"Putri Pricillia, maukah kamu menikah denganku?" "Tentu saja aku mau, Pangeran Langit." Putri dan Pangeran pun akhirnya menikah, lalu hidup bahagia selamanya. Selesai. Aku tersenyum melihatnya. Hingga sebuah tepukan berhasil membuyarkan mimpi indah. "Teh, udah sore. Katanya mau mandi." Aku memicingkan mata. "Umar?" Lalu bangkit perlahan. "Ini di mana?" "Teteh amnesia, ya?" tanya Umar heran. "Biasanya pertanyaan kayak gitu diucapin sama orang yang kecelakaan pas bangun di rumah sakit," tukas anak berusia dua belas tahun itu. "Ih, apaan. Ya, udah. Bentar lagi mandi," tandasku. "Oke," timpal anak lelaki itu, lalu berbalik dan keluar dari kamar. Aku meraba pipi, menepuk-nepuk, lalu mencubit. Aku mimpi? Lalu ... apa pertemuanku sama Langit tadi juga mimpi? Aku coba ingat kembali. "

