Sepuluh menit sebelum ujian dimulai, Sagara sampai di kelasnya. Suasana kelasnya sudah ramai dengan temannya yang mengenakan pakaian serupa. Kemeja licin dengan dasi abu dengan dua garis hijau di tengah melingkar di leher. Jas almamater berwarna senada melekat sebagai pelengkap. Hampir semua temannya tidak membawa tas. Hanya alat tulis berupa pensil dan penghapus yang dipakai untuk ujian terletak di meja. Sagara menghampiri mejanya. Teman satu permainannya menegur dan mengangkat tinju sebagai salam pertemuan satu persatu. Sambutan baik yang Sagara terima setelah beberapa hari tidak masuk sekolah. Matanya mulai mengabsen. Fahmi, Reno, Idris, Shion, semuanya duduk di kursinya masing-masing. Tunggu dulu, bukankah seharusnya ada lima? Fahmi, Reno, Idris, Shion, Sagara mengulang kalimatnya.

