Perasaan Terlarang

1926 Kata
Kau tak tahu apa yang menantimu di masa depan. Banyak hal tak terduga yang menantimu. Kehidupan memberikan banyak kejutan untukmu, membuatmu mulai melihat banyak hal yang tak kau pikirkan sebelumnya. Kau tak bisa menghindar dari apa yang hidup siapkan untukmu. Kau hanya bisa menjalaninya sebaik mungkin dan berharap menemukan akhir bahagia untukmu. Kiran dan Nino memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua saja hari ini. Nino secara khusus meminta Kiran untuk makan malam dengannya. Kiran awalnya menolak, namun tak tega saat pria itu mengatakan bila dirinya hanya ingin berduaan saja dengan Kiran. Sesungguhnya, Kiran tahu tentang perasaan Nino padanya meski Kiran tak pernah menganggap serius perasaan pria itu. Kiran tak mempunyai keberanian untuk membuka hatinya. Apa lagi Nino adalah seorang pria yang tak pernah serius. Nino menarik kursi dan mempersilahkan Kiran untuk duduk. Wanita itu mengucapkan terima kasih, kemudian Nino duduk di hadapan Kiran. "Jadi ... ini semacam kencan?" Tanya Kiran begitu keduanya sudah duduk berhadapan. Nino tergelak pelan. Ini memberanikan diri untuk mendekati Kiran karena tak mau lagi kehilangan kesempatan. Meski orang-orang bilang bila tak seharusnya ada cinta dalam persahabatan, akan tetapi Nino tak bisa mencegah hatinya sendiri. Ia tahu bila perasaan cinta adalah sesuatu yang terlarang dalam persahabatan, perasaan yang mampu menghancurkan hubungan yang murni. "Ya, semacam itu," Jawab Nino santai, membuat tawa Kiran pecah. Wanita itu menggeleng-geleng, tak perlu menggunakan perasaan bila berhadapan dengan orang seperti Nino yang tak mungkin serius. Pria itu kerap bergonta-ganti kekasih, mudah bosan, dan tak mungkin bisa jatuh cinta. "Tampaknya, kamu memang sedang kesepian atau nggak laku," Kiran menarik napas panjang dan menghelanya perlahan, ia menatap Nino dengan tatapan penuh iba. Sementara Nino tergelak pelan. "Aku sudah memutuskan semua wanita itu demimu. Harusnya, kamu merasa terharu, Ran," Nino menatap Kiran dengan mata berbinar, berharap Kiran dapat mempercayai perkataannya. Kiran berdecak kesal. "Sudah kubilang kalau kata-kata gombalmu nggak akan bisa menggugah hatiku dan kamu harus menghentikannya." Nino tersenyum dan memanggil seorang pramusaji untuk mulai memesan. Kiran yang melihat pria itu memanggil pramusaji, segera membuka buku menu di hadapannya. Begitupun dengan Nino. Tidak lama menunggu seorang wanita sudah mendatangi meja mereka dan siap menerima pesanan keduanya. "Mau makan apa, Ran?" "Entahlah, aku sedang nggak selera makan. Bagaimana kalau kamu aja yang menentukannya?" Kiran menutup kembali buku menu dan tersenyum pada Nino. Beberapa hari ini, pikiran Kiran dipenuhi dengan rasa penasaran tentang apa yang terjadi di rumahnya. Mengapa tiba-tiba ibunya begitu gencar mencarinya. Meski Kiran penasaran, ia tak memiliki keberanian untuk membuka pesan ibunya di sosial medianya. Ia terlalu takut menemukan kebenaran lain yang akan membuat hatinya semakin hancur. Bagaimana bila ibunya ingin menceritakan tentang kebahagiaan Ardo dan juga Kaila setelah kelahiran anak mereka? Bagaimana bila ibunya ingin Kiran kembali karena kelahiran bayi keduanya? Memikirkannya saja membuat Kiran takut setengah mati. Ia tak siap untuk terluka lagi. "Ya sudah kalau begitu