"Tumben anak Ayah libur gini udah cantik. Mau ke mana?" tanya Ayah yang beberapa detik lalu masih fokus dengan laptopnya kini menyempatkan untuk menatapku. "Mau jalan-jalan," sahutku sambil duduk. "Dari roman-romannya, pasti jalannya sama Langit. Iya, 'kan?" "Ayah tau aja," ucapku malu. "Kenapa jalan sama Langit, Angga 'kan masih di sini?" celetuk Bunda seraya menyimpan piring berisi tumis tauge dan tahu. "Kalau jalan sama Angga pake mobil, enggak pake motor," sambungnya sambil duduk. "Sejak kapan Bunda lihat orang dari status sosialnya?" tanya Ayah. "Status sosial apa? Sejak dulu Bunda emang enggak suka kok, Sisil deket-deket sama cowok yang namanya Langit," dalih Bunda. "Apa karena namanya Langit?" tukas Ayah. Bunda tak berkata. Membisu dengan tangan bergerak menuangkan nasi dan

