Pangeran Cinta
Pria tampan itu bernama Darius atau kerap dipanggil dengan Deri. "Deri, kamu mau pergi?" Tanya seorang wanita cantik yang masih terbaring di tempat tidur. Darius sedang memakai kemejanya. "Iya, aku ada meeting hari ini." Jawabnya kemudian. Wanita itu nampak merengut. Darius berusaha tersenyum. Dia merapikan rambutnya lalu menghampiri wanita itu. "Maaf, aku gak bisa nemenin kamu belanja hari ini. Nanti aku transfer aja ya." Dia mengelus pundak wanita itu lalu mengecup keningnya. "Yaudah deh. Take care sayang." Kini wanita itu tersenyum kembali dan memeluk Darius. "Ya. Bye." Darius lalu pergi dari apartment tersebut.
Darius masuk ke dalam mobil, kembali memeriksa penampilan wajahnya dari kaca depan mobil. "Gak mandi juga masih tampan." Dia memuji dirinya sendiri yang memang tampan dan bertubuh proporsional bak seorang model.
Darius mengemudikan mobilnya menuju ke kantor tempat dia bekerja. Sebuah perusahaan property ternama di Bali. "Pagi Pak." Sapa karyawan di sana. "Pagi." Balas Darius. "Deri! Darimana aja sih kamu? Meeting hampir dimulai." Tomi, sahabat Darius menghampirinya. "Sorry... Semalam aku ke tempat Libra." Ucap Darius. "Libra yang model terkenal itu? Kamu udah jadian sama dia?" Mata Tomi melotot saat mendengarnya. Darius mengangguk sambil terus berjalan dengan bangga dan percaya diri. "Parah lu Dar. Kamu kan belum resmi putus sama Bu Mini. Kalau dia tau gimana?" Tomi berhenti di hadapan Darius untuk menghentikan langkah sahabatnya itu.
Saat mereka sedang mengobrol, seorang wanita muncul. "Sekarang kami sudah putus." Wanita dewasa itu tak lain adalah Bu Mini. "Aku resign." Bu Mini menyerahkan surat pengunduran dirinya pada Darius. "Kenapa harus resign sih?" Protes Darius. "Karena aku gak mau ngelihat muka kamu lagi. Itu terlalu menjijikkan!" Suara Bu Mini yang lantang terdengar hingga ke dalam ruangan rapat. Bu Mini lalu pergi meninggalkan kantor tersebut. Darius sama sekali tak mencegahnya. "Bu Mini itu HRD kita loh, kerjanya juga bagus. Kasihan." Tomi merasa iba. "Gampang, cari yang baru." Darius lalu masuk ke dalam ruang rapat.
Beberapa orang sudah menunggunya di sana. "Ada apa Darius?" Tanya Direktur Utama perusahaan yang tak lain adalah Ayah Darius. "Bu Mini resign Pa." Jawab Darius. "Kok bisa?!" Ayahnya sampai terkejut mendengar hal itu. "Sebaiknya kita bahas nanti. Kita harus meeting sekarang." Darius mencoba menenangkan sang Ayah.
Selain pandai memikat hati kaum hawa, Darius juga pandai memikat hati kliennya. "Kami sepakat berinvestasi di perusahaan ini." Begitulah keputusan akhir dari klien setelah Darius melakukan presentasi. "Selamat datang Pak." Darius nampak senang, dia mengulurkan tangan sebagai tanda kerjasama.
Setelah selesai rapat. Darius kembali ke ruang kerjanya sebagai Wakil Direktur bersama dengan Tomi. "Tomi, aku butuh HRD baru secepatnya." Perintah Darius. "Nah, bener kan, gua yang repot." Tomi menggerutu. "Kenapa Tom?" Tanya Darius. "No comment, aman kok." Tomi mengangguk sambil tersenyum.
Keesokan harinya, seorang wanita muda berkaca mata tebal memasuki ruang kerja Darius. "Se, selamat pagi Pak." Sapanya dengan terbata-bata. "Suri, ngapain kamu di sini?" Tanya Darius. "Sa, saya disuruh Pak Tomi kesini." Jawab Suri. "Dia HRD yang baru. Please jangan protes, karena aku kehabisan stock." Kemudian Tomi datang. "Terserah. Tapi kalau kinerjanya buruk, pecat." Tegas Darius. "Ja, jangan dong Pak. Saya mending, ja, jadi staff biasa aja." Suri ketakutan. "Udah, tenang aja, aman kok." Tomi meyakinkan Suri.
Meskipun penampilannya buruk, bicaranya juga gagap, namun kinerja Suri cukup baik. Darius merasa senang. "Suri, ke ruangan saya sekarang ya." Perintah Darius lewat panggilan telepon dari ruangannya. "Ba, baik Pak." Jawab Suri. "Aduh... Kenapa aku dipanggil ya, apa aku buat salah?" Suri menjadi khawatir.