bagaimana dengan steak?" Nino menutup buku menu di hadapannya. Kiran tersenyum dan mengangguk. Ia tak. begitu peduli dengan apa yang akan mereka santap. Dirinya hanya ingin mengalihkan pikirannya dari masa lalu dan melupakan orang-orang yang ia yakin telah melupakannya juga. Nino menyampaikan pesanan mereka pada pramusaji yang mencatat apa yang keduanya pesan. Setelah memastikan pesanannya, pramusaji itu meninggalkan keduanya. "Aku tahu kalau kamu mengkhawatirkanku dan sengaja mengajakku berkencan malam ini hanya untuk menghiburku," Kiran membuka pembicaraan di antara mereka. Nino menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Sebagian yang diucapkan wanita itu benar. Nino memang ingin menghibur Kiran, namun ada hal lain lagi yang tak bisa Nino simpan sendiri dan harus segera dibagikan pada Kiran agar dadanya tak merasa sesak. "Sebagian benar, tapi bukan itu motif utamaku mengajakmu berkencan," Nino tersenyum penuh arti, membuat Kiran menatap pria itu dengan tatapan meneliti. "Kamu terlihat semakin mencurigakan," Kiran memicingkan mata dan menatap Nino dengan curiga. Ia tak mau salah mengartikan sikap pria itu dan menjadi salah paham dengan apa yang terjadi di antara mereka. Kiran tak ingin hubungan mereka rusak karena Kiran menyukai hubungan yang sekarang ada di antara mereka. Persahabatan yang membuatnya mulai merasa kembali hidup. "Jangan lakukan hal aneh yang akan merusak persahabatan kita," Kiran memperingati, akan tetapi Nino tampak tak peduli. Pria itu terlihat tak sanggup lagi menahan rasa yang menjalar ke penjuru hati. Pria itu terlihat ingin mengungkapkan semua yang membuat dadanya sesak dan berharap Kiran dapat mengerti apa yang ada di dalam hati pria itu. "Kenapa kamu harus mengancamku seperti itu? " Nino mengambil kedua tangan Kiran yang berada di meja dan menggenggamnya erat-erat. Pria itu menatap dalam kedua manik mata Kiran dan berharap Kiran dapat merasakan kesungguhannya. "Kamu pasti tahu kalau malam ini adalah saat yang spesial dan kamu pasti bisa menduga apa yang mau kukatakan dengan membawamu ke tempat seperti ini," Nino tersenyum manis, "Kita sudah sama-sama dewasa, Kiran. Kamu memang berhati dingin dan susah peka, tapi kamu pasti tahu jika ada sesuatu yang berbeda dari hubungan kita," Lanjut Nino seraya mengeratkan genggaman tangannya, sedang Kiran hanya bisa tersenyum lirih. Tak menyangka jika Nino memiliki keberanian yang begitu besar untuk menghancurkan persahabatan mereka. Bukannya Kiran merasa bila Nino adalah pria jahat. Hanya saja, Nino bukan tipe pria yang bisa berkomitmen dan tak ada seorang wanita pun yang mau membagi prianya. "Kamu juga seharusnya tahu kalau apa jawaban yang akan kusampaikan jika kamu masih nekad," Kiran sengaja menekankan kata-katanya agar Nino tahu jika Kiran tak ingin menjalin hubungan apa pun selain persahabatan. Ia tak mau lagi tersakiti karena cinta. Namun perkataan Kiran tak mampu lagi membuat Nino mundur. Pria itu sudah membulatkan tekadnya. "Kamu juga harusnya tahu kalau aku nggak akan mundur setelah membulatkan tekadku," Nino tersenyum manis, sedang Kiran menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. Begitulah Nino yang dikenalnya. Walau selalu terlihat tak serius, Nino adalah seorang yang keras kepala dan tak mudah mundur. Pria itu tak mengenal kata