Tiga bulan berlalu sejak hari itu. Setiap pagi, setiap malam. Aku dan Langit saling bertukar sapa. Menceritakan beberapa hal kecil dan biasa, yang setelahnya terasa luar biasa bagiku karena dia sudah mau mendengarkan keseharianku. Aku pun banyak bertanya hal padanya. Tentang menu sarapannya, makan siang dengan siapa, makan malam di mana, kegiatan apa saja hari ini. Semua hal yang terlintas di benakku. Hanya satu yang tidak mungkin aku tanyakan. Apa arti hubungan kami yang sekarang? Usiaku sudah menginjak dua puluh lima tahun, dan Langit dua puluh tujuh tahun. Bukankah, sudah waktunya untuk kami menentukan masa depan? Masa depan yang pernah dia rangkai dan cita-citakan. Masa depan yang beberapa tahun silam pernah dia ceritakan padaku. Masa depan yang membuatnya begitu antusias untuk

