"Enggak bisa diundur pulangnya?" Aku berdiri di sampingnya yang sedang memeriksa isi tas dalam mobil. "Enggak bisa, Putri Priscillia. Aku izin sama Mama Papa 'kan cuma dua hari," sahutnya tanpa menoleh ke arahku. Aku mendengkus. "Kamu beneran udah jadi anak baik, yang enggak bisa membangkang lagi?" tukasku kesal. Kali ini Langit menghentikan aktifitasnya, lalu memutar tubuh menghadapku. "Enggak bisa," ucapnya dengan nada lemah. "Lagian 'kan kita udah tukeran nomor ponsel. Kalau kangen, bisa telepon. Iya, 'kan?" "Iya, itu bisa nanti. Masalahnya sekarang, kita bahkan belum genap dua puluh empat lalu ketemu. Baru ...." Aku menatap jam tangan di lengan. "Dua puluh tiga jam, dua puluh menit, lima eh ... enam detik. Tambah lagi jadi tujuh detik. Sekarang jadi--" "Sil." Tiba-tiba Langit mera

