43. Angga Atau Langit?

1632 Kata

"Sisil." Lelaki itu berdiri ketika aku sudah berada di hadapannya. "Angga?" Aku mengernyitkan kening. "Apa kabar?" tanyanya diakhiri seulas senyum. Aku membuang wajah dari tatapannya. Apa maksudnya dia datang menemuiku? "Ini minumnya, Nak Angga." Bunda datang menyimpan segelas teh. "Terima kasih, Bunda." Angga menjawab disertai anggukkan kepala. "Sama-sama. Ayo, duduk lagi. Sil, duduk dulu, dong." Aku terhenyak. "Iya, Bun." Kemudian menghempaskan tubuh di atas sofa. "Jadi ambil fakultas apa sekarang kuliahnya?" tanya Bunda yang juga ikut duduk di sampingku. "Kedokteran, Bun. Ya, dari dulu 'kan Angga sudah bercita-cita menjadi dokter." Aku mengerjapkan mata. Masih belum percaya dengan sosok di depanku saat ini. "Ya, sudah. Ngobrol-ngobrol aja dulu. Bunda masih ada pekerjaan di be

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN