Dua hari sejak kejadian di kantor Raefal, aku belum bertemu dengannya lagi. Seperti yang dia katakan, dia sama sekali tak menyerah. Gencar meneleponku meski tak pernah sekali pun kuangkat teleponnya. Pesan-pesan singkat penuh perhatian pun tak lupa dia kirimkan padaku, membuatku teringat pada masa-masa kami pacaran dulu. Namun, keputusanku tampaknya tak bisa diganggu gugat lagi. Aku sudah tak sanggup menjalani ikatan pernikahan dengannya. Aku tak ingin seumur hidup terus tertekan dan tak bisa tenang karena setiap saat mengkhawatirkan serta mencurigai Raefal. Intinya, kepercayaanku padanya sudah lenyap dan rasanya sulit untuk diperbaiki. Sebuah hubungan tanpa adanya tiang penyangga bernama kepercayaan, hanya akan membawa duka jika dipaksakan. Setidaknya itulah yang aku percayai. Sebenar