menyerah. Paramusaji yang datang dan menghidangkan makanan menghentikan percakapan keduanya. Nino tak lagi ingin membuat Kiran ketakutan, ia mempersilahkan wanita itu untuk makan dan bercerita santai tentang keseharian mereka. Nino tak ingin terlihat memaksa Kiran, ia ingin mencairkan suasana di antara mereka dan membuat Kiran kembali merasa nyaman. Meski Nino tak sabar mengutarakan perasaannya, ia tak ingin menakuti Kiran. Setelah menyantap makanan, Nino mengajak Kiran untuk ke balkon restoran dan menikmati angin laut di sana. Nino memeluk Kiran dari belakang dan menempatkan dagunya pada pundak kecil Kiran. "Aku mencintaimu, Kirania," Pria itu membisikkan kata yang membuat napas Kiran seolah tercekat. Inilah yang ditakutkannya. Pria itu akan mengutarakan perasaan yang akan mengubah apa yang ada di antara mereka. Pria itu mengeratkan pelukannya saat tak menerima respon apa pun dari Kiran. "Aku memang terlihat nggak serius dan nggak bisa berkomitmen, tapi perasaanku padamu nyata. Aku jatuh hati padamu sejak kita masih kuliah dulu. Aku selalu tersiksa jika kamu bercerita tentang kekasihmu dan kini aku nggak mau lagi menyimpan perasaan ini sendiri," Suara Nino terdengar bergetar. Pria itu seolah sedih dengan apa yang diucapkannya. Kiran dapat merasakan ketulusan dalam nada suara Nino. Namun sayang, Kiran tak bisa memberikan jawaban yang ingin pria itu dengar darinya. Nino membalik tubuh Kiran ke arahnya dan tersenyum manis. Pria itu menempatkan jari telunjuknya di hadapan bibir Kiran begitu melihat Kiran hendak membuka mulut dan mengatakan sesuatu padanya. "Jangan katakan apa pun, Ran. Biarkan aku terus menyukaimu seperti ini," Nino mengusap lembut wajah Kiran, "Nggak ada yang harus berubah di antara kita dan semua akan tetap sama. Aku hanya ingin menyampaikan perasaan yang ku yakin sudah kamu ketahui sejak awal," Lanjut Nino dengan tatapan putus asa. Kiran meneliti sepasang netra pria itu. Ia menarik napas panjang dan menghelanya perlahan. "Ya Tuhan, No. Kenapa harus seperti ini? " Kiran mengacak rambutnya frustrasi, "Harusnya kamu tahu kalau hatiku sudah mati dan aku nggak mungkin bisa menerima perasaanmu, lalu merusak hubungan kita." Nino menangkup wajah Kiran dengan kedua tangannya dan menggeleng. "Nggak ada hubungan yang akan hancur, Ran. Aku sudah sampaikan kalau nggak ada yang berubah di antara kita. Aku hanya lelah menyimpan perasaan ini seorang diri. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi esok, jadi aku mau mengatakan perasaanku sebelum terlambat. Seperti yang kubilang kalau kamu nggak perlu memberikan jawaban apa pun dan biarkan aku terus menyukaimu seperti ini. Aku nggak menginginkan apa pun darimu." Nino membuat semua terdengar begitu mudah, namun tak semudah itu untuk menjalani hubungan mereka yang biasa setelah Kiran mendengarkan perasaan pria itu padanya. Kiran tak mungkin bisa bersikap tak acuh dan mengabaikan perasaan pria itu. Harusnya, Nino tahu bila ada perasaan yang tak perlu diungkapkan untuk menjaga hati orang lain. Bagaimana bisa Kiran memandang Nino dengan cara yang sama setelah mendengarkan langsung isi hati pria itu? Ah ... andai Nino tahu jika ada beberapa hal yang tak bisa kau pertahankan setelah kau membuat perubahan. "Semua ini nggak adil bagimu, No," Kiran menggenggan tangan Nino yang berada di pipinya, "Dia sudah membunuh hatiku dengan kejam dan aku nggak yakin sampai kapan hatiku akan seperti ini. Kamu hanya menyia-nyiakan waktumu dengan mencintaiku," Lanjut Kiran dengan lirih. Ia tak ingin menyakiti hati sahabatnya itu, akan tetapi rasa bukanlah sesuatu yang bisa kau paksakan begitu saja. Terlalu banyak luka di dalam hati membuatmu tak mampu melihat hal lain. Kau tak bisa kembali merasa setelah hatimu mati rasa. Nino memeluk Kiran erat. "Aku yang memutuskan apa yang ingin hatiku lakukan dan bagiku, mencintaimu nggak membuang waktuku, Ran. Maaf karena aku nggak bisa menahan diri lagi, tapi aku hanya ingin kamu tahu perasaanku," Nino mengertakan pelukannya, sedang Kiran membalas pelukan pria itu. Keduanya berpelukan dengan erat dan Kiran tak mampu mencegah air mata yang jatuh karena rasa berkecamuk yang menguasai hatinya. Ia merasa begitu kasihan pada Nino. Ia lebih suka bila Nino bersikap seperti seorang playboy dan bermain dengan banyak wanita di luar sana, daripada pria iu harus jatuh hati padanya. Pada Kiran yang tak lagi bisa mencintai setelah semua pengkhianatan yang menghancurkan hidupnya. Harusnya, pria itu tak melakukan hal yang membuat hatinya semakin kacau. "Kamu harus berbangga diri karena membuatku jatuh hati dan menjadi satu-satunya wanita yang boleh mengantungkan perasaanku," Nino melepaskan pelukan mereka dan mengusap air mata Kiran. Pria itu tertawa kecil, memancing Kiran untuk ikut tertawa bersamanya dan melupakan kebodohan yang ia lakukan barusan. "Kau memang bodoh," Cibir Kiran sembari memaksakan senyum di wajahnya. Nino menempelkan kening mereka dan tersenyum pada Kiran. Jarak di antara wajah mereka begitu dekat. Bahkan Nino dapat merasakan napas Kiran yang menyentuh wajahnya. Namun sayang, ada jarak tak kasat mata yang memisahkan mereka, jarak yang disebut sebagai 'persahabatan'. "Ya, padahal banyak wanita seksi dan cantik di luar sana. Kayaknya, kamu pakai pelet, Ran," Dengan kening yang masih saling menempel keduanya berbagi tawa. Terkadang, yang kau butuhkan bukanlah pengakuan ataupun jawaban. Meski tahu bagaimana akhir dari apa yang kau mulai, kau tak bisa mencegah diri untuk terus maju. Bukan untuk memastikan apa yang ada di dalam hatimu, melainkan untuk memberikan rasa lega di dalam hatimu. Terkadang, kau mengutarakan sesuatu agar hal itu tak lagi menjadi beban di dalam hatimu. Bagi Nino, Kiran adalah hal terindah yang terjadi di dalam hidupnya dan ia ingin Kiran mengerti akan hal itu. "Aku akan selalu berada di sisimu. Jangan berubah ya, Kiran. Kita akan tetap sama, jangan menyalahkan dirimu karena sekarang aku merasa lega setelah mengungkapkan semuanya padamu." "Kamu memang bodoh!" Bukannya tersinggung. Nino malah tertawa, tawa itu dengan cepat menular pada Kiran. Mungkin beginilah cinta di antara persahabatan, kerap membuatmu menjadi seorang yang bodoh dan tak mampu berpikir dengan jernih. Tak mengapa, kau tahu bila apa yang ada di antara kalian akan tetap sama meski ada perasaan terlarang di dalamnya. Kau tahu benar, jika tak ada yang mengalahkan persahabatan di antara kalian. Semua hal akan tetap sama karena kau menghargai persahabatan di antara kalian. Meski ada luka, namun semua bisa segera pulih karena begitulah persahabatan, bukan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN