29. Hukuman (2)

1588 Kata

"Sisilia!" "Hai, Amelodi!" "Annyeong!" "Annyeong!" Hampir kami melangkah, berhenti ketika mendengar suara motor tak asing. Aku pun berbalik. Braga dan Jimmy berhenti di tempat parkirnya, lalu Langit turun dari motor Braga. "Pagi, Sisil. Pagi, Amel," sapa Braga yang baru melepas helmnya. "Pagi, Kakak-kakak semua," sahut Amel. "Pagi, Kak Braga, Kak Jimmy," sahutku. Lalu tersenyum saat menyadari Langit melangkah ke arahku. "Pagi, Kak Langit." "Pagi, Sisil." Langit membalas senyum. "Tumben enggak bawa motor?" tanyaku. Langit tersenyum lagi. Hanya saja senyumnya tak selebar tadi. "Aku ke kelas dulu. Sampai ketemu di kantin, ya?" Dia mengusap puncak kepalaku, lalu berlalu begitu saja. "Kita ke kelas dulu, ya, Putri Alam Baka," ucap Braga yang juga ikut berjalan di belakang Langit. "

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN