[POV Langit Biantara] *** "Kak Langit!" "Biyanka?" Aku menoleh kaget. "Sebelum masuk kamar ketuk pintu dulu. Ingat peraturannya?" "Udah Bi ketuk, tapi enggak ada jawaban. Bi pikir Kakak tidur, ternyata lagi lihatin hape sambil senyum-senyum," ketus anak itu. "Ya udah, maaf," ucapku demi meredam kekesalannya. "Cepetan turun. Papa udah nunggu buat makan malam," tandasnya, berlalu dengan kedua tangan masih terlipat di daada. Aku tersenyum melihat kelakuannya. Akhirnya setelah sosok gadis lima belas tahun itu keluar, aku menatap layar ponsel kembali. Tampak seorang perempuan sedang tersenyum sambil memperlihatkan sekotak kue cubit. Sisil, bersabarlah dulu. Aku sedang berusaha menjadi yang terbaik di mata orang tua kita. "Kak Langit akhir-akhir ini aneh, Ma, Pa. Bi sering banget perg

