Bad Destiny

1899 Kata
Helios terdiam lalu buang muka dari Mikaela. Ia tak tahu harus berkata apa, tapi bukti sudah mengarah jelas kalau korban kecelakaan itu kemungkinan besar memang Ares. Postur tubuh dan tanda pengenal itu sudah terlalu jelas walau Helios masih mau menyangkal hal demikian. Ia tak terima, kalau Tuan yang tangguh dan selama ini nyaris tak terlihat kelemahannya bisa mengalami hal begini. “ Dokter, tolong bersihkan dan taruh jasad ini ke peti. Saya akan bawa ke Amerika besok!” ujar Helios dalam kesenduannya. Mikaela masih tak paham dengan situasinya dan mendekati Helios sambil memerhatikan jasad yang dibawa oleh dokter dan perawat itu. “ Itu tidak mungkin Ares kan? Dia tidak mungkin mati semudah itu kan?” Mikaela masih terus bertanya pada Helios soal kebenaran yang harus ia ketahui. Tapi pria itu menatap Mikaela sekilas sambil memberi dompet yang terbakar itu kepada Mikaela. “ Ini adalah milik Tuan Ares yang tak pernah ia biarkan disentuh orang lain. Polisi juga menemukan ponsel yang diduga milik beliau. Aku harus mencari tahu semuanya, tapi yang lebih penting adalah menyelesaikan segalanya yang ada di sini dulu!” jawab Helios masih tak bisa dicerna dengan baik oleh Mikaela. Wanita itu menatap tak percaya dengan kartu tanda pengenal yang dilihatnya dan juga chip kebanggaan pria itu sebagai pengusaha kaya raya dan warga Negara dengan perlakuan khusus itu. “ Ka – kalau begitu, bi – biar aku saja yang kembali merawat si kembar. A – Aku saja yang menjaga si kembar. Sekarang hanya aku yang mereka punya kan?” Mikaela langsung memikirkan nasib kedua anaknya jikalau benar Ares memang sudah tiada. Tanpa perlindungan yang kuat dan dia yakin kedua bayi itu bisa dalam bahaya. Ares memiliki banyak musuh di dunia bisnis dan mereka akan mengincar anak – anaknya supaya bisa meraup semua kekayaan yang tak terhitung milik keluarga besar Simon yang ternama di Amerika. “ Maaf, tapi tidak bisa! Tuan Ares berpesan untuk langsung membawa si kembar ke Amerika ketika semuanya selesai di sini!” Helios tidak mengiyakan permintaan Mikaela sehingga wanita itu menatap tak paham kepada Helios. “ Kenapa? Apa yang salah kalau aku kembali bersama dengan anak – anakku, Helios? Aku bisa menjaga mereka dengan baik!” tegas Mikaela merasa kalau sangat tak adil jika ia kehilangan kesempatan untuk bersama dengan si kembar. “ Itu pesan terakhir Tuan Ares, dan aku harus mengikutinya! Dan sekarang, aku punya urusan penting denganmu Mikaela. Besok … datanglah ke alamat yang akan kukirimkan padamu! Kuharap, kamu bisa diajak bekerja sama karena ini adalah demi kedua anakmu juga!” balas Helios kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Mikaela yang terdiam di tempatnya. Setelah kepergian Helios, wanita itu merasa sangat lemas dan napasnya begitu sesak. Yang terjadi hari ini sangat tak ia duga dan kemungkin kalau korbannya Ares sangat besar. Tanpa sadar, air mata menetes begitu saja saat Mikaela memikirkan soal Ares yang mesti berakhir hanya sampai di sini. Wanita itu mulai melangkah walau linglung karena satu per satu orang yang bisa menolongnya direnggut oleh kematian. Sang Papa yang selalu menjaga dia dengan sepenuh hati, lalu Ares yang bisa menjaga kedua anaknya dengan baik. Takdir semakin hari makin kejam dan terus menamparnya saja. Mikaela tak paham, kenapa semua ini harus terjadi bahkan melebihi ekspetasi mengenai mimpi terburuk yang dia bayangkan. Semua yang terjadi, mulai dari Marcel yang meninggalkan dia, memberi si kembar kepada ayahnya, kematian Adinata dan kini pelenyapan Ares. Semua itu bisa membuat Mikaela menjadi gila karena permainan hidup ini sungguh meluluhlantakkan segala harapannya. “ Kau jahat, Ares! Harusnya … kau belum boleh pergi dariku secepat ini!” gumamnya dalam rasa sendu yang mendalam. Mikaela memang tidak mencintai Ares, tapi dia berharap penuh kepada pria itu. Dia pikir, semua akan terjadi sesuai yang dia mau. Tapi sayangnya, takdir lebih kejam daripada perkiraannya. Kini, Mikaela sudah tiba di parkiran rumah sakit. Ia kemudian mendapat pesan dari Helios yang mengabarkan tempat pertemuan mereka besok. Ia dengan cepat memberi balasan dan menghela napasnya. Selang beberapa detik, Mikaela mendapat panggilan dari seorang pria yang menghancurkan dia berkali – kali, Marcel! Ingin ia menutup panggilan itu, tapi kemudian ia terpikir kalau ada hal penting yang ingin dikatakan pria itu sampai menghubungi dia. “ Ada apa?” tanyanya penuh rasa sesak. “ Bisa kita bertemu sekarang juga?” pinta Marcel dari sana hingga membuat Mikaela heran. “ Di mana?” Mikaela memutuskan untuk mengiyakan permintaan pria itu karena merasa kalau ada sesuatu yang mesti dibicarakan di antara mereka. “ Akan aku kirimkan alamatnya,” balas Marcel lalu panggilan di antara keduanya terputus. Pesan pun masuk dan Mikaela langsung tahu ke mana dia harus bertemu dengan Marcel. Wanita itu melajukan mobilnya dan langsung mengarahkan ke restoran yang dipilih Marcel sebagai tempat bertemu. Tak seberapa lama, Mikaela sampai dan turun dari mobilnya. Ia masuk ke resto lalu melihat sosok Marcel yang kelihatan sudah menunggu dirinya. “ Halo, Mikaela!” sapa Marcel dengan senyuman tipis di wajah pria itu. “ Jangan basa – basi! Sampaikan saja apa yang ingin kau katakan!” Mikaela sama sekali tak mau mengulur waktu. Hatinya sakit dan perasaannya begitu sesak karena melihat wajah Marcel yang udah terus – menerus mempermainkan kehidupannya. Tapi ini yang terakhir dan Mikaela tak mau mengulangi kesalahan yang sama. “ Kamu ingat, ini adalah restoran tempat pertama kali bertemu, saat kita dijodohkan.” Pria itu membuka pembicaraan dengan nada yang sama sekali menurut Mikaela tak penting. “ Maaf, aku tak akan mengingat sesuatu yang tak penting. Bisa cepat katakan apa maumu? Aku sibuk!” sinis Mikaela membuat Marcel mendesah kesal. “ Secepat itu kau membuangku dari kehidupanmu ya? Tapi sayang sekali, b******n itu malah mendapat karma atas semua perbuatannya. Harusnya kita senang kan, Kaela? Dan sebenarnya, aku ingin menawarkan pembatalan perceraian dengan syarat kamu harus memercayakan harta yang berikan Willy padamu untuk dibalik nama kepadaku.” Marcel menyampaikan maksud tujuannya yang membuat wanita itu terbelalak. Ia tak menduga, kalau harta yang ia kira tak seberapa itu ingin direbut oleh Marcel. “ Kau sudah miskin sampai meminta harta yang jumlahnya hanya 25 juta dollar?” remeh Mikaela yang merasa permintaan Marcel terlihat sangat tak pantas. Harta yang kalau dirupiahkan hanya sekitar tiga ratus lima puluh milyar rupiah itu ingin didapatkan oleh Marcel? Bagi Mikaela itu sungguh memalukan, karena ia yakin kalau pria di hadapannya ini pasti punya harta yang jauh lebih banyak. “ Anggap saja itu sebagai kompensasi dari kesalahanmu yang sudah menipuku,” balas Marcel membuat Mikaela mendecih. “ Kompensasi katamu? Tidak akan pernah! Itu adalah pemberian terakhir dari pria yang paling mencintaiku di dunia ini! Tidak akan kuserahkan padamu, karena itu akan menjadi milik anak – anakku. Ah, ternyata kau jadi sosok yang gila harta ya? Apa jangan – jangan, Papa juga terkena serangan jantung karena membicarakan soal ini denganmu?” tebak Mikaela membuat marcel sedikit terkejut. Pria itu berusaha menyembunyikan raut keterkejutannya supaya Mikaela tak curiga. “ Aku bahkan tak tahu kalau ayahmu datang ke perusahaanku, Kaela!” Marcel beralasan tapi malah dibalas dengusan kesal oleh wanita itu. Mikaela merasa, sudah tak ada lagi yang harus dia bicarakan dengan Marcel. “ Maaf, tapi semua di antara kita sudah selesai! Aku bisa melanjutkan hidupku sendiri!” tegas Mikaela langsung meraih tasnya dan pergi meninggalkan Marcel sendiri. Wanita itu sudah terlalu kesal dengan sikap Marcel yang jauh berubah atau memang dia belum mengenal baik pria itu. Semua ini benar – benar membuatnya sakit kepala! *** “ Jadi, ini yang harus aku tanda tangani?” tanya Mikaela saat Helios memberinya sebuah surat pernyataan untuk mengalihkan hak waris atas nama William Simon. Dia heran saja, kenapa uang segitu sampai diminta oleh Marcel dan juga kini Helios yang menyatakan kalau itu permintaan terakhir dari Ares. “ Benar, setelah itu semua akan selesai lalu aku akan