"Tunangan?" tanya Ayah terkejut. "Iya. Tadi orang tua Angga ke sini. Mereka bilang, sebelum Angga berangkat lagi ke Yogyakarta, mereka mau Angga sama Sisil tunangan," jawab Bunda. "Trus Bunda bilang apa?" "Ya, Bunda setuju aja. Toh, cuma tunangan, 'kan. Bukan menikah." "Cuma Bunda bilang? Bun, tunangan itu ikatan yang cukup sakral. Dengan menyetujui Sisil tunangan sama Angga, itu artinya sebagian kebebasan dia udah harus dibatasi. Lagian umur Sisil tuh baru sembilan belas tahun. Kuliahnya aja masih lama. Kenapa harus tunangan?" Bunda tidak menjawab, masih sibuk membereskan toples dan kue sisa menjamu tadi. "Bun, kenapa?" tanya Ayah yang tampaknya sudah kesal. Bunda masih diam. "Bunda enggak mau Sisil punya hubungan sama Langit. Iya, 'kan?!" Kini nada suara Ayah naik lebih tinggi.

