"Gar, tadi lo ngomong ada kabar gembira. Apaan?" tanya Athena saat Sagara mendudukkannya di sofa.
Cowok itu berjalan ke arah dapur. Mengambil air dan meneguknya di sana. Setelahnya, dia berjalan ke arah kulkas. Membukanya dan mengambil apel dari sana.
"Tadi temen gue ngomong ke gue, katanya orang hamil itu gak pa-pa kalo nganu, selama janinnya sehat."
Sagara langsung duduk di samping Athena begitu sampai di sofa. Mulai menggigit apelnya lalu mengunyahnya dengan kunyahan pelan.
"Terus?" tanya Athena.
"Terus gue mau kita periksa ke dokter kandungan sekarang juga."
Wajah Athena masih sembab. Tapi melihat raut semangat di wajah Sagara ia jadi ikut senang juga. Sepertinya Sagara itu memang tidak akan tahan jika tidak berhubungan intim dengannya dalam waktu yang lama. Apa lagi jika sampai menunggu lahiran. Bisa bulukan cowok itu.
"Jadi itu alesan lo gak sabaran gedor-gedor pintu rumah?"
"Iya, udah seneng-seneng malah jadi bad mood karena lo yang marah gak jelas."
Bibir Athena mengerucut lagi. Ia beringsut mendekati Sagara dan bersandar di bahunya.
"Maaf, abisnya gue takut lo bolos."
"Iya, gue tau." Tangan kiri Sagara bergerak untuk mengusap kepala Athena dari samping. "Tapi gue juga udah janji sama diri gue sendiri buat gak ngelakuin hal itu, Na. Masa depan gue harus cerah tahun ini. Semuanya buat lo!"
Sudah Athena bilang bukan kalau Sagara itu sebenarnya memanglah sangat pengertian? Walaupun berengsek dan memiliki beberapa sifat yang cenderung buruk, Athena tahu bahwa satu kalimat mutlak yang keluar dari mulutnya tidak pernah berisi kebohongan belaka. Kalau katanya begitu, sudah pasti akan ia buktikan sampai semuanya benar-benar tercapai.
Meskipun banyak yang mengira jika Sagara hanya cowok berengsek yang tidak akan jadi apa-apa, tapi Athena tahu tekad Sagara untuk berubah demi dirinya sangatlah nyata. Cowok itu mungkin akan kesulitan dan jatuh berulang kali, tapi dari sana Athena akan menjamin jika pandangan orang lain tentang Sagara lah yang berisi omong kosong. Suaminya itu ... akan berubah menjadi orang sukses nantinya.
"Ya udah iya gue yang salah. Maaf," kata Athena mendongak untuk melihat Sagara.
"Gak usah dibahas lagi, nanti yang ada kita ribut lagi." Sagara mengulurkan apel bekas gigitannya pada Athena, diterima Athena dengan menggigit bagiannya.
"Kalau gitu lo makan dulu, udah gue masakin makanan spesial buat lo."
Mendengar itu, satu alis Sagara terangkat. "Udah bisa masak beneran?" tanyanya.
Athena merubah posisi duduknya menjadi tegak. Ia mengunyah apelnya cepat sebelum berkata, "Ya enggak lah."
Menambah bingung Sagara. "Terus lo jamin bakal enak?"
"Pasti dong! Soalnya gue pakai bumbu instan. Kalau gak enak lo salahin aja yang produksi bumbu instannya."
Mendengar itu tentu saja Sagara tidak sungkan untuk melempar gelak tawa. Dia yang masak kenapa juga harus menyalahkan yang memproduksi bumbu instan? Kalau pun masakannya tidak enak, sudah pasti bukan salah yang memproduksinya, tapi yang memasaknya.
"Tadinya gue mau makan duluan, soalnya elo biasa balik sore. Niatnya mau gue panasin aja nanti, ehh taunya lo udah balik."
Mereka bangun dan berjalan menuju meja makan. Athena menyiapkan makan siang untuk mereka. Nasi, ayam goreng tepung dan kentang balado terlihat menggiurkan di mata Sagara. Lauk itu adalah lauk pertama yang dilihat Sagara di meja makan sejak mereka menikah. Karena sebelumnya Athena hanya bisa membuat roti lapis selai dan nasi goreng.
Sebenarnya itu saja sudah bagus. Mengingat bagaimana keseharian Athena sebelum menikah dengannya. Gadis itu adalah ratu yang hanya tahu memerintah. Dan sekarang, coba lihat. Ratu-nya sudah bisa mandiri.
Saat Athena menyendokkan nasi dan lauk ke piring Sagara, Sagara merasakan dirinya begitu bersemangat untuk segera memakannya.
"Abis makan kita ke rumah sakit," kata Athena. Ia duduk di samping Sagara dan menyendok nasi untuknya sendiri.
Sagara mengangguk dan mulai menyantap makanannya. Ternyata enak. Ayamnya gurih dan empuk.
"Enak?" tanya Athena.
Sagara mengangguk lagi dan menyantap makanannya dengan lahap. Membuat Athena terkekeh senang, karena ini pertama kalinya Sagara makan selahap itu sejak beberapa hari belakangan ini.
"Pelan-pelan, Gar. Entar elo keselek."
"Iya, Sayang!" sahut Sagara di tengah kunyahannya.
Sagara tahu Athena sudah berusaha keras. Makanan yang masuk ke mulutnya itu memang enak, tapi ia tahu itu semua bukan hanya karena bumbu instannya. Tapi usaha Athena untuk membuat masakan itu terasa pas di lidahnya.
***
"Ini bukannya rumah sakit tempat kamu pernah dirawat waktu itu?" tanya Athena saat Sagara menuntunnya mulai memasuki rumah sakit itu.
Beberapa bulan lalu, Sagara memang pernah masuk ke rumah sakit. Cowok itu menabrak tiang listrik saat berkendara dini hari. Ya, tentu saja karena mabuk.
"Iya,"
"Kenapa gak ke rumah sakit yang lain aja?" tanya Athena lagi.
"Di sini aja," sahut Sagara.
Mereka melewati meja resepsionis. Athena bahkan sampai melongokan kepalanya ke belakang karena bingung kenapa Sagara nyelonong terus seperti berada di rumah sendiri. Sampai ketika mereka berhenti karena Sagara yang tiba-tiba menegur salah seorang suster.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu, Mas?" tanya suster itu.
"Dokter Ria ada di ruangannya?" Sagara balik bertanya tanpa basa basi.
"Dokter Ria spesialis kandungan?"
"Iya."
Suster itu melihat jam di pergelangan tangan lalu mengangguk pelan. "Ada, Mas. Kebetulan baru selesai operasi setengah jam lalu."
Sagara mengucapkan terima kasih dan kembali menuntun Athena untuk berjalan. Mereka pergi menuju lift. Sagara menggenggam jemari Athena begitu pintu lift terbuka. Menarik gadis itu hati-hati saat masuk.
"Gar, kok elo kenal sama dokternya?" tanya Athena masih diliputi kebingungan.
"Sebenernya gue males ke sini, tapi jujur aja gue percaya sama pelayanan di sini."
"Kalau percaya kenapa males?"
Athena mengernyitkan dahi saat Sagara membuang muka. Cowok itu mendengkus sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dokter Ria itu salah satu dokter kandungan di sini. Dia sepupu gue. Orangnya ngeselin, tapi berhubung gue gak mau repot-repot nunggu, daftar dan segala macem. Jadi ya udah, kita ke dia aja."
Pintu lift terbuka di lantai tiga. Mereka kembali berjalan santai. Athena hanya mengikuti Sagara ke mana cowok itu akan membawanya. Lagipula kalau Sagara sudah berkata demikian, ia tidak akan bisa melawan.
"Sagara, ketuk pintu dulu," kata Athena begitu Sagara membuka salah satu pintu di lantai itu begitu saja.
Dan setelah itu Athena baru tahu siapa yang berada di dalamnya. Seorang perempuan dengan setelan jas putih khas seorang dokter duduk di belakang meja. Tangannya memainkan sebuah pulpen. Memakai kacamata dan terlihat anggun sekali. Dia adalah salah satu orang yang datang ke pernikahan mereka dengan suaminya.
Seperti tidak terkejut sama sekali, perempuan itu hanya tersenyum menyambut kedatangan Sagara dan Athena. Ruangan luas itu lengang. Athena berjalan dengan langkah ragu di samping Sagara. Malu karena menerobos ruangan itu tanpa mengetuk pintu.
"Jadi tamunya pengantin baru, nih?" tanya perempuan bernama Ria itu meledek.
Dibalas dengkusan halus oleh Sagara sambil terus menarik tangan Athena mendekati meja kerja Ria. Sagara menarik kursi dan mendudukkan Athena di depan meja itu.
"Maaf, tadi Sagara gak ngetuk pintu dulu," kata Athena menatap Ria.
Perempuan itu mengulas senyum hangat lalu berkata, "Gak pa-pa, udah biasa kok ngeliat kelakuan Sagara kayak gitu." Lalu tatapannya beralih ke arah Sagara yang berdiri di samping Athena. "Ada apa?" tanyanya.
"Mau ngecek kandungan Athena," sahut Sagara.
Ria mengangguk-ngangguk paham. "Walaupun ini rumah sakit keluarga aku, kamu gak boleh sering-sering berlaku seenaknya kayak gini, Gar."
"Terserah! Buruan periksa istri gue!"
Ria hanya terkekeh menanggapi respon tidak sabar dari Sagara. Sepupunya itu sejak dulu memang pemaksa untuk hal apa pun.
"Ya udah, kalau gitu kamu minum dulu," Ria mendorong gelas berisi air putih yang berada di depannya. "Tenang aja, ini belum aku minum kok. Baru aja diisi tadi."
Tapi bukan itu yang ingin ditanyakan oleh Athena, melainkan tentang kenapa ia harus minum dulu sebelum diperiksa?
"Saya biasanya selalu nyuruh ibu hamil minum sebelum melakukan scan untuk mengisi penuh kandung kemih. Cara ini membantu mendorong uterus kamu ke depan supaya nanti bisa ngehasilin gambar yang jelas." Jelas Ria menjawab kebingungan Athena.
Baik Athena maupun Sagara hanya saling pandang karena bingung. Entah apalah itu yang dikatakan oleh Ria, mereka tidak paham.
Saat Athena meminum air yang diberikan, perempuan itu mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk pemeriksaan. Tidak sampai lima menit, Ria sudah memanggil Athena dan Sagara agar menghampirinya yang berdiri di sebelah ranjang yang biasa digunakan untuk pasien.
"Gue mau diapain, Gar?" tanya Athena.
"Mau dimutilasi," kata Sagara membuat Athena melotot. "Ya diperiksa lah, Na."
Bahkan ketika Ria meminta Athena agar berbaring, gadis itu masih enggan dan terus menggenggam jemari Sagara karena takut. Rasanya seperti akan melakukan sebuah operasi besar, padahal mereka hanya melakukan cek up biasa.
"Gak usah takut, abis ini pasti kamu bakal ketagihan dan mau terus ke sini, deh." Kata Ria berusaha menenangkan. Ia menuntun agar Athena segera berbaring. Diikuti Athena takut-takut. Setelah posisinya benar-benar sudah berbaring, Athena meminta Sagara lebih mendekat lagi agar ia bisa menggenggam jemari cowok itu.
"Gak pa-pa, karena pertama kali mungkin kamu masih takut. Tapi nanti bakal seneng kok."
Athena menoleh ke arah Sagara yang sudah berada di sampingnya, sedangkan dokter Ria berada di sisi yang lain.
"Gak pa-pa, Sayang," kata Sagara mengusap kepala Athena penuh sayang.
Mereka memulai pemeriksaan. Dokter Ria meminta agar Athena mengangkat sedikit bajunya sampai memperlihatkan perutnya. Lagi-lagi mendapatkan reaksi kebingungan dari Athena. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan dilakukan dokter itu sampai harus memintanya mengangkat bagian bajunya?
Namun, meskipun diliputi banyak pertanyaan, Athena hanya mengikuti. Sejenis jeli dioleskan perlahan oleh dokter Ria diatas perut Athena yang sudah terbuka. Kemudian sebuah alat bernama transducer digerakkan di atas perut yang sudah diolesi jeli. Rupanya proses itu yang mengirimkan gambar janin di rahim Athena ke sebuah monitor menyala yang berada tak jauh dari mereka.
"Itu anak kalian," kata Ria menimbulkan decak kagum dari Sagara dan Athena. Mereka saling pandang lalu tersenyum berdua.
"Usianya udah dua belas minggu, pada trimester ini panjangnya sekitar enam centimeter dan matanya yang muncul dari samping kepala sudah mulai berdekatan pada posisi seharusnya. Begitu juga dengan telinganya. Rambut dan kukunya juga udah mulai tumbuh. Di mulutnya, akar gigi tipis yang akan menjadi gigi bayi juga sudah mulai tumbuh. Dia juga sudah mulai menghisap jempolnya, lho!"
Athena dan Sagara semakin bersemangat. Apa lagi Sagara, cowok itu sangat senang saat melihat gumpalan sebesar buah rambutan itu di layar monitor. Gumpalan embrio itu yang nantinya akan menjadi buah hatinya.
Tidak sampai sepuluh menit, kegiatan menyenangkan itu selesai. Athena kembali duduk di kursi yang tadi ia duduki untuk kembali mendengarkan pembicaraan dokter Ria.
"Kandungan kamu sehat, anak kalian juga kuat. Padahal, di usia muda biasanya resiko kehamilan itu tinggi, tapi kandungan kamu justru luar biasa sehatnya. Mungkin karena ibunya yang pintar jaga kandungan."
Athena hanya terkekeh menanggapi ucapan dokter Ria. Baru kali ini ia begitu merasa sangat bersyukur karena sesuatu dan sangat tidak sabar untuk menantikan kehadiran sesuatu itu.
"Pola makan sehatnya dijaga dan jangan ngelakuin hal yang berat-berat. Nanti aku kasih resep vitamin buat kamu, ya?"
"Iya," sahut Athena tidak menutupi binar di matanya.
"Jaga istri kamu baik-baik, Gar!" pesan dokter Ria kepada Sagara.
"Iya, pasti gue jagain. Ngomong-ngomong gue mau nanya sesuatu, boleh?"
"Boleh. Nanya apa?" tanya dokter Ria dengan alis terangkat.
Bukannya menjawab, Sagara justru memandang ke sembarang arah dengan tangan menggaruk tengkuknya kikuk. Sagara pikir dokter Ria tidak akan mengerti dengan tingkahnya, tapi perkataan yang keluar dari mulut perempuan itu berhasil membuat dirinya membuang muka karena malu. Sedangkan Athena hanya terkekeh geli.
"Tenang aja, Gar. Kamu boleh kok ngelakuin hubungan intim sama istri kamu selama posisinya gak membahayakan anak kamu. Mau aku kasih saran untuk posisi yang bagus?"
Sagara berdecak kesal.
Ya Tuhan, perkataan sepupunya itu benar-benar vulgar sekali.
"Gak usah!" ketus Sagara dengan nada malas.
Membuat dokter Ria tergelak saat sedang menuliskan resep vitamin untuk Athena. Demi Tuhan, siapa pun akan tahu sifat Sagara hanya dengan mengetahui mengapa Sagara dan Athena bisa-bisanya menikah di masa SMA. Apa lagi Sagara itu memang kelihatan m***m sekali.
"Tapi jangan terlalu sering juga ya, Gar. Maksimal seminggu dua kali aja," kata Ria dengan tangan yang mengulurkan selembar kertas kepada Athena.
"Berisik lo!"
Ria tergelak sementara Athena hanya geleng-geleng kepala saat melihat Sagara menarik tangannya untuk segera berdiri. Mereka berjalan menjauh. Tepat ketika tangannya akan memutar handle pintu, Sagara menoleh lagi.
"Gue balik! Makasih udah ngeluangin waktu lo buat gue."
Lalu setelahnya mereka benar-benar hilang di balik pintu.