"Bye, Ayah. Bye, Bunda." Aku mencium pipi kedua orang tuaku bergantian. Sayangnya, Ayah dan Bunda tidak menanggapi sikap romantisku. Wajah mereka terlihat datar saja. "Kabari kalau sudah sampai rumah," pesan Ayah dengan wajah tanpa ekspresi sedikit pun. "Siap, Ayah Fardan Tersayang," sahutku. "Ingat, jangan bikin malu Bunda," timpal perempuan yang sedari tadi terlihat cemberut terus itu. "Siap, Bunda Inayah Tercinta," sahutku lagi. "Dadah. Sisil ke Jakarta dulu, ya!" Kulambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobil. Langit yang sudah berpamitan lebih dulu, sudah duduk dengan posisinya sebagai pengemudi. "Langit sama Sisil berangkat dulu, Yah, Bun. Assalamualaikum," pamitnya, lalu menekan klakson satu kali setelah mendapat sahutan salam. Mobil pun melaju menuju Jakarta. Yuhu! "Kesannya ka

