sampai kapan pun!” gumamnya tegas lalu mengisi formulir pengajuan perceraian di dalam sana. Setelah semuanya selesai, dia pun kembali ke mansionnya. Dan dalam waktu dekat, Mikaela akan segera menerima surat pengajuan cerai dari dirinya. Semenjak hari persalinan itu hingga detik ini, Marcel sama sekali tak berniat menampakkan batang hidungnya ke hadapan Mikaela. Pria itu sedemikian khawatir jika nanti hatinya tidak sanggup menceraikan Mikaela. Setelah urusannya di pengadilan negeri selesai, dia pergi ke mansion Djuanda. Pria itu ingin menemui putri satu – satunya dan membawanya pergi dari situ. Dia ingin merebut Selena, karena merasa kalau anak itu adalah haknya. Hanya Selena yang punya ikatan darah yang sedemikian dekatnya dengan Marcel dan dia takkan membiarkan Selena diambil oleh keluarga Djuanda lebih lama darinya. Ia akan memperjuangkan hak asuh Selena!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN