Langit masih menatapku dengan sorot menunggu. Astaga, drama macam apa ini? Di saat aku bertekad menjauhinya, dia malah datang menghampiriku. Jika begini caranya bagaimana aku bisa move on dari peliknya kasus dua Langit?! "Itu ... Kak, lagi males aja," sahutku. "Oh, gitu." Langit menganggukkan kepala. "Aku permisi, Kak," pamitku segera. "Sil, tunggu." Aku berhenti melangkah. "Ada apa, Kak?" tanyaku setelah berbalik. Langit maju dua langkah, mendekatiku lagi. Oh Em Ji! "Kemarin, kamu ngobrol apa sama Arfan?" "Kemarin? Oh, itu. Dia cuma minta maaf soal insiden di malam Minggu itu. Mungkin, dia nyesel karena enggak bisa ngalahin dua preman itu," terangku asal. Aku memalingkan wajah. Wait? Barusan dia bilang ... kamu? Terdengar decakkan Langit beberapa kali. Aku yang masih terher

