"Ini, sama ini. Ini juga bagus." Kupilih beberapa baju dari lemari, menyimpannya di atas kasur. "Lagi apa?" Langit datang membawa segelas kopi. "Lagi packing baju," sahutku dengan nada ceria. "Mau ke mana emang?" Dia duduk di atas kasur, lalu bersandar pada headboard ranjang seraya menatap ponsel dalam genggamannya. "Lho, bukannya besok pagi kamu berangkat ke Jakarta?" Aku menatapnya sekilas, kemudian berjalan kembali ke arah lemari untuk memilih baju yang lain. "Aku 'kan sekarang udah jadi istri kamu. Jadi aku harus ikut dong, ke mana pun kamu pergi." Hening. Tak terdengar suara Langit. Akhirnya aku menoleh ke arahnya, dia sedang memegang cangkir dengan tatapan terpaku, dengan satu tangan lain masih menggenggam ponsel. "Kenapa?" tanyaku. Langit menoleh ke arahku, lalu menggeleng k

