Hidup yang penuh misteri tak pernah gagal memberikanmu kejutan. Kau tak bisa menduga apa yang menantimu di masa depan. Kau juga tak bisa melakukan apa pun begitu masa lalu datang kembali dan menyapa. Yang bisa kau lakukan hanyalah mempersiapkan hatimu agar kejutan itu tak menambah pedih di hatimu. Kau harus selalu siap karena begitulah hidup.
Kiran masih berdiri terpaku di tempatnya berdiri. Ia menatap wanita itu dengan tatapan meneliti, mencoba meyakinkankan dirinya sendiri jika wanita paruh baya itu adalah nyata. Jika wanita itu bukanlah ilusi yang akan menghilang begitu ia menutup mata. Banyak tanya yang memenuhi benak Kiran, namun lidahnya terasa kelu hingga tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Ia sangat penasaran akan alasan kedatangan wanita itu dan bagaimana caranya menemukan Kiran, akan tetapi Kiran mendadak bisu dan tak berdaya.
Wanita paruh baya itu terlihat tak sabar dan ingin segera mendekati Kiran. Ia bangkir berdiri dan berjalan mendekat, sementara Kiran menggerak-gerakkan tangannya di udara, meminta wanita itu untuk tak lebih mendekat. Kiran tak bisa bernapas dengan benar begitu melihat wanita itu mendekatinya. Wanita paruh baya itu sadar bila Kiran tak ingin didekati, maka ia menghentikan langkahnya dan kini keduanya berdiri berhadapan. Saling memandang.
“Kiran … maafkan mama,” Wanita itu mulai terisak. Ditolak dengan anakmu sendiri seperti sekarang adalah hal yang sangat menyakitkan. Seperti ada puluhan pisau yang mengiris-ngiris hatimu. Terasa begitu menyakitkan. Padahal jarak mereka begitu dekat, akan tetapi tangannya tak mampu menyentuh anaknya sendiri. Hal ini sangat menyakitkan bagi dirinya.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan lagi dan sebaiknya Anda keluar sebelum aku lepas kendali,” Kiran berkata dengan suara bergetar. Dirinya tak lagi punya kekuatan untuk menghadapi masa lalunya. Ia tak tahu apa yang wanita itu inginkan dan ia tak mau mencari tahu.
“Kiran, mama mohon jangan memperlakukan mama seperti orang asing,” Air mata wanita itu semakin berderai deras. Kini dadanya terasa begitu sesak karena perlakuan putrinya sendiri yang menganggapnya sebagai orang asing, “Mama tahu kalau kami semua bersalah padamu, tapi jangan lakukan ini. Semua ada alasannya, Kiran. Kamu menolak untuk mendengar.”
“Apa yang harus ku dengarkan lagi. Nggak akan ada alasan apa pun yang bisa membenarkan apa yang kalian lakukan. Harusnya, kalian memikirkanku saat akan melakukan tindakan yang akan membunuh hatiku,” Kiran berkata dengan suara bergetar, “Nggak ada alasan apa pun yang bisa kalian katakan dan membuatku menerima apa yang kalian lakukan. Sungguh, harusnya kalian memikirkanku sebelum melakukan hal yang mengerikan itu,” Kiran menggigit bibir bagian bawahnya cukup kuat, tak ingin menangis di hadapan musuh-musuhnya.
“Semuanya nggak seperti yang kamu pikirkan. Kamu pergi begitu saja dari rumah sebelum mama keluar dari rumah sakit. Kamu menolak untuk tetap tinggal dan mendengarkan semua penjelasan yang belum sempat kami ungkapkan. Percayalah, Kiran. Kami sudah memikirkan semuanya dan kami benar-benar tersudut saat itu. Nggak ada jalan lain.”
“Cukup!” Teriak Kiran seraya menutup kedua telinganya, menolak untuk mendengarkan lebih banyak lagi cerita dari mulu wanita di hadapannya, “Cukup sudah semua penyiksaan ini. Apa kalian nggak memikirkanku? Apa kalian tahu bagaimana aku menjalani hidup selama beberapa bulan ini? Aku tersiksa. Aku bahkan sulit tidur saat malam hari. Aku ingin mati.”
Gagal sudah. Kiran tak mampu lagi menahan air mata yang memberontak untuk dikeluarkan. Dadanya begitu sesak, seolah dirinya telah kehilangan semua oksigen yang dibutuhkan paru-parunya untuk bernapas. Semua rasa sakit itu kembali menyiksanya. Mengapa dirinya harus disiksa seperti ini? Mengapa dirinya harus kembali ke masa lalu yang menyakitkan itu? Tak bisakah dirinya dibiarkan hidup bahagia setelah semua pengkhianatan orang-orang itu?
“Kiran … maafkan mama. Kalau ada orang yang harus disalahkan dari apa yang terjadi, maka salahkan saja mama seorang dan jangan membenci orang lain, Kiran. Mama yang bersalah. Mama lah yang menyebabkanmu sehancur ini, tapi kamu harus tahu kalau kami semua juga menderita. Kami semua hancur dan setiap hari kami lalui dengan beban di dalam hati,”
“Aku mohon, pergilah dari rumahku. Aku nggak mau lagi bertemu dengan kalian semua. Aku mohon, biarkan aku hidup damai dan mencari kebahagiaanku sendiri. Sungguh, aku nggak lagi menginginkan apa pun dari kalian. Aku hanya ingin bangkit dari keterpurukan. Aku mohon, biarkan aku merasakan kebahagian sekali lagi. Jangan datang dan memperkeruh hidupku ini. Aku mohon …” Kiran menangis tersedu-sedu, ia mencengkram kuat bagian d**a gaunnya.
Melihat pemandangan itu membuat hati wanita paruh baya di hadapan Kiran hancur bukan main. Dirinya bersalah karena menyebabkan putrinya tampak begitu menderita. Dirinya tak sanggup melihat kehancuran putri bungsunya. Jika saja bisa mengulang waktu, maka wanita itu ingin memperbaiki semua kesalahan yang ia lakukan di masa lalu. Namun sayang, wanita itu tak memiliki kuasa untuk mengubah apa yang telah diperbuatnya di masa lalu.
“Kiran … mama tahu kalau kesalahan kami nggak mungkin dimaafkan. Meminta maafmu mungkin adalah sesuatu yang berat, tapi kamu harus tahu kalau kami juga menderita,” Wanita itu menangis tersedu-sedu. Isak tangis keduanya memenuhi setiap sisi ruangan. Terdengar begitu pilu dan menghancurkan sanubari mereka yang mendengarkannya. Hatinya hancur berkeping-keping. Tak menyangka bila perbuatan mereka bisa membuat Kiran sehancur ini.
“Bila aku harus mengerti perasaan kalian, lalu siapa yang akan mengerti perasaanku?” Kiran menatap wanita itu tajam dengan air mata yang masih mengalir deras, “Jika kalian begitu menderita dan harus dimaafkan, lalu siapa yang akan memikirkan semua deritaku? Aku mohon, berhentilah berlagak seolah aku kuat dan bisa kalian siksa sesuka kalian. Berhentilah berpikir jika aku nggak akan hancur berantakan setelah semua yang kalian lakukan padaku.”
Kiran mengadahkan wajah ke atas, berusaha menghentikan tangisnya. Wanita itu mengarahkan tangannya ke arah pintu dan meminta ibunya untuk segera pergi. Kiran tak lagi sanggup menghadapi ibunya. Ia tak mau mengingat semua hal yang menyangkut masa lalunya. Kiran ingin bisa kembali bernapas dan menjalani hidup layaknya orang normal lainnya.
“Pergilah dari sini sekarang karena sudah nggak ada lagi hubungan di antara kita,” Ujar Kiran dengan suara bergetar. Sekuat mungkin Kiran mengusahakan dirinya untuk tak terlihat lemah. Dalam masalah ini, dirinya sendiri dan tak ‘kan dibiarkannya orang menganggapnya lemah. Mereka harus tahu jika Kiran sudah meninggalkan masa lalu jauh di belakangnya.
“Aku mohon, pergi dan biarkan aku hidup damai. Aku tahu kalau kita semua menderita. Oleh karena itu jalan satu-satunya untuk mengakhiri semua ini adalah saling menjauh. Jadi nggak ada yang bisa kita lakukan lagi untuk memperbaiki apa yang terjadi di masa lalu. Semuanya sudah berakhir dan aku sedang belajar untuk menerima sebab akibat dari perbuatan kalian. Aku mohon bantu aku dengan nggak lagi muncul di hadapanku. Kita orang asing.”
Wanita di hadapan Kiran terkulai lemas di lantai mendengarkan perkataan Kiran. Dirinya menangis tersedu-sedu. Ia berlutut di hadapan Kiran karena kedua kakinya tak sanggup lagi menahan beban berat tubuhnya. Sementara Kiran menatap wanita itu datar, hatinya tak tersentuh sama sekali dengan kehancuran yang wanita itu tunjukkan. Kiran bersikap tak peduli.
“Mama nggak bisa tidur setiap malam karena memikirkan satu putri mama menghilang entah ke mana. Mama mencarimu ke mana-mana setiap hari dan nggak pernah menyerah. Mama menyesal telah membuatmu hancur dan pergi meninggalkan kami. Mama menyesal karena nggak mengatakan yang sejujurnya sejak awal. Mama menyesali banyak hal sejak saat itu, tapi mama juga tahu kalau kita nggak bisa mengubah apa yang ada di masa lalu,” Wanita itu terisak.
Kiran menguatkan dirinya sendiri dan tak mau membiarkan wanita itu mempengaruhinya. Ia tak boleh lagi membiarkan orang-orang itu menipunya. Kiran sudah menutup hatinya dan ia tak lagi bisa merasakan perasaan yang membuatnya merasa iba. Sejak saat itu, Kiran tak lagi hidup dengan hati. Oleh karena itu, ia sudah terbiasa untuk tak memiliki rasa iba.
“Kiran yang kalian kenal sudah mati dan kalian lah pembunuhnya,” Kiran tersenyum miring, “Bukan hanya nggak bisa mengubah masa lalu, kalian nggak bisa juga mengubah masa depan. Semua orang terluka dan seharusnya kita semua nggak lagi saling bertemu agar waktu dapat menyembuhkan semua luka yang menguasai sanubari. Kita tahu benar, jika nggak ada gunanya menyesali hal yang nggak bisa diperbaiki. Oleh karena itu, pergilah.”
Wanita paruh baya itu tak mampu beranjak pergi. Dirinya masih betah berlutut di hadapan Kiran dan berharap putrinya itu mau memaafkannya atau setidaknya mendengarkan apa yang ingin ia sampaikan. Wanita itu ingin Kiran melihat dari sisinya, meski tak mungkin memaafkannya. Wanita itu hanya ingin kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin memperbaiki hubungan mereka dan tak melepaskan putrinya itu.
“Hubungan darah lebih kental dari apa pun, Kiran. Kamu bisa menganggap mama orang asing, namun sampai kapan pun kamu tetap lah anak mama. Kamu boleh menolak mengakui mama, tapi kamu nggak bisa menolak fakta jika darah mama mengalir di dalam darahmu. Hubungan ibu dan anak nggak akan bisa berakhir, Kiran. Meski kamu mengeluarkan semua darah dari tubuhmu, kamu tetaplah anak yang lahir dari rahim mama,” Wanita itu berkata lirih.
Kiran tersenyum masam. Ia tahu bila memang taka da yang bisa memutuskan hubungan darah di antara mereka. Ia tahu, bila sampai kapan pun Kiran tak bisa mengenyahkan fakta jika dirinya terlahir dari rahim wanita itu. Hanya saja, ia tak bisa menerima perlakuan mereka padanya. Ia tahu, jika dirinya sangat jahat karena mengusir ibu kandungnya begitu saja. Namun semua ini tak seberapa dengan derita yang Kiran tanggung selama ini. Biarlah ia dianggap anak tak berbakti, asalkan Kiran bisa kembali menemukan kebahagiaannya. Ia ingin bahagia kembali.
“Sampai kapan pun, Anda memang adalah mamaku. Jika nggak ada Anda, maka aku nggak ada di sini. Namun Anda juga harus tahu, sebagai orang tua harusnya Anda mempunya kewajiban untuk melindungi dan membahagiakan anak Anda. Yang Anda lakukan adalah melukaiku dan semua ini membuatku ingin menjauh dari kalian semua,” Kiran menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, “Apakah salah jika aku ingin hidup bahagia? Apa salah, bila aku ingin berusaha menyelamatkan hatiku sendiri? Aku hanya minta kalian mengerti bila yang ingin kulakukan adalah maju dan menata masa depanku,” Lanjut Kiran seraya mengadahkan wajahnya ke atas, tak ingin lagi menangis. Sudah cukup semua air matanya.
Wanita di hadapan Kiran yang tengah berlutut itu menutup mulut dengan kedua tangannya dan menangis tersedu-sedu. Ia begitu hancur, sedang Kiran yang mengalami kehancuran yang sama hanya bisa menatap datar wanita itu. Ia tak ingin ibunya itu melihat kehancurannya. Cukup sudah semua penderitaannya yang ia tunjukkan pada wanita itu. Ia harus terlihat kuat.
Wanita paruh baya itu berusaha menghentikan tangisnya dan menggunakan sisa tenaganya untuk berdiri. Wanita itu meraih-raih sofa dan juga dinding untuk membantunya berdiri. Apa yang anaknya itu katakan benar. Putrinya tak salah karena ingin mencari kebahagiaannya. Yang salah adalah dirinya yang menghancurkan impian sederhana putrinya dengan datang ke sana.
Wanita itu bersandar pada dinding begitu berhasil berdiri. Ia mencoba mencari tumpuan untuk tubuhnya yang lemah. Isak tangisnya terdengar pilu. Dengan susah payah pula ia menghentikan tangisnya dan selalu saja gagal melakukannya. Pada akhirnya, wanita itu mengadahkan wajah ke langit-langit ruangan dan berusaha menghentikan tangisannya.
“Mama datang hari ini karena mau memberitahumu jika Kaila, kakakmu sudah meninggal. Mama ingin kamu kembali ke rumah. Maaf karena mama bersikap egois sekali lagi.”