"Eina, apa tidak apa-apa? Tidakkah sebaiknya kamu menentukan jenis kainnya. Kamu bilang kamu ingin pakai gaun impian kamu bukan?" Tanya Kiel. Kepalanya menoleh, ia menatap sang gadis dengan penuh penasaran dan berusaha memastikan Ladeina tidak akan menyesal saat gaun sudah siap.
"Ya, kulitku sedikit sensitif jadi pilihan kain untukku jadi lebih terbatas" jawab Ladeina membalas tatapan Kiel sambil mengangguk dan senyuman kecil di wajahnya.
"Baiklah kalau itu yang kamu inginkan" pasrah Kiel sembari mengangguk kecil. Ladeina dan nyonya Rosa pun melanjutkan perbincangan mereka mengenai gaun pernikahan yang akan digunakan nantinya. Mulai dari bentuk yang diinginkan seperti apa, model lengan yang bagaimana, pajang gaunnya seberapa, sampai warna putih yang bagaimana pun juga dibahas dan tentunya masih banyak lagi yang mereka bahasa seperti ada atau tidaknya manik di gaun.
Nyonya Rose meminta Ladeina untuk mengikutinya ke sebuah ruangan dimana nantinya wanita paruh baya itu akan mulai mengukur tubuh Ladeina. Dan hanya perlu beberapa saat untuk mengukur tubuh si gadis sebelum akhirnya kembali pada Kiel.
Perbincangan mengenai gaun pengantin pun sudah selesai, Kiel dan Ladeina berdiri dan pamit undur diri. Mereka berjalan beriringan menuju dimana mobil diparkir tadi. Kiel membukakan pintu kursi penumpang, Ladeina masuk dan Kiel memakaikannya sabuk pengaman juga. Kiel memutari mobil dan masuk kedalam, duduk di kursi pengemudi.
Kiel memundurkan mobilnya dan melajukannya ke luar area gedung, menuju jalan raya. "Eina" panggil Kiel pelan yang disahuti dehaman kecil oleh Ladeina. "Mau piknik tidak?" Tanya Kiel memberi usulan kecil untuk kencan kecil mereka. "Mau kak" jawab Ladeina mengangguk setuju.
Kiel menghentikan laju mobil di depan sebuah toko roti isian. "Kamu mau isian roti yang bagaimana?" Tanya Kiel melepaskan sabuk pengamannya sambil menatap wajah Ladeina. "Aku mau yang daging-dagingan aja deh tapi yang pedas ya kak" jawab Ladeina tanpa mengalihkan pandangannya.
Kiel mengangguk sebentar sebelum akhirnya keluar dari mobil menuju toko roti isian. Saat pria ini mendorong pintu, wangi roti dan berbagai macam isian menyebar dan tercium harum. Kiel melangkahkan kakinya menuju meja pembelian sekaligus kasir disana.
Kiel Winston memesan 4 roti isian daging yang full ekstra dengan 1 roti isian daging yang full ekstra rasa sangat pedas dan sisanya roti isian daging full ekstra rasa pedas biasa. Ia juga memesan minuman berukuran besar. Kiel memiliih menu minuman air leci dengan potongan campuran buah segar lainnya. Ia memesan 4 cup minuman berukuran besar juga.
Kiel mengeluarkan dompetnya dan menarik kartu kredit berwarna hitam menjadikannya alat pembayaran untuk pesanan-pesanannya. Ia memberikannya kepada karyawan di depan dan setelah pembayaran selesai, kartu dikembalikan lagi kepada Kiel.
Setelah beberapa menit, pesanan selesai. Kiel mengambil bungkusan besar dan berjalan keluar toko. Ia mendorong pintu dan berjalan ke arah mobil. Memasuki kursi pengemudi dan duduk, Kiel menyerahkan pesanan makanan mereka kepada Ladeina. "Ini pegang".
Pesanan diterima oleh sang gadis. Wangi roti dan isian daging memenuhi penjuru mobil. Ladeina sudah tidak sabar untuk sampai ke taman dan memakan roti isian daging ini. "Kak, nanti belok ke kanan ya. Tamannya gak jauh kok. Nanti ada tempat parkiran juga" kata Ladeina
Kiel mengangguk, ia menyalakan mesin mobil, menurunkan hand brake dan mengatur persneling mobil ke arah D lalu menginjak gas. Setelah beberapa ratus meter, terlihat persimpangan, Kiel mengambil jalur paling kanan, ia sedikit menambahkan gas mobil saat melihat lampu lalu lintas masih hijau. Kiel memutar setir mobil dengan telapak tangannya ke arah kanan.
Tidak terlalu jauh dari persimpangan lampu merah, Kiel melihat taman yang dimaksudkan Ladeina. Ia mengambil jalur kiri dan memelankan kecepatan mobil lalu berbelok ke arah kiri memasuki area parkiran mobil. Kiel pun memarkirkan mobil di tempat kosong yang dekat pintu masuk taman.
Setelah memarkirkan mobil, Ladeina buru-buru melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu membawa tas dan makanan serta minuman mereka keluar dari mobil. Kiel hanya bisa terpelongo melihat antusias Ladeina dan kecepatannya keluar dari mobil bahkan pria ini belum melepas sabuk pengamannya. Si lelaki langsung melepaskan sabuk pengamannya secara buru-buru juga dan keluar dari mobil mewah Dion. Ia menekan tombol gembok yang terkunci dan lampu mobil berkilat menandakan sudah terkuci.
Ladeina sudah menunggu di luar, Kiel pun menghampirinya. Lengan kekar pria itu melingkar di pinggang gadis mungilnya. Perbedaan tinggi yang sangat kontras membuat mereka terlihat seperti kakak beradik. Keduanya berjalan ke pintu masuk area taman, menyusuri sekitaran taman dan mencari spot cantik dan nyaman untuk diduduki.
"Disana saja, Ein" Kiel menunjuk ke arah bangku dan meja taman yang sudah satu set menghadap ke arah danau. Lengan kekarnya mendorong tubuh Ladeina dengan lembut ke arah bangku taman. Mereka duduk bersama, jarak diantara keduanya pun menghilang. Ladeina buru-buru langsung membuka bungkusan roti isian daging full ekstra rasa pedas biasa untuk Kiel lalu membuka satu bungkusan roti isian daging full ekstra lagi yang rasa sangat pedas untuk dirinya.
Saat yang tepat, jam makan siang sudah mulai. Kiel langsung mengigit roti isiannya, ia mengambil gigitan yang cukup besar. Sementara itu, Ladeina hanya mengambil gigitan yang kecil, sesuai dengan ukuran bibirnya. Sembari mengunyah dengan pelan, manik Ladeina menangkap hal yang menarik. Ia terkejut dengan roti isian daging milik Kiel yang sudah hampir habis setengah sedangkan dirinya, gigitan miliknya saja tidak sampai seperempat.
Dan sekarang Kiel sudah memasuki gigitan keduanya. Ladeina langsung terkejut, dirinya sendiri saja masih mengunyah gigitan pertama dan gigitannya begitu kecil. Sedangkan Kiel dengan gigitan besarnya sudah selesai dengan cepat, bahkan roti Kiel pun sudah hampir mau habis.
Kiel yang awalnya hanya memperhatikan pemandangan angsa dan bebek di danau tidak sangaja menangkap Ladeina yang bengong melihatnya. Ia menaikkan satu alis dan menoleh kepada Ladeina, sebelum berbicara ia menelan kunyahannya terlebih dahulu "Ada apa?".
"Hik!"
Ladeina yang menelan gigitan pertamanya, langsung cegukan. Roti mereka begitu padat dan berserat. Kiel langsung menelan gigitan keduanya dan cepat-cepat memberikan memberikan minuman pada Ladeina "Minum cepat". Ladeina langsung menerimanya dan meneguk dua kali untuk menghilangkan cegukannya. "Sudah?" Tanya Kiel memastikan Ladeina sudah merasa baik dan tenang.
"Sudah..."
Ladeina mengambil gigitan keduanya. Begitu juga dengan Kiel yang mengambil gigitan ketiga dan menjadi yang terakhir untuk roti isian daging pertamanya. Tidak perlu waktu lama, Kiel sudah menelan gigitan terakhirnya begitu juga dengan Ladeina yang menelan gigitan keduanya.
Kiel memperhatikan roti isian Ladeina yang masih banyak dan lebih memilih menunggu sang gadis untuk menghabiskan keseluruhan roti isian dagingnya.