Sudah jam sepuluh malam, tapi kedua mata ini enggan terpejam. Entah berapa puluh kali aku berguling, memutar tubuh ke kanan dan ke kiri. Akan tetapi, belum menemukan posisi nyaman yang bisa membuatku terlelap. Kuusap wajah. Pasti ini gara-gara Langit! Aku pun menarik tubuh, menyandarkan punggung pada headboard ranjang. Memukul kepala dengan kedua tangan. Hari Minggu masih lama, Sisil! Sudah kuduga. Setiap habis bertemu dengan Langit pasti otakku ini bergeser ke mode abnormal! *** "Ayah! Ayah! Sisil ikut!" Aku berteriak sambil berlari ke arah teras. "Kenapa enggak bilang waktu sarapan tadi, Sil? Ayah barusan dapat telepon dari staf marketing, makanya berangkat awal," ujar Bunda yang masih berdiri di samping pintu pagar setelah melepas keberangkatan Ayah. "Kok, Bunda malah nyalahin Si