kembali ke Amerika.” Helios menjawab singkat. “ Bagaimana kabar Raphael dan Haniel?” tanyanya dulu sebelum membubuhkan tanda tangan di kertas itu. “ Mereka baik! Aku akan pastikan dengan nyawaku sendiri kalau mereka akan sehat dan bertumbuh dengan baik. Kalau kamu mau bertemu tentu saja boleh sebelum aku bawa mereka,” balas Helios lagi. “ Kau juga membawa jasad itu ke Amerika?” tanya Mikaela lagi dan kemudian diangguki oleh Helios. Tak lama, wanita itu memicing dan merah kertas itu lalu mengoyak – ngoyaknya di hadapan Helios. Pria itu terkejut dengan sikap Mikaela yang sungguh di luar dugaan. “ Aku tak tahu apa memang benar kau melakukan ini demi Ares atau kau mulai serakah karena rasa sakit hatimu padanya! Siska juga bersamamu, kan? Aku sangat tahu tabiat jalang sial itu! Maaf saja, aku tak bisa memberi apa yang diberikan Willy padaku!” tegas Mikaela membuat Helios tercengang. Ternyata, berurusan dengan Mikaela sama sekali tidak semudah yang ia bayangkan. Mikaela sedang dalam keadaan tidak stabil dan semua ini semakin sulit saja. Helios juga tak bisa mengatakan kalau semua harta yang beratasnamakan William Simon adalah milik Ares. Pasti saat ini Mikaela tak akan percaya. Wanita itu dirundung emosi luar biasa labil karena kejadian buruk yang terus saja dialaminya. “ Kau akan dalam bahaya jika memegang semua itu!” Helios memperingatkan tapi Mikaela masih dengan sikap keras kepalanya. “ Aku tidak takut pada siapa pun! Semua itu adalah milik anak – anakku! Atau begini saja, kau mau aku serahkan semua hartanya? Biarkan aku merawat kedua bayi kembarku!” Mikaela memulai negosiasi dengan Helios. “ Untuk yang satu itu sama sekali tak bisa! Tuan Ares ingin kedua anaknya berada di Boston dan memang semua surat pengesahan untuk Raphael dan Haniel sudah selesai. Kau lebih keras kepala daripada dugaanku, Mikaela!” ujar Helios membuat wanita itu sangat kesal. Lagi – lagi, dia merasa dipermainkan di sini. Kenapa hanya untuk mendapatkan kedua bayinya kembali bisa serumit ini. “ Kamu masih punya waktu berpikir hingga bulan depan, Kaela! Semua harta harus dialihkan ke atas nama Tuan Ares. Ketika kau sudah berubah pikiran, hubungi aku dan kita selesaikan semua ini sampai tuntas!” Helios memberi keringanan tapi Mikaela memilih membuang muka. Untuk saat ini, dia sulit percaya kepada siapa pun. Walau Helios sudah pernah menolongnya, ia takut kalau seandainya pria itu berubah menjadi serakah lalu mengambil semua hak kedua anaknya. Ia yakin, pria itu tak akan bertindak buruk kepada kedua bayinya. Tapi sebagai seorang ibu, tentu saja ia ingin menjaga kedua anaknya. Walau dia memberi segalanya pun, Helios tetap berkeras kalau dia tak bisa kembali mendapatkan si kembar. Semua keputusan yang dia buat saat emosi kini ia sesali. Apa yang sudah ia biarkan pergi tidak bisa kembali semudah membalikkan telapak tangan. “ Berpikirlah, Mikaela! Aku pamit! Ah, maksudku akan segera ke Boston bulan depan setelah aku mengusut semuanya! Sampai bertemu lagi!” pamit Helios meninggalkan Mikaela yang masih diam dan sibuk dengan pikirannya sendiri. Wanita itu sadar betul, kalau kini dia sudah sendirian dalam perjuangan ini. Sang Kakak memang akan selalu mendukung dia, tapi tak banyak yang bisa dilakukan oleh Heinry. Semua yang mereka miliki tak lagi sebanyak dulu karena sebagian harta yang harusnya adalah milik Mikaela sudah diserahkan kepada Marcel. Perceraian sengit di antara keduanya dan akan banyak hal yang mesti dilalui Mikaela. Kakaknya tidak mungkin bisa memperhatikan dia dengan sepenuhnya lagi karena sudah memiliki keluarga yang harus ia jaga. “ Jangan manja, Kaela! Arungi arus dunia yang kejam ini dengan seluruh kekuatanmu! Kamu harus kuat!” Mikaela menyemangati dirinya sendiri. Tak lama, ia teringat akan sesuatu yang mesti dia jaga dan satu – satunya warisan yang murni dia dapat dari Papanya. Yayasan universitas! Dengan segera, Mikaela beranjak dari duduknya lalu pergi ke Yayasan dengan tatapan penuh ambisi. “ Tidak akan kubiarkan Michelle merebut Yayasan dariku!” batinnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN