"Luka hati bisa sembuh bukan oleh waktu, melainkan oleh kemampuan diri sendiri mengikhlaskan takdir." —Zirena Nameera Ahmad— *** Keterlaluan. Satu kata itu terus berkeliaran di benak Zirena, mengusik nuraninya selama dua hari terakhir. Setelah pikirannya kembali jernih barulah dia menyadari betapa tingkah dan perkataannya siang itu memang keterlaluan. Alih-alih mendengarkan penjelasan Adam, Zirena malah menuduh dan menyudutkannya. Meskipun dia melakukan itu bukan tanpa alasan. Zirena mendesah untuk kesekian kali. Separuh hatinya dirayapi rasa bersalah sedangkan separuh lagi tetap membenarkan sikapnya pada Adam. Apalagi lelaki itu belum pernah menghubunginya semenjak pertengkaran mereka. Tunggu dulu ... kenapa dia mesti peduli? Huh. Sambil mendengkus kesal Zirena meraih ponsel di atas

