"Sil." "Apa, Bun?" "Ada titipan, nih!" Sebenarnya merasa terganggu, tapi jika tidak segera ditemui aku takut tanduk di kepala Bunda akan muncul. Akhirnya aku menyimpan buku, beranjak dari kursi lalu berjalan menuju pintu. "Titipan apa?" tanyaku setelah kami saling berhadapan. Bunda menyodorkan sebuah benda. Kotak persegi berwarna coklat dengan nama khas makanan cepat saji. "Pizza? Dari siapa, Bun?" Aku meraih dan membukanya segera karena merasa tergoda. Harum jagung bercampur keju menguar seketika. "Langit," jawab Bunda. "Hah? Kak Langit? Seriusan? Terus di mana sekarang--" "Bukan Langit yang antar. Cowok seumuran dia." "Ah, mungkin Kak Braga atau Kak Jimmy," timpalku sambil menghirup aroma pizza. "Temennya?" Aku mengangguk. "Tapi kok, motor mereka hampir sama. Aneh, tiap lihat

