"Woi!" Alvero menoleh ketika seseorang memanggilnya, ia baru saja rapat di sebuah restaurant dan sekarang kembali menuju kantor. "Alvero kan? Weis, sudah besar ya." "Kok lo diem aja?" Alvero hanya mengangkat alisnya bingung. "Gue Marshall yaelah, lupa lo!" "Apa kabar?" Ucap Alvero. "Anjir, jangan dingin-dingin pak. Nanti beku, baik gue. Gimana lo? Kerja dimana sekarang?" "Gue baik, di perusahaan sekitar sini." Hening, Marshall sendiri bingung ingin berbicara apa karna mendengar kalimat yang Alvero keluarkan begitu singkat membuatnya lebih dulu pamit. Marshall pikir Alvero akan berubah dan tidak dingin seperti dulu, tapi ternyata ia salah. Alvero lebih dingin dan tidak tersentuh terlihat dari rahangnya yang selalu mengeras dan postur tubuhnya yang semakin mengintimidasi. "Yaudah,

