Resya yang sedang berada di restaurant bersama dengan Revino hanya melihat makanannya tanpa ada niat untuk menyentuhnya.
Revino yang melihat hal itu mengernyit, sebelumnya Resya terlihat ceria kenapa sekarang menjadi murung.
"Kok ngga dimakan ?" Tanya Revino yang sedang memotong steak.
Resya menatap abangnya,
"Abang,"
"Hm,"
"Resya mau cerita,"
"Hm,"
Resya terdiam, hanya memperhatikan abangnya yang sedang makan. Karena merasa diperhatikan, Revino melihat kearah Resya.
"Mau cerita apa?" Revino menaruh pisaunya di atas piring.
"Emh," Resya menggigit bibir bawahnya, gugup.
"Tapi abang ngga boleh marah dulu," Ucap Resya.
Revino mengerutkan dahinya, namun tetap menganggukan kepalanya.
Resya memainkan jarinya dibawah meja,
"Kalau Alvero tiba-tiba dateng ke abang terus bilang kalau dia mau deketin Resya lagi,"
Revino sudah mengepalkan tangannya ketika Resya menyebut nama Alvero.
"Abang ngebolehin?"
Revino hendak menjawab tapi Resya melanjutkan ucapannya membuatnya menutup mulutnya lagi.
"Resya tahu pasti abang ngga akan bolehin, tapi kalau dia bilang dia siap mati buat Resya, apa abang bakal ngizinin?"
Revino tertawa hambar,
"Dan lo percaya?" Ucapnya datar dan dingin.
Tangan Resya sudah berkeringat mendengar suara Revino.
"Lo percaya sama kata-kata si b******k itu?" Ucapnya lagi.
Resya bingung, di satu sisi dia tidak percaya karena tidak mungkin Alvero akan melakukan itu hanya untuknya. Alvero sudah meninggalkannya lalu mengapa dia ingin kembali.
Tapi di satu sisi, Resya sedikit percaya ketika melihat mata Alvero yang memerah. Ada kesedihan, penyesalan, dan ketulusan disana. Dan disetiap penekanan katanya menandakan bahwa Alvero serius dengan kata-katanya.
Resya terlonjak kaget ketika mendengar suara tawa Revino yang terdengar menakutkan.
"Ngga cukup ya lo diibegoin sama dia dan lo percaya kata-katanya?"
"Resya... Resya," Revino menggelengkan kepalanya.
"Ternyata selama ini gue sia-sia,"
"Sia-sia gue nguatin lo buat ngehadepin dia, padahal lo belum ketemu seminggu tapi lo udah percaya kata-katanya,"
"Gue tau lo percaya Resya, gue tau lo masih cinta sama dia,"
"Sakit yang dia buat ke lo selama 3 tahun itu hilang gitu aja?"
Revino terus berbicara dengan Resya yang mulai menitikkan air mata.
"Jawab gue," Ucap Revino penuh penekanan.
"Abang," Ucap Resya pelan dengan air mata yang terus mengalir.
Revino menghela nafas, memundurkan bangkunya lalu pergi untuk membayar makanan. Resya hanya diam melihat Revino yang meninggalkannya. Resya menghapus air matanya lalu mengikuti Revino yang sudah terlebih dahulu berada di mobil.
Selama di perjalanan tidak ada yang membuka suara, hanya terdengar suara isakan Resya. Resya masih menangis, dia tidak suka Revino menjadi seperti itu. Tapi, dia juga merasa bersalah karna begitu mudahnya percaya dengan kata-kata Alvero.
Revino sudah melakukan semuanya untuk Resya, ketika Alvero meninggalkannya Revino tidak pernah sehari pun pergi dari hadapan Resya. Walaupun Resya sudah berteriak-teriak bahwa dia ingin sendiri, Revino tetap diam ditempat tidak ada tanda-tanda dia akan mengikuti permintaan Resya.
Resya tidak menyadari bahwa mereka telah sampai di rumah setelah suara Revino menutup pintu mobil meninggalkan Resya sendiri. Resya segera menghapus air matanya lalu turun dari mobil mengikuti Revino masuk ke rumah.
Resya sedikit berlari untuk mengikuti abangnya, karna langkah Revino yang besar membuatnya sedikit kewalahan.
Grep
Resya memeluk Revino dari belakang membuat Revino sedikit terdorong ke depan.
"Abang maaf," Ucap Resya yang sekarang menangis lagi.
"Maafin gue, gue ngecewain lo. Maaf," Resya terus meminta maaf kepada Revino.
Revino menghela nafas, sebenarnya dia juga tidak suka mendiamkan Resya seperti ini. Tapi, Resya harus diberi sedikit pelajaran. Resya tidak boleh dibutakan oleh cinta, apalagi setelah Alvero kembali.
Revino tahu pasti, Alvero akan kembali untuk adiknya. Tapi tidak akan semudah itu, Revino sudah bersusah payah membuat adiknya jadi kuat seperti ini. Tapi, hanya karna kedatangan Alvero membuat semua kerja kerasnya lenyap seketika.
Resya terus menangis dan memeluk Revino semakin erat dari belakang. Revino berusaha melepaskan pelukan Resya tapi lumayan sulit. Setelah dapat melepaskan pelukannya, Revino berbalik ke arah adiknya.
Revino memegang kedua bahu Resya yang sedang menunduk.
"Lo ngga boleh semudah itu luluh sama perkataan cowok Sya. Apalagi Alvero, lo bahkan tahu apa yang dia lakuin ke lo,"
Resya hanya menganggukan kepalanya.
"Ta-tapi lo juga cowo bang,"
Revino terbungkam, benar juga. Dia juga lelaki, Revino hanya menggaruk tengkuknya.
"Ya-ya itu beda lagi, gue abang lo dan kita punya hubungan darah jadi lo harus percaya sama gue,"
Resya hanya tertawa, abangnya memang paling bisa membuatnya bahagia kembali. Tawa Resya berhenti seketika ketika mendengar suara perutnya, tadi mereka langsung pulang begitu saja dan Resya bahkan belum menyentuh makanannya.
"Ck, segala galau sih lo. Jadi ngga makan kan tadi, percuma uang gue," Kesal Revino.
Resya memukul bahu Revino cukup keras.
"Pergi lo, ngga usah ganggu gue!"
Resya segera pergi ke dapur mencari makanan dan Revino hanya tergelak melihatnya.
°•°
Keesokannya Resya sedang bersiap untuk berangkat ke kampus, dan kebiasaannya yang terlambat membuatnya terburu-buru sekarang.
"Ck, padahal udah tadi malem ngga tidur malem-malem banget. Kenapa tetep telat bangun sih!" Maki Resya pada dirinya sendiri.
"Tas gue anjir dimana!"
Resya sudah berada diluar kamarnya tetapi dia melupakan tasnya didalam kamar.
"Resya pelan-pelan turunnya, lo jatuh sukurin gua mah," Ucap Revino yang sedang memakan rotinya.
"Cerewet banget sih lo bang kaya cewe,"
"Eh gini-gini gue perhatian sama lo ya,"
Resya hanya mendelik lalu melahap roti yang berada di piring Revino.
"Eh roti gue kampret!"
"Yaelah, tinggal bikin lagi aja susah amat,"
"Ya harusnya lo yang bikin sendiri nyet!"
Perdebatan Revino dan Resya tidak luput dari orang tua mereka yang hanya menggelengkan kepala melihatnya.
"Gue udah mau telat. Tuh kan gara-gara ladenin si kingkong jadi makin telat kan!"
Resya segera mencium ayah dan ibunya lalu mengambil kunci mobil dan melesat pergi meninggalkan Revino yang hanya melongo melihatnya.
"Makanan gue!"
°•°
Resya sampai dikampus langsung berlari kearah kelas pertamanya, dia berhenti sebentar didepan pintu lalu menetralkan deru nafasnya.
Srek
Semua yang berada diruangan tersebut melihat kearah Resya, termasuk Alvero yang memang sedari tadi sudah menunggu Resya.
"Maaf pak saya telat. Tadi ada kecelakaan sedikit dirumah,"
Dosen itu hanya menggelengkan kepalanya, Resya sudah sering seperti ini jadi tidak aneh bagi para pengajar disini. Padahal waktunya sudah akan habis 20 menit lagi.
Resya segera duduk didepan Alvero, karna hanya bangku itu yang tersisa. Resya tahu sedari tadi Alvero memperhatikannya tapi Resya berusaha biasa saja walaupun jantungnya sudah berdegup dengan kencang.
Kelas pertama sudah selesai dan semua mahasiswa sudah keluar dari kelas tersebut, Resya merapikan bukunya lalu segera beranjak dari duduknya tapi pergelangan tangannya seperti ada yang memegang.
"Lan,"