“ Ma, Michie titip Rose dulu ya? Hari ini ada rapat penting yang harus aku hadiri di kampus. Setelah itu, Michelle akan langsung pulang,” kata wanita itu meminta tolong kepada mertuanya.
“ Baiklah sayang. Mama akan jaga cucu kesayanganku ini!” Ribka dengan senang hati memberi bantuan kepada Michelle, karena sudah cukup akrab dengan menantunya itu.
Michelle pun berangkat ke Universitas Esa Unggul yang belakangan ini masih diberi kepercayaan kepada dia karena keadaan Mikaela yang masih kurang stabil. Saat keluar dari pintu utama mansion, Michelle berpapasan dengan Marcel yang baru akan masuk. Tatapan mereka bertemu, tapi pancaran di antara keduanya terlihat sinis seakan tidak senang satu sama lain. Alasannya jelas, Michelle memegang kartu AS Marcel mengenai malam di mana Adinata terjatuh dari tangga. Michelle di matanya saat ini adalah perempuan licik yang harus sangat dia awasi.
“ Kak, bisa tolong antarkan aku ke kampus? Ada juga hal penting yang mau aku bicarakan denganmu,” pinta Michelle sedikit mengejutkan Marcel.
‘ Sementara ini, aku harus ikuti arus yang kau buat, Michelle!’ batin Marcel lalu mengangguk pelan. Melihat jawaban Marcel, wanita itu menarik seringaiannya karena merasa sudah sedikit berhasil membuat pria itu menjadi tak berdaya. Marcel ke dalam sebentar untuk mencari beberapa berkas yang diperlukan untuk di perusahaannya. Tak lama, dia kembali dan pergi bersama dengan Michelle. Saat di mobil, Michelle melirik ke arah Marcel yang sedari tadi mendiaminya.
“ Suamiku masih di luar kota. Dan ini kesempatan bagus untuk kita untuk bisa bicara dengan leluasa satu sama lain. Apa Mas sudah bertemu dengan Mikaela? Apa dia mau memberi semua harta William Simon dan menggantikannya dengan perceraian yang dibatalkan?” tanya Michelle sangat ingin tahu sekali sudah sampai mana arah pemegang harta yang luar biasa banyak itu.
“ Michelle, aku tidak tahu kenapa kau bisa jadi serakah begini. Tapi biar kujawab saja, Mikaela cukup keras kepala dan dia tak mau memberikan seperserpun kepadaku. Wanita itu tidak tahu kalau semua harta itu adalah segala yang dimiliki oleh Ares sialan itu,” jawab Marcel dibarengi nada tak suka kepada wanita yang dulunya dia kenal baik dan begitu lembut, kini berubah menjadi licik dan serakah. Tapi kalau dipikir lagi, wajar saja Michelle berubah karena keadaan yang membuat wanita itu jadi begini.
“ Apa jangan – jangan dia tahu?” tanya Michelle lagi.
“Mungkin. Karena di sini masih ada Helios yang dipastikan akan mengurus semua itu,” jawab Marcel membuat Michelle mendengus kesal.
“ Kenapa kau sangat menginginkan sesuatu yang bahkan sangat jauh darimu?” tanya Marcel kemudian.
“ Sangat jauh? Jangan bercanda, Marcel! Dibandingkan denganmu, harta itu lebih jauh darimu dibanding dariku! Mikaela saat ini memang pemiliknya, tapi yang sebenarnya memiliki itu adalah Ares Pratama. Dan kau, tak punya hubungan apa pun dengan Ares.” Michelle memberi jawaban yang masih tidak bisa dicerna oleh Marcel. Pria itu menghentikan mobilnya di pinggir jalan untuk melanjutkan sesi berbincangnya dengan Michelle. Dia mau mendengar sesuatu yang lebih lugas lagi dari wanita itu.
“ Memangnya, apa hubunganmu dengan Ares?” tanya Marcel yang merasa yakin kalau Michelle pasti punya alasan yang kuat sehingga bisa berkata seperti tadi.
“ Kenapa sangat penasaran? Tenang saja, aku tidak mengkhianati adikmu. Michael terlalu mencintaiku. Lanjutkan saja jalannya karena sepuluh menit lagi ada rapat untuk memilih direktur Yayasan. Aku yakin, Mbak Kaela tidak akan datang, lalu aku akan merebut Yayasan Esa Unggul darinya untuk selamanya!” jawab Michelle membuat pria yang masih berstatus suami Mikaela walau di ambang perceraian itu menggeram. Pertanyaannya tak dijawab dan Michelle berlagak memerintah dirinya.
“ Silakan pergi sendiri kalau kau tak bisa menjawab pertanyaanku, Michelle! Kau membuatku kesal!” kesal Marcel membuat wanita itu mendesah kesal lalu menatap tajam kepada Marcel.
“ Aku dan Ares adalah sepupu! Ibuku adalah perempuan simpanan ayah kandungku yang adalah pamannya Ares dan Bapak yang membesarkan aku dan juga yang dibunuh oleh keluargamu adalah pamanku! Sudah? Hidup itu panggung sandiwara kan? Aku juga tak tahu bakal begini. Tapi, aku akan manfaatkan situasi dengan sebaik mungkin demi mendapatkan apa yang aku mau!” tegas Michelle seketika membuat marcel tercengang. Michelle bersepupu dengan Ares. Sudah sangat logis kalau Michelle menginginkan semua harta itu.
“ Berarti, kau mengajakku untuk bersaing?” tanya Marcel sambil kembali melajukan mobilnya.
“ Bukan begitu, hanya saja Ares dengan kejamnya hanya memberi sepuluh persen dari hakku. Jadi, setelah kita dapat semuanya, kita akan bagi dua. Impas kan?” Michelle menawarkan tali kerja sama yang mengejutkan Marcel. Dia memicing, karena saat ini sangat tak mungkin untuk memercayai wanita yang mulai bersifat ular seperti Michelle, apalagi dia mewarisi darah yang sama dengan Ares, orang paling licik yang pernah dikenal oleh Marcel sepanjang hidupnya.
***
Michelle sampai di Yayasan Universitas tempatnya dulu berkuliah. Salah satu Universitas elit di Jakarta dan di mana dia pernah diperlakukan tak adil karena dipandang sebelah mata. Tapi hampir setahun terakhir, semua memandang kagum kepada dirinya yang menggantikan Mikaela sebagai Direktur kampus. Michelle melakukan pekerjaannya dengan sangat baik sehingga membungkam rektor yang tidak suka kepadanya. Dan tinggal selangkah lagi, Michelle akan mengambil semua apa yang dimiliki oleh Mikaela.
“ Maaf Mbak Kaela, tapi kau lah yang lebih dulu merebut segalanya dariku. Kau yang membuatku terlihat seperti pengemis untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku. Ternyata, persaingan kita yang dulu belum benar – benar selesai,” gumam Michelle sambil masuk ke ruang rapat di mana para dekan dan rektor sudah menunggu kehadirannya.
Rapat ini memang sengaja dibuat karena pimpinan sebelumnya sudah terlalu lama meninggalkan tugasnya karena punya masalah pribadi dan mereka merasa lebih baik jika digantikan dengan seseorang yang lebih bertanggung jawab. Tapi di sini, ada seseorang yang mewakili keluarga Djuanda, Anyelir. Michelle tidak bisa menganggap remeh kepada Kakak ipar dari Mikaela itu. Semua di sini tahu betapa cerdiknya wanita itu dan lagi, Anye menatap tak suka kepada Michelle.
“ Baiklah, semua sudah berkumpul di sini. Kita akan mulai rapatnya. Pak Brahman saya persilakan untuk membacakan maksud dan tujuan dari rapat ini,” ujar Michelle.
“ Rapat ini bertujuan untuk memilih kembali Direktur utama Yayasan yang selama hampir setahun ini tidak melakukan kewajibannya dengan produktif. Maka, saya rektor yang mewakili yang lainnya meminta kepada para komisaris untuk mengajukan penggantian Direktur kampus.” Brahman menyatakan dengan begitu tegas. Anye lalu menatap sinis, lalu berdiri di antara para komisaris Yayasan sebagai penentang utama.
“ Saya tidak terima pengajuan itu sampai kapan pun! Kalian tahu sendiri, adik saya, Mikaela adalah yang paling berhak untuk saat ini. Memangnya, siapa kandidat yang akan kalian pilih?” tanya Anye di tengah rasa tak terimanya.
“ Maaf, Bu Anye! Tapi kami sebagai tenaga pengajar di sini tidka terima terlalu banyak Nepotisme yang terjadi di sini. Bu Mikaela memang atasan kami, tapi dia selalu mengabaikan tugasnya, sehingga kami setuju untuk mengajukan Ibu Michelle Prasasti sebagai calon Direktur yang baru,” ujar Bu Sarah kepada Anye.
“ Bu Anye, sepertinya ini memang harus dipertimbangkan. Bahkan, Mikaela tidak datang ke sini untuk membahas semua ini dengan kita kan? Ini artinya, dia sudah tak peduli lagi.” Anggota komisaris lainnya kini mulai pro kepada Michelle.
“ Michelle hanya pengganti! Dia bahkan hanya tamatan sarjana biasa! Kalian tidak bisa seenaknya!” tegas Anye lagi masih berkeras mempertahankan posisi Mikaela. Tak mungkin dia mengatakan soal posisi Mikaela yang penuh masalah untuk saat ini sehingga tak bisa melakukan apa pun.
“ Tingkat pendidikan tidak menghalangi kemampuan, Bu Anyelir. Tolong pertimbangkan lagi pandangan anda yang sangat sebelah mata kepada saya!” balas Michelle yang tak mau kalah dengan ucapan Anye yang dia nilai sebagai suatu bentuk kesombongan.
‘ BRAKK!!’
Suara pintu yang sengaja didobrak keras mengalihkan perhatian para petinggi kampus. Mereka semua melihat seorang wanita datang dengan penampilan formalnya lalu berjalan masuk ke dalam dengan tatapan yang begitu tajam. Siapa yang sangka kalau wanita itu datang ke sini, ketika rapat sedang dimulai. Ini memang melanggar tata krama, tapi wanita itu tak peduli karena memang tujuannya adalah untuk mengacaukan rapat ini.
“ Rapat menggantikan posisi Direktur kampus? Kenapa tak ada yang mengatakan ini kepadaku? Aku masih punya wewenang di sini kan? Atau … kalian semua sudah tak menganggapku lagi?” sinis wanita itu yang tak lain adalah Mikaela. Dia berjalan hingga berada tepat di sebelah Michelle sambil meletakkan tasnya di meja rapat.
“ Penggantiku ada di sini, aku kira dia akan bicara mewakili aku. Tapi ternyata dia ingin merebut posisiku. Tidak heran. Sayangnya maaf sekali Michelle, aku adalah pemilik tiga puluh persen saham di kampus ini. Kau tidak bisa menggantikan aku sampai kapan pun!” tandas Mikaela kepada Michelle. Tatapannya begitu tajam hingga Michelle bisa merasa tertusuk dengan tatapan dan juga perkataan wanita itu yang masih berstatus sebagai kakak iparnya.
“ Kami akan memercayakan saham milik kami kepada Michelle kalau anda tidak bisa menjadi pimpinan yang baik!” Pak Brahman angkat suara alih – alih sebagai seseorang yang sangat mendukung Michelle.
“ Para petinggi juga ingin menyingkirkan aku ya? Apa selama ini … kalian diam – diam membenciku? Atau ada yang menyudutkan aku? Jangan pikir, kalian bisa seenaknya melakukan itu karena di antara kalian semua, saya masih punya hak tertinggi di sini!” tegas Mikaela kepada para petinggi yang dia yakini sangat memihak kepada Michelle.
“ Bagaimana mungkin kami akan membiarkan perempuan yang manja penuh skandal seperti anda tetap memimpin di sini? Saya selaku salah satu dari tiga anggota komisaris memberi dukungan kepada Michelle Prasasti!” ujar Pak Handoko membuat Mikaela kesal. Para komisaris yang memiliki hak untuk menarik saham dan menjatuhkan dia dengan mudah kini juga melawannya. Jika saja Adinata masih hidup, mereka tak akan ada yang berani melakukan ini kepada Mikaela. Tak satu pun! Semuanya sudah kehilangan respek kepada Mikaela karena ayahnya yang baru saja tiada. Mikaela sadar, semua yang dia miliki hingga saat ini adalah karena ayahnya. Dia bukan apa – apa tanpa ayahnya. Kenyataan yang sangat pedih dan juga menyakitkan.
“ Tapi saya menentang! Pemilihan Direktur Yayasan hanya bisa dilakukan jika semua dewan komisaris menyetujuinya! Dan saya ingin semuanya memikirkan sekali lagi!” Anye juga memberi dukungan sepenuhnya kepada Mikaela. Tidak akan dia biarkan apa yang seharusnya jadi milik Mikaela jatuh ke tangan yang salah. Salah karena tak seharusnya Michelle yang terlibat di sini.
“ Mbak, saya tidak pernah meminta semua ini? Para dosen dan dekan yang meminta saya untuk naik. Saya juga sungkan menerimanya. Memangnya siapa saya ini?” Michelle pura – pura merendah saat ada Mikaela. Dia masih belum mau ketahuan oleh Mikaela.
“ Kau tahu kalau memang rendah kan? Kalau sadar diri, sekarang juga keluar dari sini! Aku tidak akan meminta bantuanmu sama sekali!” tegas Mikaela sangat mengejutkan Michelle.
Ini adalah untuk pertama kali Mikaela mengatakan kalau dirinya rendah! Demi apa pun, Michelle tidak terima! Dia dipermalukan dan memang wanita itu langsung mengambil tasnya dan keluar dari ruangan rapat ini. Mikaela mulai menenangkan dirinya dan duduk di kursi yang seharusnya jadi miliknya.
“ Ini tak seharusnya anda lakukan!” Pak Brahman menentang Mikaela dengan terus terang.
“ Baiklah semuanya! Saya akan beri kalian semua waktu 3 hari untuk memikirkan ini sekali lagi dan kita akan buat voting pemilihan DIrektur Yayasan! Jangan sampai salah memihak kalian semua!” Mikaela memilih membubarkan rapat ini. Keputusan sesungguhnya tiga hari lagi, karena rapat hari ini tidak dianggap sah. Jelas saja, karena dia sama sekali tidak mendapat undangan. Setelah semuanya bubar, Anye langsung menghampiri Mikaela.
“ Kakak akan selalu mendukung kamu, Kaela!” kata Anye memberi semangat kepada adik iparnya itu.
“ Makasih Kak!” balas Kaela penuh rasa syukur karena Anye ada di pihaknya.