Mistake 10; Sebab Akibat

1632 Kata
Menyesal saja tidak ada gunanya saat apa yang kau lakukan sudah berakibat fatal. Jangan lari, apa lagi terlalu banyak menyesali, tapi perbaiki. *** Pagi tadi, Athena dibuat bingung oleh Sagara yang sudah mandi di jam sepuluh siang padahal hari Sabtu ia libur sekolah. Biasanya di hari libur Sagara akan malas bangun dan baru mandi tengah hari, tapi sekarang justru sebaliknya. Saat bertanya kenapa, cowok itu menyahut ingin menghabiskan waktu dengannya. Alhasil mereka banyak mengobrol di sofa depan sampai sore dengan berbagai camilan. Dan sekarang, berada di sinilah mereka. Di tengah keramaian mall yang beberapa bulan ini tidak mereka kunjungi. Ramai sekali. Sebenarnya Athena malas dan tidak ingin kemana-mana. Namun, karena Sagara memaksa dan kelihatan bosan sekali dengan rutinitasnya, akhirnya ia jadi tidak tega. Mereka berkeliling hingga langit sudah gelap dan matahari sudah pulang ke peraduannya. Menghabiskan waktu dengan menonton bioskop dan mencari sepatu baru untuk Sagara. Katanya sepatunya sudah tidak nyaman lagi dipakai. Lagi-lagi Athena hanya mengiyakan. Namun, saat ia dan Sagara memilih restoran untuk makan malam, beberapa orang yang sudah sangat ia kenal datang menghampiri mereka. Salah satunya menepuk akrab bahu Sagara. Itu adalah kelima teman Sagara. "Woy, mau ngapain lo?" tanya Reno memulai pembicaraan. Athena menjauh saat leher Sagara ditarik oleh Idris. Membuat Sagara mendengkus karena paper bag yang ia pegang harus terlepas karena gerakan tiba-tiba itu. "Udah punya bini malah lupa sama temen sendiri," kata Idris. "Apaan sih kalian?!" seru Sagara melepaskan diri. Ia mengambi paper bag-nya di lantai dan kembali menarik tangan Athena ke dalam genggaman. "Ngapain lo padaan di sini?" tanya Sagara. "Biasa, nyari cewek baru." Shion menjawab santai. Mereka ini memang buang-buang waktu. Ramai-ramai datang ke mall hanya untuk mencari gebetan baru, padahal yang lama saja belum tentu sudah habis. "Bohong! Gak sengaja aja tadi ketemu. Gue sama Reno lagi jalan sama cewek kita terus ketemu Shion yang lagi nganter mamanya. Gak lama ternyata ada Idris sama Bara juga baru kelar nonton sama ceweknya." Jelas Fahmi. Waw, kebetulan yang sangat tidak terduga sekali. "Terus cewek lo pada ke mana? Nyokap Shion juga? Pada lo tinggal?" Mereka semua kecuali Fahmi saling pandang lalu mengendikkan bahu acuh. "Kita suruh pulang duluan," lagi-lagi Fahmi yang otaknya lebih benar sedikit menyahut. Kelakuan absurd mereka memang tidak ada duanya. Sagara hanya geleng-geleng kepala mengetahui bahwa kelimanya lebih memilih nongkrong bersama ketimbang menghabisi waktu dengan pasangan masing-masing. "Jadi kalian mau ngapain?" tanya Sagara. "Makan, abis itu capcus ke tempat biasa." Bara menyahut. Athena tahu bahwa tempat biasa yang dimaksud adalah klub malam atau arena balap liar. Karena ia pun sering pergi ke sana dulu. Menemani Sagara yang hobi kebut-kebutan dan menjadi salah satu manusia liar yang meramaikan malam. Tapi ... tidak akan ia biarkan Sagara masuk lagi ke dunia itu. "Lo mau ikut?" tanya Idris. Seolah tidak memandang Athena di sana. "Gak!" Athena menyahut datar. Ia memandang teman-teman Sagara satu persatu. Matanya menyorot tajam. Menyiratkan ketidaksukaan yang begitu kentara. Ketahuan sekali tidak menyukai kehadiran mereka. "Sagara gak bakal ke mana-mana. Dia mau makan sama gue. Abis itu kita pulang." Tapi rupanya Idris pura-pura tidak paham dengan sorot mata Athena. Sorot yang mengingatkan untuk tidak perlu memaksa Sagara. "Gak usah terlalu ngekang gitu lah, Na. Sekali-kali Sagara butuh refreshing juga." Athena melepaskan genggaman tangannya dari Sagara lalu mendekati Idris. "Refreshing gimana maksud lo? Ngabisin waktu sama cewek lain di klub terus akhirnya tidur bareng. Lo semua tuh emang racun buat Sagara." Omelnya dengan nada tinggi. Mereka mengundang perhatian. Sagara segera bertindak dengan menarik tangan Athena. Ia tidak ingin emosi Athena kembali tidak stabil. Itu semua akan mempengaruhi kandungannya. "Na, gak usah marah-marah!" pinta Sagara. Tapi Athena mengabaikan. Ia masih fokus menelanjangi semua teman Sagara dengan tatapan tajamnya. "Na, dengan sifat lo yang kayak gini, Sagara bisa aja mulai risih dan gak betah sama lo. Coba kasih kelonggaran dikit buat dia. Jangan cuma dikurung di rumah. Dia tuh masih muda." Fahmi segera menarik tangan Idris menjauh setelah Idris mengatakan hal itu. Atmosfer di sekitar mereka berubah. Shion, Reno dan Bara pelan-pelan memundurkan langkah. "Gue juga masih muda, jadi tolong gak usah bacot seolah-olah Sagara menderita idup sama gue." "Bukannya emang kayak gitu?" tanya Idris dengan nada sinis. Membuat Athena tersentak kaget dan tanpa sadar mengatupkan bibirnya rapat. Disadari oleh Sagara yang menghela nafas berat. Idris itu memang benar-benar berengsek. "Gak usah permaluin diri kalian dengan jadi tontonan di depan umum kayak gini," Sagara berucap. Tangannya terkepal di masing-masing sisi tubuhnya. Sekuat tenaga menahan diri agar tidak menerjang Idris dan menghujaninya dengan tinjuan. "Gar, sorry. Kita negur lo gak ada maksud buat bikin suasananya kayak gini." Fahmi berusaha menengahi. Tidak mendapatkan respon sama sekali. Sagara memegang kedua bahu Athena dan menariknya menjauh. "Ayo kita makan, Sayang!" ajaknya dengan nada lembut. Ia langsung memutar tubuhnya dan menarik Athena menjauh. Meninggalkan teman-temannya yang mendorong Idris karena kesal. *** "Gue gak mau makan!" ketus Athena berjalan keluar dari mall. Membuat Sagara gelisah dan terus mengimbangi langkah. "Na, jangan marah-marah. Nanti anak kita ikutan ngambek juga." Kali ini Athena berhenti melangkah. Ia memutar tubuhnya dan melotot ke arah Sagara. "Gue lagi gak mau bercanda ya, Gar!" Sagara kicep. Ia mengikuti langkah Athena yang sudah keluar dari area mall. Gadis itu mulai mendekati jalan raya. Mencari-cari taksi untuk tumpangannya. "Na, gak usah dimasukin ke hati omongan si Idris. Lo kan tau kalau dia emang kayak gitu. Jangan ngambek gini dong!" Athena mengabaikan ucapan Sagara. Matanya berulang kali melihat ke arah kiri jalan raya. Berdecak karena tak kunjung melihat taksi. "Na, jangan gini dong!" Sagara berucap sendu. Ia menarik tangan Athena agar melihat ke arahnya. "Kita makan, yuk!" ajaknya kemudian. "Dibilang gue gak mau makan!" kekeuh Athena dengan nada tinggi. Tapi Sagara tidak mau menyerah. "Atau mau gue beliin sesuatu aja? Tadi siang kan katanya elo mau makan ketoprak. Atau mau di restoran biasa aja?" Bola mata Athena membesar. Ia langsung menoleh ke arah Sagara dengan tatapan tak terbaca. "Ayo!" ajaknya kemudian. Membuat Sagara harus mengerjapkan matanya karena tidak percaya. Semudah itukah mengembalikan mood istrinya? Padahal tadi sorot matanya sudah seperti mau menelan orang saja. Dan hanya dengan diingatkan apa yang diinginkannya, wajahnya langsung berubah ceria lagi. "Di deket sini setau gue ada tukang ketoprak. Kita jalan kaki aja atau mau nunggu taksi?" Meskipun begitu, Sagara memang tidak pernah bisa mengomentari apa pun tentang Athena. "Jalan kaki aja," sahut Athena. Karena angin malam, Sagara akhirnya meminta Athena untuk memegang paper bag miliknya sementara dirinya melepaskan jaket. Setelahnya ia mengambil kembali paper bagnya dan membuka jaketnya lebar-lebar agar Athena mengulurkan tangannya ke dalam jaket. Diterima Athena dengan memasukkan tangannya ke dalam lubang tangan jaket satu persatu. Membuat tubuhnya sedikit tenggelam karena perbedaan postur tubuh. "Biar lo gak masuk angin," kata Sagara. Maklum saja, Athena hanya mengenakan kaos pendek yang dimasukkan ke dalam jeansnya. "Makasih, Gar." "Gak usah bilang makasih, gue itu bukan orang lain buat lo." Mereka berjalan beriringan menyusuri trotoar jalan. Di bawah langit malam, jemari itu saling tergenggam. Menghalau udara dingin agar tidak perlu mampir ke tubuh mereka. Beberapa menit, tidak ada yang berbicara. Bising dari kendaraan yang melintas menjadi suara yang mampir ke telinga. Rasanya, memang jarang sekali mereka saling bergenggam tangan sambil berjalan seperti malam ini. Biasanya, rutinitas di sekolah atau klub malam akan menjadi hal yang lebih menyenangkan untuk mereka lakukan. Menghabiskan waktu dengan uang dan kesenangan. Tapi... Baru kali ini Athena menyadari bahwa berjalan di samping Sagara akan menjadi hal manis yang tidak pernah ia duga. "Gar!" panggil Athena. Mereka berhenti sejenak. Athena berdiri di pinggir trotoar sambil memandangi langit malam. Tidak ada bintang atau bulan. Sepi sekali. "Kenapa, Na?" tanya Sagara. "Elo menderita, ya? Hidup sama gue." Sagara sempat terkejut mendengar hal itu. Ia kira Athena sudah tidak lagi memikirkan perkataan Idris, tapi justru sebaliknya. Gadis itu menganggap itu sebuah masalah. "Kenapa lo ngomong kayak gitu?" Genggaman keduanya terlepas. Athena lebih memilih melipat kedua tangannya di depan d**a. "Kadang gue khawatir sama masa depan lo bakal kayak gimana kalau udah punya anak di umur semuda ini. Walaupun terkesan gak perduli, gue tau lo punya cita-cita. Tapi boleh gak kalau gue jujur?" Jeda sebentar. Athena mencengkeram tubuhnya sendiri. "Gue seneng bisa jalan berdua sama lo kayak gini, rasanya manis aja gitu. Gue seneng nyiapin lo sarapan walaupun rasanya emang gak meyakinkan. Gue seneng jadi istri lo, Gar! Walaupun gue tau lo pasti ngerasa terbebani dengan hidup kayak gini." Rupanya sedalam itu perkataan Idris membekas di pikiran Athena. Sampai gadis itu lupa jika Sagara bahkan rela membuang masa depan hanya untuk tetap bersamanya. "Na!" Sagara memaksa Athena agar menghadapnya. "Rasanya bukan cuma Idris yang bisa ngomong kayak gitu, orang lain pun bisa bilang yang lebih kejam lagi. Tapi lo harus tau sebelum perkataan mereka berhasil ngusik lo. Kalau gue gak pernah bisa ngelepas mata gue dari lo. Nikah sama lo jadi satu-satunya hal gak terduga yang berhasil bikin gue mikir tentang apa yang harus gue lakuin ke depannya. Bahagiain lo ... Athena." Manusia sering kali lupa tentang bagaimana binar di mata orang tersayangnya hanya karena terlalu memikirkan perkataan orang lain. Menjadikannya beban dan tidak lagi peduli bagaimana hubungan seharusnya berjalan. Sampai akhirnya mereka sadar bahwa percaya terhadap pasangan adalah yang terbaik ketimbang mengoreksi pendapat orang lain. Seperti Athena. Beberapa kali ia terhasut oleh emosinya sendiri. Tanpa sadar mulai membuatnya tidak percaya diri dengan apa yang sudah terjadi padanya dan Sagara dan bagaimana seharusnya. Tapi untunglah suaminya memang sepengertian itu. Tidak peduli bagaimana pikiran liarnya akan menimbulkan pertengkaran, Sagara selalu bisa mendinginkan kembali kepalanya. "Gak usah mikirin yang aneh-aneh. Lo tau gue gak bisa tanpa lo dan itu bukan cuma omong kosong belaka. Jadi..." Sagara menarik tangan Athena agar kembali berjalan. "Ayo kita makan! Gue laper." Kali ini mereka sedikit berlari. Di ujung trotoar sana, sebuah gerobak dengan pria paruh baya terlihat sedang dikelilingi banyak orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN