Ibu Ladeina menunduk, memikirkan percakapan saat sang suami mengumumkan pernikahan ataupun perjodohan Ladeina dengan Kiel Winston. Nyonya York merasa lega ketika melihat putri satu-satunya menikah dengan pria yang benar-benar bertanggung jawab dan mampu menjaga sang putri tercinta, Ladeina.
Setelah memuaskan rasa lapar di tengah malam dengan memakan mie instan, seluruh anggota kedua keluarga kembali ke kamar mereka masing-masing. Saat berjalan kembali ke kamar tidur, Kiel kembali memegang tangan Ladeina, menuntun dan menyamakan kecepatan langkahnya dengan sang gadis.
Kiel tetap meremas jari-jemari Ladeina, memberikan pijatan kecil kepadanya. Sementara itu, Ladeina yang merasakan semua remasan dan genggaman, menundukkan kepalanya, senyum kecil terlukis di wajah cantiknya. Tangannya satu lagi pun tergerak memegang lengan Kiel yang menggenggam tangannya.
Anehnya, Ladeina merasa aman dengan pria yang lebih besar di sampingnya ini. Keduanya telah sampai di kamar Ladeina. "Selamat tidur, kak Kiel" ucap Ladeina sambil tersenyum manis. Kiel hanya mengangguk saja, ia mengacak rambut Ladeina lalu pergi ke kamarnya yang berada di sebelah kamar tidur Ladeina.
Kedua memasuki kamar tidur masing-masing. Detak jantung keduanya berdetak sangat kencang namun keduanya juga berhasil menyembunyikannya dengan sangat rapat.
Keesokan paginya, semua anggota kedua keluarga berkumpul di ruang makan untuk melaksana sarapan. Dan sarapan pun terlaksana dengan lancar.
"Eina, jalan-jalan lah berdua bersama Kiel ke kota" suruh sang ayah. Ladeina mengangguk setuju. Ia buru-buru pergi ke kamar, mengambil tas, dompet serta ponsel pintarnya. Begitu juga dengan Kiel yang mengambil dompet dan ponsel pintarnya. Mereka keluar kamar secara bersamaan. Ladeina mendongakkan kepalanya, menatap wajah Kiel yang langsung memegang tangan Ladeina. "Ayo" ajak Kiel berjalan ke arah pintu depan.
"Kiel!" Panggil Dion. Yang dipanggil langsung berhenti melangkah dan membalikkan badannya "?. Ya?". Dion melempar kunci mobilnya "Pakai mobil saja". Untungnya Kiel pandai dalam menangkap barang jadi dengan santai kuncj mobil yang dilempar oleh Dion ditangkap dengan mudah.
"Ya!"
Kiel kembali melanjutkan langkahnya sembari menarik lengan Ladeina, menuntun sang gadis yang sudah membuat jantungnya berdetak lebih cepat ke mobil Dion, si kakak pertama. Kiel menekan tombol gembok terbuka. Kilatan lampu mobil terlihat dalam pandangan mereka, Ladeina dan Kiel pun melangkah ke arah mobil tersebut.
Kiel membuka pintu mobil kursi penumpang mempersilahkan Ladeina untuk masuk terlebih dahulu. Tidak lupa Kiel memakaikan seatbelt pada Ladeina di kursi penumpang. Setelah itu, baru Kiel memutari mobil, membuka pintunya dan masuk ke dalam, ia duduk di kursi pengemudi.
Setelah mengatur persneling mobil menuju ke gigi R, Kiel menginjak gas perlahan dan memundurkan mobil Dion. Setelah dirasa sudah pas, Kiel kembali mengatur persneling mobil ke D dan kembali menginjak gas secara perlahan sebelum menambahkan gasnya dan mengatur kecepatan mobil.
Kiel mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku depan celana dan menitipkannya kepada Ladeina. Gadis itu menerimanya dan memasukkan ponsel sang pria ke dalam tas. Selama di perjalanan, tidak ada yang mengeluarkan suara sama sekali. Kedua keturunan adam dan hawa ini tidak berniat untuk membuka topik sedikitpun sampai pada akhirnya mobil yang dikendarai Kiel berhenti di persimpangan lampu merah. Kiel yang tidak tahu harus kemana pun akhirnya mengeluarkan suara mahalnya.
"Eina, ini belok ke arah mana?" Tanya Kiel.
"?. Ini kita mau kemana?" Tanya balik Ladeina. Kiel menoleh, mengedipkan matanya beberapa kali. "Mau pesan gaun pengantin kamu?" Tanya Kiel, wajah sang gadis langsung cerah dan penuh semangat. "Mau!!" Jawab Ladeina dengan kepala mengangguk-angguk.
Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Kiel pun melajukan mobilnya, membelokkan ke kanan. Kiel terus menunggu instruksi dari Ladeina. "Nanti belok kiri ya kak setelah 100 meter" Kiel membalasnya dengan dehaman pelan. Tidak lama, setelah 100 meter, telapak tangan Kiel dengan lihai memutar setir mobil ke arah kiri. Ladeina mengigit bibirnya, dia begitu kagum melihat kemampuan Kiel menyetir mobil. Gadis 22 tahun ini hampir menjerit saat Kiel memutar setir mobil ke arah kiri.
"Butiknya disekitar sini kok" ucap Ladeina mengingatkan Kiel untuk memelankan laju mobil. "Ah itu dia yang ada mobil keluar dari gedung cokelat tua" Ladeina menunjukkan gedung dengan jarinya. Kiel mengangguk, lalu menggenggam setir mobil dan memutarnya ke arah kiri. Mobil masuk ke area gedung butik, Kiel pun memakirkannya di tempat yang kosong. Setelah itu mereka keluar dan berjalan bersama ke arah butik.
Karyawan menyambut mereka dengan ramah, "Selamat datang di butik Amaryllis, apakah sebelumnya sudah pernah membuat janji dengan kami?" Tanya karyawan resepsionis. "Belum" jawab Ladeina seadanya. Seorang karyawan lain datang, "Ada yang bisa dibantu, Nona dan Tuan?" Tanyanya dengan ramah. Ladeina mengeluarkan sebuah kartu kecil dari tasnya dan menunjukkan kepada pegawai tersebut.
"Maaf sebelumnya nona dan tuan, saya akan langsung mengantar anda ke lantai atas. Silakan ikuti saya" tuturnya berjalan ke arah lift. Ladeina dan Kiel hanya mengikuti pegawai yang menuntun mereka. Pegawai itu menekan tombol 5, pintu pun tertutup dan lift bergerak ke atas. Bunyi 'ting' terdengar dan pintu terbuka. Pegawai berjalan keluar diikuti Ladeina dan Kiel.
"Silakan duduk nona dan tuan"
Ladeina dan Kiel duduk di sofa berwarna toska yang memiliki kemiripan dengan gaya tuxedo, sofa berbentuk melengkung mencerminkan zaman modern. Namun, aura berkelas dan mewah masih menonjol pada sofa tersebut.
Pegawai tersebut menyiapkan teh di gelas dengan ukiran yang mewah. Tidak lama setelah itu, seorang wanita berumur 45 tahunan muncul dengan senyum ramah. "Selamat datang nona York, lama tidak berjumpa" wanita yang diketahui sebagai desainer ini mengulurkan tangannya.
Ladeina dengan senang hati bangkit dari duduknya untuk menyambut jabatan tangan tersebut, mereka juga sempat berpelukan singkat. "Ya lama tidak berjumpa nyonya Rose" Ladeina kembali duduk di samping Kiel. Wanita bernama Rose itu pun duduk di hadapan Kiel dan Ladeina.
"Saya rasa, saya tidak pernah melihat tuan muda sebelumnya, sepertinya anda bukan berasal dari sini atau saya salah?" Tebak Rose dengan senyum ramah. "Nyonya Rose, ini calon saya" ucap Ladeina. Nyonya Rose langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Calon? Jangan-jangan anda kesini karena... ya tuhan!" Seru nyonya Rose dengan wajah penuh kebahagiaan. Ladeina tersenyum malu-malu. "Ya benar, saya akan menikah beberapa bulan lagi. Pria disamping saya adalah Kiel Winston" jelas Ladeina.
Nyonya Rose langsung mengulurkan tangannya kepada Kiel "Rose Arabella, semua orang memanggil saya nyonya Rose" ucapnya sambil memperkenal diri, senyum ramah dan sopan terlukis di wajahnya yang masih cantik tersebut. Kiel menyambut jabat tangan tersebut, wajahnya masih seperti biasa, datar dan terkadang dingin. "Kiel Winston" balas Kiel sambil memperkenalkan diri juga.
"Benar. Kalau begitu anda harus tampil dengan sangat cantik, tentunya" tutur nyonya Rose, kedua tangannya menyatu dan saling menggenggam serta senyuman bahagia muncul di wajahnya. "Nona York, anda ingin gaun yang seperti apa?" Tanya Rose dengan semangat membara.
"Untuk bahan itu terserah nyonya Rose, aku mempercayakannya, Anda juga tahu saya sensitif terhadap kain apa dan lebih suka kain yang seperti apa bukan" Ladeina menjawab dengan tenang, ia menyenderkan tubuhnya ke sofa dan menyilangkan kakinya. Ia sudah mempercayakan butik ini dari dulu, sedari ia masih kecil.
Nyonya Rose terdiam lalu tersenyum hangat penuh kasih "Ya benar, saya tahu hal itu" tuturnya setuju pada balasan Ladeina.
"Eina, apa tidak apa-apa? Tidakkah sebaiknya kamu menentukan jenis kainnya. Kamu bilang kamu ingin pakai gaun impian kamu bukan?" Tanya Kiel. Kepalanya menoleh, ia menatap sang gadis dengan penuh penasaran dan berusaha memastikan Ladeina tidak akan menyesal saat gaun sudah siap.
"Ya, kulitku sedikit sensitif jadi pilihan kain untukku jadi lebih terbatas" jawab Ladeina membalas tatapan Kiel sambil mengangguk dan senyuman kecil di wajahnya.