Langit menggerakkan kepalanya, hingga tanpa sengaja kami bersitatap selama tiga detik. Segera aku berpaling kembali. Entah kenapa, malu rasanya melihat sorot mata itu. Setelah beberapa waktu kami tidak bertegur sapa, atau mungkin karena memang aku yang sengaja menghindar. Ah, Sisil. Sayang sekali kamu membenci laki-laki yang sudah dua kali menolongmu. "Kak Langit!" Terdengar panggilan dari arah belakang. "Ada apa?" tanya Langit datar. "Kaki Gita terkilir, Kak. Dia enggak bisa jalan," ujar mahasiswi yang memang setahuku adalah teman dekat Gita. Sontak semua orang berhenti melangkah, termasuk aku dan Amel. Kami melihat ke arah Langit dan perempuan itu berjalan. Ternyata Gita berada tak jauh di belakangku. Dengan jelas bisa kulihat dia yang sedang duduk sambil meringis. "Aku enggak bisa

