46. Masa Depan

1423 Kata

Terdengar deru mesin mobil di depan rumah. Aku, Ayah dan Bunda yang sedang menikmati waktu sarapan jelas terheran. Terlebih setelah beberapa detik kemudian ada seseorang yang mengucap salam. "Siapa, ya, Yah?" tanya Bunda. "Biar Ayah lihat," putus Ayah, yang kemudian berdiri dan keluar dari meja makan. Aku mengiringi langkah Ayah dengan tatap mata, hingga menghilang di balik pintu. Apa ... jangan-jangan Angga? Semalam, aku menjawab telepon dari Langit, tapi tidak menjawab telepon darinya. Aku juga tidak membalas satu pun pesan darinya. Aku benar-benar sedang tidak ingin berhubungan dengannya meski hanya lewat media daring sekali pun. "Ayo, ikut sarapan." Terdengar suara Ayah kembali. Aku menatap ke arah itu lagi. "Iya, makasih, Om," sahut seseorang yang datang bersamanya. Benar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN