Kiel memperhatikan roti isian Ladeina yang masih banyak dan lebih memilih menunggu sang gadis untuk menghabiskan keseluruhan roti isian dagingnya Tatapannya hanya tertuju kepada Ladeina, ia mengamati bagaimana sang gadis mengambil gigitan per gigitan. Matanya terlalu fokus pada bibir mungil Ladeina, tanpa sadar pikiran kotor memasuki isi kepalanya, membayangkan jika dirinya di posisi roti tersebut.
Beberapa detik kemudian, Kiel tersadar dari fantasi kotornya. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, membuang semua pikiran kotor yang mampir ke benaknya tadi. Hampir sepuluh menit, Ladeina memakan sampai habis roti isian dagingnya.
Kiel yang melihat bahwa Ladeina telah menyiapkan makan siangnya pun membuka topik pembicaraan. "Gaun pernikahan kamu sudah dipesan, untuk sepatunya kamu kirim saja fotonya mau yang bagaimana ke aku. Nanti aku suruh ajudanku untuk mencarikannya".
Ladeina terdiam, ia berhenti menghisap minumannya namun beberapa saat kemudian dirinya mengangguk. "Kakak semua yang menanggung biayanya?" Tanya Ladeina, menarik kedua sudut bibirnya ke dalam. "Ya, aku saja. Emang kamu ada uang?" Balas Kiel melirik Ladeina. "Gak ada sih" balasan Ladeina membuat Kiel tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.
"Kak, nanti aku boleh punya kerjaan tidak?" Tanya Ladeina dengan hati-hati, suara gadis ini begitu pelan. "Apa? Kerja? Gak" tolak Kiel tanpa pikir panjang. Ekspresi pria jangkung ini langsung berubah sangat dingin. "Boleh ya kak?" Mohon Ladeina dengan suara manja. Namun, Kiel tetap pada putusan awalnya. Tidak.
Meskipun terus memohon kepada Kiel, Ladeina tetap tidak mendapatkan balasan yang diinginkan bahkan ditanggapi saja tidak. "Kak!" seru Ladeina mendorong tubuh Kiel. "Eina jangan gitu!" balas Kiel menatap tajam pada sang gadis yang berhasil membuat jantungnya berdetak kencang. "Nanti yang ada aku bosan loh!" alasan Ladeina, ia mencengkeram lengan Kiel sambil berusaha menariknya perhatian sang pria ke dirinya.
Meski sudah dicoba ditarik berulang kali, Kiel tetap mempertahankan pandangannya kedepan. Akhirnya Ladeina menyerah dan berhenti menarik lengan Kiel. Ladeina menundukkan kepalanya, tidak lagi berusaha merebut perhatian Kiel agar memperhatikan keinginannya untuk bekerja supaya diizinkan.
Ladeina kembali mendongakkan kepalanya setelah merasa Kiel hanya membiarkannya. Bahkan sekarang Kiel menyilangkan tangannya di depan d**a dan menyenderkan tubuhnya di bangku taman yang panjang.
Wanita muda itu menatap Kiel dengan lekat, ia ingin menyentuh tangan sang pria tapi tidak keberanian yang muncul di dalam dirinya, jadi Ladeina hanya memanggil saja "Kak Kiel...". Untungnya Kiel, si pria jangkung ini menoleh ke arah Ladeina, memberikan sedikit perhatian pada sang gadis.
Kiel mengangkat satu alisnya sebagai respon yang diberikan kepada Ladeina. "Kenapa gak izinin?" tanya Ladeina dengan suara yang lembut. Garis-garis ekspresinya menunjukkan kesedihan dan putus asa. Tapi Kiel tetap tidak peduli, ia hanya ingin Ladeina berada di rumah dan di sisinya saja.
"Aku bakal kasih kamu satu kartu kreditku, belanja apa yang kamu mau dan kamu suka dengan menggunakan kartuku. Aku tidak peduli sebesar besar biaya yang kamu keluarkan" kata Kiel. Tangannya terlepas dan beralih merangkul Ladeina, meremas bahu wanita muda tersebut.
"Aku bukan anak manja, kak" lirih Ladeina, kedua telapak tangannya terkepal erat, tatapan gadis itu sendu namun tersirat ketegasan di dalamnya. "Iya aku tahu kamu gak manja sama uang, tapi, kalau minta sesuatu itu nuntut banget harus dikabulkan" balas Kiel dengan menggunakan kata-kata lembut, suaranya pelan dan ia menuturkannya seolah ia memahami Ladeina.
"Yang pentingkan bukan uang langsung yang aku minta" bantah Ladeina menyilangkan kedua tangannya. Rangkulan Kiel mendorong tubuh Ladeina mendekat kepadanya. Kepala gadis itu bersender di bahu Kiel. Telapak tangannya yang lebar mendarat di kepala Ladeina lalu bergerak mengelus dengan lembut, beberapa kali jari jemari Kiel begerak menyusuri rambut-rambut Ladeina yang panjang, halus dan harum. Walaupun begitu, Ladeina merasakan keposesifan dan ketegasan dari elusan Kiel di kepalanya.
"Dasar keras kepala" gumam Kiel sambil tersenyum kecil. Ladeina yang tidak sengaja mendengar gumamam sang pria mendongakkan kepalanya. Gadis baru menginjak umur 22 tahun ini melihat senyuman kecil dari sang calon suami.
Detak jantung Ladeina semakin berdetak kuat. Tidak perlu drama kenapa detak jantungnya berdetak lebih cepat, bertanya-tanya kenapa merasa nyaman di sisi seorang pria, menjauhi Kiel untuk membuktikan perasaannya, tidak bisa tidur semalaman, dan drama lainnya yang ia tidak perlukan. Setelah mengetahui detak jantungnya bertedak lebih cepat, Ladeina langsung mengetahui bahwa ia jatuh cinta pada Kiel, tidak peduli apakah itu pada pandangan pertama ataupun lama-kelamaan perasaan yang sudah tumbuh.
"Emang gaji kakak berapa sih?" tanya Ladeina membenarkan posisinya, ia menyandarkan tubuhnya di kursi taman yang panjang juga seperti yang dilakukan Kiel. "Yah... cukup untuk kehidupan sehari-hari kita" jawab Kiel dengan nada acuh tak acuhnya.
Ladeina yang kesal dengan jawaban Kiel pun memukul lengan sang pria, wajahnya cemberut. "Aduh!" ringis Kiel mengelus lengannya yang dipukul Ladeina. "Posisi kakak di perusahaan apa?" tanya Ladeina lagi. Wanita berambut lurus dan panjang ini akan terus berusaha keras mengorek segala informasi tentang Kiel.
"Presiden direktur" jawab Kiel malas. "Tuh kan!" Seru Ladeina seolah menangkap basah Kiel yang tengah melakukan sebuah kejahatan. "Tuh kan apa?" kedua alis Kiel tertekuk, dahinya berkerut. "Aku udah mengira kalau kakak pasti punya jabatan penting di perusahaan" Ladeina menunjuk Kiel dengan jari telunjuknya, ia benar-benar bertingkah kalau Kiel melakukan kejahatan sesungguhnya. "Sebentar lagi aku akan dipromosikan sebagai CEO" ucap Kiel dengan seringai tipis.
"Tapi kamu diam-diam saja, jangan beritahu orang lain apalagi orang lain itu pihak eksternal perusahaan" lanjut Kiel menempelkan jari telunjuknya di antara hidung dan mulut. "Lalu kenapa kakak bocorkan ke aku?!!" seru Ladeina yang merasa was-was dengan informasi penting yang di berikan Kiel kepadanya.
"Kan kamu istriku, tidak ada masalah kalau itu" seringai Kiel semakin melebar. Ia senang melihat Ladeina yang merasa was-was apalagi gadis itu yang bolak balik melihat ke belakang dan sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar percakapan mereka.
Setelah memastikan tidak ada sepasang telinga yang mendengarkan mereka, Ladeina pun merasa lega dan menghembuskan napasnya. "Dasar nepotisme" sindir gadis muda berambut cokelat kehitaman ini.
Mendengar sindiran Ladeina, Kiel mendegus sebal. "Mulutnya ya" sinis Kiel menatap kesal pada Ladeina meskipun Ladeina ada benarnya juga. "Kakak masih di umur 28 tahun, udah bisa menduduki posisi CEO, kalau bukan karena ayah kakak, emang kakak bisa?" perkataan Ladeina membuat Kiel diam dan buru-buru mengalihkan pandangannya.
"Seenggaknya aku bisa mengambil tanggung jawab itu dan melaksanakannya. Kalau mereka menantang, silakan kerjakan pekerjaanku" ucapan Kiel terdengar seperti menyombongkan dirinya dan kemampuannya. "Kalau memang ada yang bisa gimana?" Tanya Ladeina, kini wajahnya penuh ekspresi penasaran.
Kiel terdiam. "Kakak berani tinggalin posisi presdir?" lanjut Ladeina. Kiel membuang napasnya perlahan lalu mengangguk. "Ya akan aku tinggalkan dengan satu syarat dia harus bisa melewati semua pencapaianku dan membuat semua kebijakan sampai strategi yang pernah aku buat tidak ada apa apanya.".
Ladeina terdiam, Ia menyadari satu hal, meskipun keluarga Winston melakukan nepotisme tapi mereka melakukannya karena tahu posisi itu bisa diambil oleh Kiel dan terlebih lagi dapat membuat perusahaan semakin maju dan berkembang tidak hanya sekedar hidup saja.
"Kalau kak Rune gimana?"
Kedua alis Kiel kembali bertekuk mendengar pertanyaan Ladeina, "Maksudnya posisi Rune di perusahaan?". Ladeina mengangguk mendengar penjabaran Kiel. Sementara itu, sang pria hanya bisa diam seolah enggan mengatakannya.
"COO"
Volume suara Kiel begitu pelan tapi dapat didengar oleh Ladeina. Gadis muda itu sepertinya paham jika Kiel merasa tidak percaya diri karena harus berada diposisi sedikit lebih rendah dibandingkan kakaknya. "Oh" Ladeina hanya membalasnya seperti itu, nadanya juga acuh tak acuh.
Gadis bertubuh pendek ini seolah tidak terlalu peduli dengan posisi yang dimiliki Rune bahkan ia membuatnya terdengar seperti membosankan. Kiel hanya terkekeh dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi dia kelihatan seperti orang yang gak punya kerjaan" gumam Ladeina.