14. Dihadang Preman!

1956 Kata

"Amel!" Kulambaikan tangan ketika dia menoleh. Sayangnya, Amel malah membuang muka. Yah, pasti masih marah. Gimana ini? Aku tak mau persahabatan yang terjalin sejak kelas satu SMA harus musnah hanya karena kehadiran cowok macam Arfan. Cih, lagian aku beneran enggak suka sama si Mr. Presiden itu. Kenapa Amel enggak bisa percaya, sih? . Jam kuliah selesai. Pak Basuki keluar dari kelas diiringi oleh para mahasiswa. Begitu pun Amel. Dia berdiri setelah membereskan buku dan balpoin ke dalam tas. Segera aku kejar dia yang hampir keluar dari kelas. "Mel, jangan gitu, dong! Masa lo enggak percaya, sih, sama gue? Gue beneran enggak ada rasa sama dia. Sumpah!" Kuacungkan dua jari ke atas. Beruntung hanya tinggal kami berdua di kelas. Amel masih menampakkan raut wajah judesnya. "Mel, jangan ma

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN