13. Pertengkaran Di Kantin

1576 Kata

"Sil," panggil Amel lagi. Aku mengerjapkan mata, lalu menggelengkan kepala. "Kenapa sih, bibir lo tuh enggak bisa diem?" Kali ini Amel berbisik gemas. "Heh, Putri Alam Baka!" Deg. Langit memanggilku. Aduh, gimana ini? "Lo belain si Arfan?" Aku memutar kepala. Langit sudah berdiri di depanku. "Eng ... gak, kok," ucapku pelan. "Trus kenapa lo larang gue pukul dia?" tanya Langit. "Ya, lagian itu 'kan emang enggak boleh. Kalian enggak boleh bertengkar di sini," jawabku meski sedikit gugup. Langit masih menatapku tajam. "Jangan ... karena Kak Langit keponakan Pak Raharja, terus ... bisa seenaknya--" "Kenapa harus bawa-bawa Om Raharja?" sela Langit. "Ya, emang karena alasan itu, 'kan. Karena kamu keponakan Pak Raharja makanya kamu bisa bersikap seenaknya di kampus ini?" tukasku. "

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN