16. Liburan

1506 Kata

Sejak saat itu, aku mulai menjaga sikap di depan Langit. Setiap berpapasan dengannya, aku pura-pura tidak tahu. Ketika kebetulan berada di kantin di waktu yang sama, aku pura-pura tidak sadar. Entah kenapa, lama-lama aku merasa muak sendiri. Seperti dipermainkan terus menerus oleh sikapnya. Belum lagi prasangka tentang sosok Langit Kelam. Mungkin aku harus mulai tidak peduli lagi tentang hal itu. Aku harus bisa meyakinkan diri jika sampai kapan pun Langit Kelam dan Langit Biantara adalah orang yang berbeda. Lalu tentang Arfan. Seakan menjadi timbal balik sikapku pada Langit. Seminggu setelah insiden di malam Minggu itu, Arfan seperti enggan memperlihatkan wajahnya di depanku. Entah malu atau takut karena aku tahu perihal kebohongannya tentang wajah yang babak belur akibat berkelahi dengan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN