Accident

1922 Kata
Helios menatap tak percaya saat Ares membawanya ke kamar khusus di mana kedua anaknya dia tempatkan. Pria yang lebih tua setahun dari Ares itu terkejut bukan main karena melihat kedua bayi kembar yang sangat menggemaskan itu. Bahkan memang, yang bayi laki – laki sangat mirip dengan Ares. Pantas saja, Mikaela langsung sadar kalau kedua bayi ini adalah milik Ares. “ Lihat! Raphael sangat tampan dan mirip denganku kan? Aku sangat menyayangi kedua bayiku ini,” kata Ares memamerkan kedua anaknya kepada Helios. Dan ya, tangan kanan dari Ares ini sangat tahu kalau Tuannya sangat bahagia memiliki dua anak yang lucu dan menggemaskan dari wanita yang dia cintai. “ Selamat untuk anda, Tuan!” kata Helios ikut dalam kebahagiaan Ares. “ Terima kasih!” balas Ares untuk pertama kali menyatakan rasa terima kasih dengan penuh kebahagiaan. Setelah melihat si kembar yang lucu itu, Ares dan Helios kembali ke ruang kerja untuk membicarakan bisnis panjang yang harus mereka selesaikan. Ares sudah mengatur banyak hal dan Helios juga sudah mempersiapkan segalanya. “ Aku akan mengurus soal pewaris dari Harold langsung ke Boston. Mungkin, siang ini aku akan pergi. Tapi Helios, kuharap kau juga langsung menyusulku tepat setelah kau meminta pemindahan kekuasaan milik William Simon dari Mikaela.” Ares memberi tahu perihal apa saja yang dia rencanakan. “ Apa anda akan pergi sambil membawa si kembar?” tanya Helios memastikan. “ Tidak! Kau lah yang akan membawa mereka berdua,” jawab Ares benar – benar tak dapat dipahami maksudnya. Secara, Ares adalah ayah kandung dari si kembar itu, tapi sepertinya ada hal lain yang ingin dilakukan Ares sehingga menyerahkan kedua anaknya ke tangan Helios. “ Helios, kuharap kau pastikan dirimu tetap hidup! Kalau terjadi apa – apa denganku, langsung saja bawa mereka berdua ke Boston dan jangan hiraukan soal aku.” Ares berkata lagi semakin membuat kebingungan bawahannya. “ Tapi bagaimana kalau urusannya belum selesai?” tanya Helios lagi. “ Yang terpenting adalah kedua anakku. Jangan khawatirkan aku, Helios! Karena sebuah permainan gila akan terjadi setelah ini.” Itulah jawaban yang keluar dari mulut Ares. Helios memang memiliki kemampuan di atas rata – rata. Walau begitu, Ares membuat sebuah teka – teki yang cukup sulit untuk dia tebak. “ Aku akan melakukan apa pun yang anda perintahkan, Tuan!” katanya dibalas senyuman oleh Ares. Pria itu segera bersiap karena penerbangannya akan lepas landas sekitar dua jam lagi. Sebelum itu, dia menghampiri kamar si kembar lalu mengecup wajah kecil kedua anaknya satu per satu. Ia berpamitan kepada anaknya dengan penuh kasih sayang, lalu melangkah pergi. Saat Ares keluar dari mansion, entah kenapa ada perasaan tak enak hinggap di dalam pikiran Helios. “ Tuan, bagaimana kalau anda saya antarkan saja?” tawar Helios dibalas gelengan oleh Ares. “ Helios, tugasmu hanya mengurus kedua anakku dan meminta Kaela mengembalikan harta milikku. Jangan pikir, aku selemah itu!” jawabnya lalu dibalas helaan napas oleh Ares. Pria muda itu langsung masuk ke mobilnya yang dibawa oleh seorang supir. Helios terus memerhatikan Ares, sampai Tuannya itu pergi dari mansion. Ingin rasanya dia mengikuti, karena yakin betul ada sesuatu yang mungkin saja akan terjadi. Tapi di sisi lain, dia harus melakukan sesuatu dan menyelesaikan semuanya dengan cepat sebelum terlambat. Dan Ares yang memerhatikan jalanan, langsung memegang pundak supirnya sebelum mereka ke jalan besar. “Hentikan mobilnya!” perintah Ares langsung dituruti oleh pria yang dia pekerjakan sebagai supir itu. Ares menyeringai dan memulai rencananya! *** Mikaela kini memandang nanar ke arah bunga – bunga di taman mansionnya. Ia masih terus saja berkabung karena kematian sang ayah. Perasaannya begitu hancur dan luluh lantak. Ditambah lagi, dia merasa kehilangan separuh dari dirinya. Dia adalah seorang ibu dan apa yang telah dia perbuat kepada si kembar sungguh tidak adil. “ Mama? Kapan Selena akan melihat adik – adik?” Selena menghampiri ibunya yang sedang melamun. Dia tertegun mendengar perkataan putrinya dan langsung menarik Selena ke dalam pelukannya. Entah kenapa, Mikaela ingin terus saja menangis karena hatinya begitu sedih dan perasaannya sangat kacau. “ Mama masih sedih karena kematian Opah ya? Jangan teyus sedih, Ma! Di sini ada Selena yang selalu sayang sama Mama,” hibur gadis kecil yang baru berusia empat tahun itu. Segala yang terjadi menyadarkan Mikaela akan satu hal yang sangat penting. ‘ Semua bisa disebut mantan, tapi tidak ada namanya mantan orang tua! Marcel bisa membuangku kapan saja, tapi aku tidak boleh membuang anak – anakku yang tidak salah apapun!’ batin Mikaela tersadar. Dia tahu, kalau semua keputusan yang dia buat sangat jahat dan juga tak adil kepada kedua bayi malang yang asih sangat membutuhkan dirinya itu. “ Sayang, kita akan bertemu dengan adik – adik besok ya! Maafkan Mama yang sudah membuat kamu terpisah dari kedua adikmu ya? Semuanya terjadi tanpa diduga dan nyaris membuatku gila,” kata Mikaela kepada putrinya. “ Mama gak boleh bilang begitu!” Selena mengingatkan dan langsung diangguki oleh putri kesayangannya itu. Ah, Mikaela sampai bicara sembarangan di depan putrinya sendiri karena perasaannya yang kacau balau. Dia langsung meraih Selena dalam gendongannya dan membawa gadis kecil itu memasuki mansion. Di ruang tamu, dia melihat Kakak iparnya sedang mengasuh si baby Gaby yang masih sangat kecil. Mungkin, berusia sekitar enam bulan dan masih sangat berada di dalam dekapan sang ibu. Mikaela menatap nanar teringat betapa buruknya dia sebagai seorang ibu. “ Ma, Selena mau nonton!” ujar gadis kecil itu mengalihkan perhatian Mikaela. Mereka berdua pun duduk dan langsung menyalakan televisi. Mikaela memilihkan siaran untuk anak – anak kepada putri kecilnya sambil duduk di sebelah Kakak iparnya. “ Kak, aku minta maaf,” ujarnya pelan mengalihkan perhatian Anye. “ Untuk apa, Kaela?” tanya Anye yang melihat adik iparnya itu terlihat sangat menyesal. “ Aku minta maaf karena sama sekali tidak mendengarkan kalian. Aku harusnya merawat si kembarku, Raphael dan Haniel. Tapi aku malah memilih untuk mempertahankan hubungan yang bahkan tak bisa aku perjuangkan! Apa aku bisa mendapat kesempatan itu lagi, Kak?” tanya Mikaela setelah mengungkapkan segala rasa bersalahnya. Anye yang melihat Mikaela begitu tersiksa, langsung meletakkan Gaby ke kereta bayinya, lalu memeluk Mikaela. “ Jangan berpikir demikian, Kaela! Kamu punya kesempatan itu! Walau kamu membenci ayahnya, tapi mereka berdua tetaplah darah dagingmu. Kamu punya hak atas keduanya dan ditambah lagi Ares yang memberi kesempatan padamu untuk bisa bertemu dengan keduanya,” hibur Anye benar – benar melegakan perasaan Mikaela. “ Besok aku akan kembali mengajar dan setelah itu aku akan bertemu lagi dengan Ares. Akan kuminta padanya mengembalikan kedua anakku atau paling tidak sering membawa keduanya ke sini,” kata Mikaela langsung diangguki oleh Kakak iparnya. “ Kalau kamu belum stabil, jangan paksakan dirimu Kaela. Semua yang terjadi belakangan ini terlalu berat untuk kamu tanggung. Lagipula, masih ada Kakak kan?” Anye tak mau Mikaela terlalu memaksakan dirinya untuk kembali bekerja, walau memang ini adalah tanggung jawab dari adik iparnya itu. Yayasan yang didirikan oleh Keluarga besar Djuanda itu kini sedang ditangani oleh orang lain. “ Kak, Michelle itu sebentar lagi bukan bagian dari keluarga kita. Aku dan Marcel akan segera mengurus perceraian kami dan kali ini aku juga tak mau kembali lagi.” Mikaela menyatakan keputusannya. “ Ah, kamu benar juga! Terlalu banyak yang harus kamu urus! Tapi kami semua akan bantu! Jangan khawatir,” balas Anye berusaha menenangkan Mikaela. Walau sedang dirundung oleh banyaknya duka, Mikaela masih punya banyak hal yang dia syukuri. Dia punya Selena, Kakaknya dan juga Anye. Masih banyak yang menyayangi dia walau ada juga yang mengkhianati dirinya. ‘ Michelle, aku pikir kau benar – benar tulus mau menerimaku dan menganggap aku sebagai kakakmu,’ batin Mikaela teringat bagaimana Michelle mengkhianati dirinya beberapa hari yang lalu. Rasa sakit itu terlalu jelas dan membuat Mikaela sangat muak dengan semua ini. ‘Breaking news! Seorang pengusaha dari Amerika mengalami kecelakaan lalu lintas dan mobilnya meledak lalu terbakar. Ambulan sudah datang dan membawa korban yang berinisial AP ke rumah sakit terdekat. Demikianlah berita hari ini!’ Berita yang tiba – tiba lewat di siaran televisi itu benar – benar mengejutkan Mikaela dan juga Anye. Mereka menyebutkan inisial yang familiar dengan mereka. Perasaan Mikaela langsung tidak enak dan wanita itu langsung bangkit dari duduknya. “ Kaela, jangan bilang kamu memikirkan hal yang sama denganku,” kata Anye membuat Mikaela sedemikian sesak. “ Aku harap itu bukan orang itu! Aku haris memastikannya sendiri!” balas Mikaela langsung berlari keluar dan mengambil mobilnya. Perasaan wanita itu sungguh tak karuan dan dengan segera ia melajukan ke arah mansion Ares untuk memastikan sendiri kebenarannya. “ Kau tidak akan mati semudah itu kan?” gumamnya berusaha yakin kalau itu hanya berita tentang orang lain. *** ‘Untuk saat ini, polisi sedang mengidentifikasi penyebab kecelakaan yang kemungkinan membuat korban sama sekali tak tertolong karena ledakan luar biasa dari mobil sport yang dikendarai olehnya.’ Seorang pria mengembangkan seringaiannya mendengar berita yang kini ia tonton di televisi kantornya. Pria itu merasa menang seakan sudah menang sekaligus berhasil membalaskan semua dendamnya kepada orang itu. Pria itu – Marcel Arya Buana adalah seseorang yang merencanakan semua ini. Dia adalah penyebab dari insiden yang menimpa korban kecelakaan itu. “ Ares Pratama! Kau terimalah pembalasan karena sudah mempermalukan diriku! Dan setelah ini, aku akan mengambil semua yang kau miliki seperti yang lakukan padaku!” katanya dengan penuh obsesi. Pria itu tenggelam dalam ambisinya untuk membalas dendam karena kebencian yang sedemikian mendalam. Marcel tak terima dengan apa yang sudah dilakukan Ares dengan menghamili Mikaela dan itu membuat dirinya sangat malu. Bahkan, dia tak suka kalau Mikaela langsung menjadikan pria itu tempat berlindung setelah lepas darinya. “ Maaf ya, Kaela! Tapi dunia ini sangat kejam dan tak semudah itu kau berpaling kepada b******n itu. Dia adalah perusak yang seharusnya mati saja!” lanjutnya lagi lalu beranjak dari duduknya. Tak lama, sesosok wanita membuka pintu ruang kerjanya. Dia berjalan sambil menatap sinis kepada Marcel seakan tahu sesuatu dari semua yang terjadi. “ Kak Marcel! Biar aku tebak, kejadian yang menimpa Ares Pratama pasti adalah ulahmu,” katanya membuat Marcel menyipit kepada adik iparnya itu. “ Michelle! Kamu bicara seakan aku adalah orang yang seperti itu. Apa aku terlihat iseng begitu?” Marcel menyangkal perkataan Michelle tapi wanita itu terkekeh seakan tahu Marcel sedang berkilah. “ Berapa lama aku mengenalmu, Mas? Tiga tahun dan itu cukup! Walau kau tidak suka dengan kelicikan, tapi kau benci jika ada yang menjatuhkanmu. Kau akan memberikan balasan kepada mereka dengan lebih berat kan?” tanya Michelle dengan nada berbisik tepat di hadapan Marcel. Pria itu menatap wanita di hadapannya. Tatapan Michelle yang begitu tajam dan mengintimidasi malah mengingatkannya pada tatapan Ares . “ Kau menatapku persis seperti cara si b******n itu melihatku. Kau sedang menirunya?” tanya Marcel balik berusaha bersikap sesantai mungkin. “ Hahaha! Jangan mengalihkan pembicaraan! Kau tahu? Aku tertarik dengan semua aset milik Simon Property Group. Bagaimana kalau kita bekerja sama untuk mendapatkannya lalu membagi dua untuk kita berdua,” kata Michelle mengejutkan Marcel. “ Bagaimana kau tahu?” tanya pria itu dibalas seringaian yang licik dari wanita itu. “ Bagaimana aku tahu? Jangan banyak bertanya, Mas! Tapi jika kau menolak penawaranku, aku akan menyebarkan video mengenai apa yang terjadi malam itu. Antara Mas dengan Adinata Djuanda!” balasnya membuat Marcel terbelalak. Dia tak menyangka! Ternyata, yang mengirimkan video itu adalah Michelle yang kini mencoba mengancam dirinya. Ia mengepalkan tangannya sambil menatap sinis kepada Michelle. “ Kau tetap mengenalku, tapi aku tak bisa mengenal dirimu yang sekarang!” katanya dibalas tawa oleh Michelle. “ Karena faktanya, seseorang akan berubah karena kenyataan!” balas Michelle kemudian berbalik dan keluar dari ruangan Marcel. Dia meninggalkan Marcel yang sedang dirundung emosi memikirkan semua ini. Dia sama sekali tak bisa tenang! *** Yakin ga kalau Ares beneran mati???
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN