Masa Lalu yang Menghantui

2103 Kata
Kau tak mungkin bisa berlari dari masa lalu. Sampai kapan pun, masa lalu akan menjadi sebagian dari dirimu. Kau tak bisa menghindar, tak juga bisa menghapus apa yang pernah terjadi di masa lalumu. Kau tak bisa melakukan hal lain, selain menghadapinya dan berusaha belajar dari apa yang terjadi di masa lalumu. Kau tak bisa menolak apa yang ada di masa lalumu. Yang terjadi biarkan berlalu, kau tak memiliki kuasa untuk mengubah apa yang terjadi di masa lalu. Selepas melakukan percakapan yang menguras emosi tersebut. Nino mengajak Kiran untuk berjalan santai di pantai. Keduanya menelusuri bibir pantai seraya bercerita santai dan sesekali canda tawa menemani kebersamaan mereka. Dalam sekejap, suasana di antara mereka kembali mencair dan keduanya bersikap seolah taka da pembicaraan apa pun di antara keduanya. Tak ada hal yang sempat membuat keduanya merasa begitu canggung. Begitu lelah, Nino mengajak Kiran untuk duduk di tepi laut. Pria itu mengajak Kiran untuk bertelanjang kaki dan membiarkan ombak menerpa kaki mereka, menikmati angin laut dan juga pemandangan luar biasa. “Kamu lebih suka pantai atau pergunungan?” Tanya Nino memecahkan keheningan di antara mereka. Pria itu menoleh pada Kiran dengan kepala yang ditumpukannya pada tangannya yang terlipat di dengkulnya. Pria itu memperhatikan wajah cantik Kiran dan tak mampu mencegah debaran liar yang menguasai sanubarinya. Hatinya menghangat setiap kali melihat Kiran. Hal yang perlahan membuat Nino tahu jika perasaannya adalah cinta. “Pantai karena aku suka kehangatan angin laut dan juga mendengarkan deru ombak,” Jawab Kiran masih dengan menatap lurus lautan yang begitu luas di hadapan mereka. Ada rasa damai yang menjalar ke penjuru hatinya saat melihat samudera yang begitu luas. “Kalau kamu, lebih suka pantai atau pergunungan?” Kiran bertanya tanpa menoleh pada Nino. Sementara pria itu masih betah memandang wajah cantik Kiran. Cahaya bulan yang dipantulkan di permukaan laut, seolah membuat wanita itu tampak lebih bercahaya. “Aku lebih suka kamu,” Jawab Nino dengan senyum manis di wajahnya. Perkataan pria itu membuat Kiran tergelak pelan. Nino tetaplah Nino, pria yang pintar berkata manis dan mudah membuat wanita luluh dengan jurus handalannya itu. Nino pria yang tak mungkin bisa diabaikan. “Kamu memang paling jago dalam hal menggombal seakan semua itu sudah ada di dalam darahmu, mengalir begitu saja. Aku nggak heran bila banyak wanita yang klepek-klepek sama kamu,” Kali ini Kiran mengarahkan pandangannya pada Nino dan tersenyum manis. Nino terbahak. “Mungkin ini adalah bakatku,” Nino masih menatap Kiran lembut, “Tapi nggak ada gunanya bakat ini, bila aku nggak bisa menggunakannya pada satu-satunya wanita yang paling kuinginkan,” Lanjut Nino yang membuat Kiran tersenyum miris. Mengapa pria itu harus menodai persahabatan mereka dengan cinta? Harusnya semua ini tak terjadi di antara mereka. Kiran tahu, bila tak ada seorang pun yang mampu mencegah cinta, namun semua ini turut melukai hati Kiran. Ia tak ingin melihat pria itu bersedih. “No …,” Belum sempat Kiran menyelesaikan perkataannya, pria itu sudah menempatkan jari telunjuknya di hadapan bibir Kiran, meminta wanita itu untuk tak melanjutkan perkataannya. Pada akhirnya, Kiran hanya bisa menatap sedih sahabat yang begitu dikasihinya. “Mau berdansa di tepi pantai?” Tanya Nino berusaha mencairkan suasana di antara mereka. Pria itu memang pintar dalam hal mencairkan suasana dan mengembalikan kehangatan dalam percakapan mereka. Pria itu pintar dan hal inilah yang membuatnya menjadi idola. “Mana bisa berdansa bila nggak ada musik. Lagipula, aku nggak bisa berdansa, No,” Kiran tersenyum tipis dan menggeleng. Ia memeluk kedua kakinya dan kembali mengarahkan pandangan ke samudera di hadapan mereka. Akan tetapi, Nino tak menyerah dengan penolakan Kiran. Pria itu berdiri, memasang headset Bluetooth pada telinganya dan juga telinga Kiran, membuat wanita itu terkejut dan menoleh padanya. Kiran menatap Nino penuh tanya. Nino tersenyum penuh arti, lalu memainkan musik lembut yang mengalun indah dan memenuhi indera pendengaran keduanya. Pria itu lalu mengulurkan tangannya pada Kiran dan tersenyum manis. “Sekarang kita bisa berdansa, bukan?” Tanya pria itu seraya menatap manik mata Kiran dalam-dalam, sedang yang ditatap menggeleng-geleng kepala seraya tersenyum. Kiran menerima uluran tangan Nino dan bangkit berdiri. Keduanya saling berpandangan. Nino menautkan jemarinya di sela jemari Kiran dan tangan keduanya saling bertautan. Pandangan mereka saling terkunci dan mereka saling berbagi senyum. Semuanya tampak indah. “Jangan salahkan aku, kalau aku nggak sengaja menginjak kakimu,” Ujar Kiran begitu keduanya hendak bergerak dan mengikuti melodi indah yang menguasai indera pendengaran mereka. Nino tersenyum dan tampak tak peduli dengan apa yang Kiran ungkapkan barusan. “Kamu bisa menginjak kakiku sebanyak yang kamu mau,” Ujar Nino seraya menuntun Kiran untuk bergerak bersamanya. Kiran tersenyum melihat kepasrahan pria itu. Nino melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Kiran, sedang sebelah tangan mereka saling bertautan. Tubuh mereka bergerak seirama, mengikuti alunan musik yang memanjakan telinga. Kiran tak pernah sekalipun berdansa di tepi pantai seperti ini. Ardo bukanlah pria yang romantis dan bisa menciptakan suasana yang kerap disukai banyak wanita. Entah mengapa, kini Kiran malah membandingkan keduanya. Ia tak mampu mencegah otaknya untuk tak perbedaan di antara kedua pria tersebut. Dirinya tak bisa mencegah semua itu. Kiran terbawa suasana dan meletakkan kepalanya pada dadaa4 bidang Nino. Wanita itu dapat mendengarkan dengan jelas betapa kencangnya debaran jantung Nino yang mulai terdengar lebih merdu daripada musik yang kini mengalun dan memanjakan telinganya. Melodi yang merdu, seperti apa yang dulu kerap didengarnya dari Ardo. Namun sayang, debaran jantung tak selamanya menentukan bila rasa bisa abadi di dalam hati seseorang. “Makasih banyak untuk malam ini, No. Aku sangat menikmati kencan kita,” Ujar Kiran di tengah kegiatan dansa mereka, “Dulu, Kak Ardo hanya pernah membawaku ke kapal pesiar. Kami bersantai dan bercerita banyak hal. Selebihnya, dia nggak pernah melakukan hal yang romantis. Dia terlalu dingin dan kerap membuatku berpikir jika dia terlalu dewasa untukku. Aku selalu takut nggak bisa mengimbanginya dan ketakutan itu membuat cintaku dipenuhi dengan rasa taka man. Aku nggak bisa mencegah diriku untuk merasakan cinta yang menakutkan itu.” Nino hanya diam dan mendengarkan, meski hatinya seakan hancur saat mendengarkan Kiran bercerita tentang pria lain. Sejak dulu, ingin rasanya Nino berteriak penuh amarah dan meminta Kiran untuk berhenti bercerita karena tak ada satupun dari cerita Kiran yang disukainya. Namun sayang, Nino tak mampu melakukan hal yang akan menyakiti hati Kiran. Yang bisa ia lakukan hanya tersenyum dan menjadi pendengar yang baik bagi Kira. Lebih baik, dirinya mengahancurkan hatinya sendiri, daripada membuat Kiran terluka. Cintanya segila ini. “Bersama Kak Ardo membuatku merasa begitu nyaman dan sangat dicintai,” Kiran tersenyum tipis, “Namun sayang, pada akhirnya cinta hanyalah ilusi yang menipumu. Ketakutanku menjadi nyata. Aku nggak bisa mengimbangi langkahnya dan dia meninggalkanku. Dia mencari wanita yang bisa mengimbangi sikap dewasanya,” Lanjut Kiran yang tak mampu mencegah air mata yang jatuh begitu saja. Sekarang, semua cerita tentang Ardo kerap membuat hatinya terasa begitu sakit. Kiran tak mampu mencegah sesak yang menguasai dadanya saat ia mengenang pria itu. Ardo bagaikan luka yang tak mungkin bisa dihindarinya. Menyiksanya secara terus-menerus. Tak membiarkannya pergi menjauh dari luka itu. Rasa sakit yang selalu mengingatkannya bila hatinya masih bisa merasa, walau hanya perih yang bisa dirasakannya. “Dia nggak pantas untukmu, Ran. Nggak ada yang salah dengan dirimu,” Nino tersenyum lembut pada Kiran, “Orang yang meninggalkanmu demi mencari orang yang sama persis dengannya bukanlah orang yang mencintaimu dengan tulus. Orang seperti itu nggak pantai kamu tangisi, Kiran. Kamu berhak bahagia. Yang harus kamu lakukan adalah melepaskan semuanya.” Kiran tersenyum tipis. Andai saja melupakan adalah hal yang mudah, maka Kiran tak ‘kan tersiksa seperti sekarang. Andai saja, membuang semua kenangan yang telah menjadi bagian dari dirimu adalah hal yang mudah, maka tak akan ada satupun orang yang patah hati. Nino menghentikan dansa mereka, lalu menjauhkan tubuh mereka. Ia tersenyum tipis, begitu melihat sisa air mata yang menghiasi pipi Kiran. Nino mengusap sisa air mata wanita itu dan tersenyum lirih. Ia tak suka Kiran yang sekarang lebih sering menangis. Ia merindukan tawa dan senyum bahagia wanita itu. Hal inilah yang membuat Nino melakukan hal nekad dan mengungkapkan perasaannya. Ia ingin menjadi alasan untuk Kiran kembali bahagia. “Apa yang harus kulakukan, No? Aku nggak bisa melupakannya, meski hatiku sakit saat mengenangnya. Aku nggak bisa pergi dari masa lalu yang terus menghantui, meski aku tersiksa karenanya,” Air mata Kiran kembali jatuh. Ia memegang erat kedua lengan Nino, mencoba mencari tumpuan bagi tubuhnya yang telah kehilangan tenaga untuk tetap berdiri tegak, “Hal yang sangat ingin kulakukan adalah melupakannya, melupakan semua kisah yang pernah kami tulis bersama. Namun semakin kucoba, semakin nggak bisa pula aku melupakan segalanya. Aku semakin hancur dan inilah yang membuatku nggak bisa menerima perasaanmu, No.” Nino menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. “Seperti yang kubilang, aku nggak mengharapkan balasan apa pun, jadi jangan jadikan perasaanku sebagai beban untukmu. Aku nggak mau kamu malah semakin hancur karenaku. Berhenti memikirkanku, Kiran,” Pria itu menangkup wajah Kiran dengan kedua tangannya dan tersenyum menenangkan, “Yang harus kamu lakukan sekarang adalah maju ke depan. Lupakan semua masa lalumu dan kembali bahagia. Dengan begitu, kamu akan membuat perasaanku nggak sia-sia.” Kiran merasa begitu beruntung memiliki seorang seperti Nino di sisinya. Seorang yang tak menuntut dan mau melakukan semua apa pun demi kebahagiaannya. Harusnya, Kiran mudah jatuh cinta dengan pria seperti Nino. Andai saja, dirinya tak pernah terluka begitu dalam karena cinta, mungkin ia bisa kembali belajar mencintai orang lain dan berbahagia. Andai saja, ia bisa memutar balikkan waktu, mungkin dirinya akan kembali bahagia dan jantungnya bisa kembali berdegub. Hidup setelah lama mati akibat dibunuh dengan pengkhianatan. “Aku nggak tahu bagaimana diriku kalau nggak ada kamu, No,” Kiran tersenyum lirih dan mengusap lembut wajah Nino. Wanita itu memeluk Nino erat-erat dan Nino membalas pelukannya tak kalah eratnya. Keduanya saling tersenyum di dalam dekapan penuh kehangatan yang menjalar ke penjuru hati keduanya, membuat mereka merasa begitu tenang dan damai. “Aku yang beruntung karena telah menemukanmu,” Nino berbisik pelan tepat di telinga Kiran, “Sekarang kita harus pulang. Aku nggak mau membiarkanmu lebih lama bersamaku dan membuatku lepas kendali. Lagipula, aku nggak mau jika Clara mewawancaraiku dan membuatku pusing dengan semua pertanyaannya. Dia lebih mengerikan dari emak-emak zaman now.” Kiran melepaskan pelukan mereka dan ia tertawa. Benar apa yang Nino katakan. Jika saja, Kiran pulang lebih lama tanpa Clara, maka wanita itu akan mulai menghubungi ponselnya dan mulai menerornya bak seorang kekasih yang posesif. Kiran tak ingin membiarkan Nino terkena masalah karena telah mengajaknya kencan dan menghiburnya. Kiran mengangguk dan menggandeng tangan Nino, lalu berkata. “Mari kita pulang!” “Ayok kita pulang!” Nino tersenyum lebar. Kemudian keduanya bergandengan tangan dan pergi meninggalkan pantai yang tampak semakin memukai di malam hari. Sepanjang perjalanan, keduanya bercerita santai dan tertawa lepas. Kiran seakan kembali hidup karena kehadiran Nino. Selang beberapa menit. Keduanya sudah tiba di tempat tinggal Kiran. Nino membukakan pintu mobil untuk Kiran dan mempersilahkan wanita itu untuk turun. Keduanya saling bertukar senyum dan berpandangan, seolah tak rela untuk berpisah. “Masuklah dan aku akan melihatmu sampai bayanganmu menghilang. Aku harus memastikanmu sampai rumah dengan selamat dan sehat,” Ujar Nino seraya mengusap lembut wajah Kiran, sedang Kiran tergelak pelan. Nino lebih suka menatap Kiran hingga wanita itu menghilang dari pandangannya dan memastikan Kiran masuk ke rumah dengan selamat. “Jadi kamu bisa bersikap sangat manis bila berkencan. Pantas saja, banyak orang yang nggak bisa move on darimu,” Kiran tersenyum, sementara Nino tergelak pelan. “Masuklah. Selamat malam dan selamat tidur,” Ucap Nino seraya mengusap puncak kepala Kiran. Wanita itu tersenyum dan mengucapkan selamat malam pada Nino. Saat Kiran hendak masuk ke dalam rumah, Nino mencengkram pergelangan tangan Kiran dan membuat wanita itu kembali membalikkan tubuhnya ke arah Nino, menatap pria itu penuh tanya. Sedetik kemudian, tanpa aba-aba dan terjadi begitu saja. Pria itu mengecup kening Kiran penuh kasih, membuat Kiran terpaku sesaat. “Sekarang, aku baru bisa tidur tenang,” Ucap pria itu seraya tersenyum manis, “Pergilah sebelum aku benar-benar kehilangan kendali.” Kiran tersenyum dan mengangguk. Wanita itu masuk ke dalam bangunan apartemen tempatnya tinggal, sementara Nino masih setia mengamati wanita itu hingga punggung Kiran menghilang dari pandangannya. Nino tersenyum bahagia, lalu kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia meraba dadanya dan dapat merasakan jantungnya yang berdebar liar. Di sisi lain, senyum masih menghiasi wajah Kiran saat wanita itu masuk ke dalam unit apartemennya. Namun sayang, senyumnya langsung menghilang begitu ia berjalan masuk ke dalam ruang tamunya dan bertemu dengan seseorang dari masa lalunya duduk di sofa ruang tamu. Wanita paruh baya yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Kiran membeku di tempatnya berdiri. Tanpa sadar, ia menahan napas selama beberapa detik karena wanita itu. “Mama?” Ada nada tak percaya dalam nada suaranya. Semua rasa sakit kembali mendera.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN