Resya yang mendengar ucapan Alvero hanya tersenyum mengejek,
"Mau lo mati di tangan abang ataupun ngga bukan urusan gue. Dan satu lagi, gue ngga akan pernah balik sama lo. Entah jadi sahabat ataupun lebih, karna yang lo lakuin ke gue dulu udah bikin gue nyadar kalau cinta yang gue kasih ke lo itu sia-sia,"
Alvero masih tetap menatap tajam Resya, perkataan Resya membuat hatinya sangat sakit. Resya menolak Alvero sama seperti 3 tahun lalu ketika Alvero menolak Resya.
"Jadi, setelah ini gue mohon kita ngga saling kenal,"
Resya meronta agar dilepaskan tetapi Alvero tetap menahannya dan menatapnya tajam. Bukan seperti ini yang Alvero inginkan, tapi dia tahu bahwa semua kesalahannya akan sangat susah dilupakan.
Bahkan perempuan yang sangat dia cintai membenci Alvero, tapi Alvero tidak akan menyerah begitu saja. Tujuan dia kembali lagi ke Indonesia selain karna ibunya yang ingin dia kembali juga karna Alvero ingin menebus semua kesalahannya. Walaupun membutuhkan perjuangan yang panjang tapi dia tidak peduli, itu semua demi mendapatkan gadis yang ia cintai kembali.
•°•
Aleandro yang sudah keluar dari kelas berjalan kearah kantin. Aleandro melihat Vira yang sedang meminum minumannya lalu mendatangi meja Vira dan duduk didepannya. Vira sudah tahu siapa yang datang jadi dia tidak perlu susah-susah untuk melihat kearah orang tersebut.
"Bukannya lo ada kelas bareng Resya?" Tanya Vira tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Iya, tapi tadi dia kena hukuman,"
Vira mendongakkan kepalanya,
"Hukuman apa?"
"Disuruh nganterin anak baru buat keliling kampus,"
Vira mengernyit,
"Siapa?"
"Alvero,"
Vira langsung membulatkan matanya,
"Anjir, terus lo biarin gitu aja ? Bego ya lo,"
Ale yang mendengar kekesalan Vira kelihatan bingung dan kesal karna dikata-katai.
"Maksud lo apaan bego?" Ucap Ale kesal.
Vira lupa bahwa Ale belum tahu apa-apa tentang masa lalu Resya, hanya Vira yang diceritakan oleh Revino.
Vira langsung pergi meninggalkan Ale yang terlihat bingung, Ale hanya mengedikkan bahunya lalu mencari makanan yang ada dikantin.
Vira berlari mengitari kampus dan melihat ke setiap ruangan. Dan tiba di lantai paling atas, Vira memegang lututnya mengatur nafasnya.
Vira mulai berjalan cepat meneliti semua ruangan dan mendengar suara Resya yang meminta pertolongan. Vira segera berlari kearah suara itu.
BRAK
Pintu terbuka membuat Resya dan Alvero terkejut,
"Lepasin temen gue b******k!" Maki Vira.
Vira langsung menarik Resya,
"Sya," Resya langsung memeluk Vira dan menangis sesenggukan.
"Gue udah bilang sama lo buat ngga ganggu Resya, tapi lo tetep nekat ya,"
Alvero tersenyum sinis,
"Gue ngga pernah janji sama lo buat ngejauhin Resya, jadi lo ngga bisa ngehalangin gue,"
"Lo gila!" Teriak Vira membuat tangis Resya semakin deras.
"Bawa gue keluar Vir," Ucap Resya terbata-bata.
Vira menatap tajam Alvero sebelum keluar dari ruangan tersebut bersama Resya. Setelah hanya Alvero sendiri, dia tidak bisa menahan air matanya yang lolos dan langsung dihapusnya.
"Gue ngga akan nyerah buat lo Lan," Ucap Alvero mantap.
Vira membawa Resya kearah mobilnya,
"Pulang ya Sya gue anterin,"
Resya menggelengkan kepalanya,
"Ngga, nanti abang gue tau,"
"Sya, mau gimana pun abang lo juga bakal tau nantinya,"
Resya tetap menggelengkan kepalanya dan menangis lebih deras,
"Oke-oke kita ngga pulang. Terus mau kemana?"
"Gue tetep ngampus,"
"Heh ? Lo bakal ketemu sama si Alvero lagi nantinya!" Ucap Vira kesal dengan kekeras kepalaan Resya.
"Mau gimanapun gue bakal terus ketemu Vero, Vir. Selama gue masih dikampus ini kita bakal terus ketemu. Dan lu tau gue harus bisa lawan rasa takut gue sama dia, jadi gue harus biasain ketemu sama dia,"
"Tapi dia pengen balik sama lo Sya, dia bisa ngelakuin apa aja buat balik sama lo,"
"Gue bakal bertahan," Resya mencoba tersenyum
"Gue ngga akan luluh, jadi sekarang lo harus bantuin gue. Buat gue, cuman lo sama Lele yang ada disamping gue kalo ngga ada abang," Lanjutnya.
Vira mau tidak mau menganggukan kepalanya, "Ayo gue ada kelas, udah daritadi gue bolos,"
Resya berjalan lebih dulu meninggalkan Vira yang termenung,
"Lo emang bakal terbiasa sama keberadaan Alvero lagi, Sya. Tapi, disitu juga cinta lo yang lama kelamaan bakal semakin besar buat tuh cowok b******k," Gumam Vira sebelum akhirnya mengikuti Resya.
•°•
Resya keluar dari kampusnya dan melihat mobil Revino yang sudah terparkir di parkiran. Resya memutar bola matanya, dia seperti anak kecil yang ditunggu oleh orang tuanya.
"Ngga punya kerjaan apa bang nunggu 2 jam disini?" Tanya Resya setelah masuk kedalam mobil.
Abangnya memberitahu lewat w******p bahwa dia sudah sampai 2 jam yang lalu, padahal Resya sudah memberitahunya bahwa kelasnya masih lama tapi abangnya bersikeras ingin menunggu.
"Ada, kerjaannya nungguin lo lah," Ucap Revino sembari menjalankan mobilnya keluar dari halaman kampus.
"Abang laperr," Rajuk Resya.
"Mau makan apa?"
"Ke stone cafe ya bang. Pengen makan steak nih," Ucap Resya girang.
Revino menganggukan kepalanya sembari tersenyum, dia tidak mau merusak hari adiknya yang sedang terlihat baik.
•°•
Sepulang kampus, Alvero langsung kembali kerumahnya. Alvero belum mendapat teman dikampusnya yang sekarang. Sebenanrnya bukan belum mendapat, tapi Alvero yang menghindar.
Banyak anak lelaki kampus yang mengajak Alvero untuk sekedar ikut bermain basket atau sepak bola, tetapi Alvero menolak dengan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Alvero memasuki kamarnya lalu merebahkan diri di tempat tidur, memandang langit-langit kamar. Menopang kepalanya dengan kedua tangannya dibelakang kepala. Tersenyum miris dengan apa yang terjadi tadi di kampus, bahkan rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang ketika Resya menolaknya.
Alvero bangkit dari tidurnya lalu berjalan kearah meja belajarnya. Mengambil figura yang terdapat gambar seorang perempuan dan 2 lelaki disamping kanan dan kirinya.
Alvero memegang erat figura itu. matanya tertuju pada lelaki disamping wanita itu, Sahabatnya.
"Kalau gue ngga takut dan ngga jadi pengecut, mungkin sekarang ngga akan kaya gini keadaannya. Kita bakal terus bareng sampai sekarang,"
Alvero marah, marah pada dirinya sendiri. Seharusnya dia bisa melawan, bukannya merasa takut. Alvero yakin dia bisa melindungi orang yang dicintainya, seharusnya.