Chapter 8

844 Kata
Setelah pelajaran selesai, semua anak keluar dari kelas menyisakan Resya, Alvero, dan dosen yang sedang membereskan buku-bukunya. "Resya, jangan lupa dengan yang saya suruh!" Ucap dosen sebelum keluar dari kelas menyisakan Alvero dan Resya yang hanya diam. Alvero yang merasakan suasana canggung berdeham, "Kalo lo ngga mau juga ngga apa-apa, gu-" Resya langsung berdiri lalu berjalan begitu saja, Alvero hanya tersenyum miris. 'Benar-benar berubah.' Resya berhenti lalu menghadap kearah Alvero walaupun gemetaran tapi dia harus bisa menghilangkan traumanya. "Cepet," Hanya itu jawaban Resya sebelum berbalik pergi tapi mampu membuat degup jantung Alvero berdetak dengan cepat. Alvero akhirnya mengikuti Resya yang akan mengantarnya mengelilingi kampus. Selama mereka berdua mengelilingi kampus, Resya hanya menunjuk ruangannya lalu menyebut nama ruangan tersebut. "Ini ruang praktek dan disebelah nya kelas," Ucap Resya ketika mereka berada diruang praktek. Alvero menganggukan kepalanya tanda mengerti, tetapi sedari tadi dia hanya memperhatikan wajah Resya yang sekarang terlihat sangat cantik. Walaupun hampir sama dengan 3 tahun yang lalu, tapi sekarang lebih terlihat dewasa karna Resya menggunakan make up walaupun tidak tebal. Resya sebenarnya tahu dia diperhatikan sedari tadi, tapi sebisa mungkin dia mengabaikannya. Resya sudah akan berjalan meninggalkan ruangan tersebut tapi tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang membuat Resya berjengit terkejut. "Bentar aja, abis ini kita bakal kaya orang ngga kenal. Jadi, tolong gue bentar aja," Ucap Alvero lirih. Resya benar-benar diam mematung, tubuhnya bergetar melawan rasa takut bersentuhan dengan Alvero. Alvero menelusupkan wajahnya diceruk leher Resya, menghirup wanginya dalam-dalam karna sebentar lagi mereka akan seperti orang yang tidak saling mengenal. "3 tahun," Lirih Alvero. "Gue kangen," Lanjutnya. "Maafin gue," Lanjutnya lagi. "Maafin gue bikin lo menderita, maafin gue karna gue lo jadi takut sama gue," Resya hanya terdiam, air matanya sudah menggenang. Tubuhnya mulai rileks, tidak bergetar seperti tadi. "Dan sekarang dengan begonya," Lanjut Alvero. "Gue pengen kita balik lagi," Resya terkejut, dia tidak menyangka bahwa Alvero akan berbicara secepat itu. Mengenai perasaannya, "Dan lo tau gue ngga akan mau," Setelah lama berdiam akhirnya Resya menjawab. "Setelah semua yang lo lakuin ke gue," Lanjutnya. "Cuman karna surat tentang-" Resya tidak bisa melanjutkan kata-katanya. "Cuman karna perasaan gue semuanya hancur," Lirih Resya. Resya hendak melepaskan pelukan Alvero tapi Alvero semakin mengeratkan pelukannya. "Lepasin gue Alvero," Peringat Resya. Alvero tersenyum miris dan Resya bisa merasakannya, "Bahkan lo ngga manggil gue kaya biasa," "Lepasin sebelum gue teriak," Alvero melepaskan pelukannya, Resya berbalik lalu menampar Alvero dengan sangat kencang hingga Alvero terhuyung kebelakang. Resya menahan rasa sakit ditangannya karna tamparannya yang sangat keras. Setelah sekian lama, Resya tidak bisa menahan lagi untuk tidak menampar Alvero. Tapi, itu tidak seberapa dengan rasa sakit yang diterima Resya hanya karna sebuah surat yang membuat persahabatan mereka renggang. "3 tahun," Ucap Resya dengan nada penuh penekanan. "3 tahun gue berusaha hilangin semua rasa gue sama lu," Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi. Alvero hanya terpaku, pipinya memang sangat sakit hingga bibirnya sobek. Tapi ini pantas untuk Alvero, ini semua salahnya. "3 tahun yang lalu persahabatan kita rusak cuman karna sepucuk surat tentang rasa suka gue buat lo. Lo pernah mikir untuk denger penjelasan gue dulu?" Tantang Resya yang hanya dibalas dengan diamnya Alvero. "Lo pernah mikirin perasaan gue ? Lo pernah mikirin gimana sakitnya dibilang muak sama sahabat sendiri dan orang yang lo cintai ? Lo pernah mikir ngga Alvero?" Bentak Resya. Resya tertawa hambar, dia bisa gila kalau seperti ini. Bertemu dengan Alvero, membuat kewarasannya menghilang "Ternyata gue salah," Resya tertunduk lesu. "Gue nyesel Ver," Ucap Resya. "Gue nyesel jatuh cinta sama lo," DEG Itulah perkataan yang dibenci Alvero, ketika cinta pertamanya berkata bahwa dia menyesal mencintai Alvero. "Gue nyesel pernah ngasih hati gue buat lo, dan dengan gampangnya lo buang gitu aja," Terdengar suara isak tangis Resya yang membuat Alvero semakin sakit. "Gue pengen semua rasa sakit ini berakhir, gue ngga mau liat wajah lo lagi. Liat wajah lo cuman ngingetin gue sama kenangan buruk yang pernah gue alamin," "Padahal gue udah janji sama abang ngga akan nangis didepan lo, tapi gue ngga bisa." Teriak Resya yang semakin deras tangisannya. Mereka terus berdiam seperti itu, hanya ada suara isak tangis Resya yang mulai mengecil. Resya menghapus air matanya lalu menatap Alvero. "Sorry Ver, mungkin surat yang pernah gue bikin buat lo ngga penting. Dan gue baru sadar sekarang, itu cuman karna gue terbawa perasaan." Resya tersenyum manis yang entah kenapa malah membuat Alvero semakin sakit. "Dan mungkin itu cuman cinta anak SMA, kita masih remaja. Jadi, ngga ada salahnya bukan?" "Seiring berjalannya waktu pasti bakal berubah kan? Dan sekarang semuanya udah berubah. No more Alvero," Resya menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila dan terasa sakit. "So, we're really being strangers now?" Resya menganggukan kepalanya. "If i can, i will never want to know about you. Ever," Resya sudah akan beranjak pergi tetapi seseorang menahan pergelangan tangannya dan membuat Resya berbalik arah dan menabrak d**a bidang Alvero. Resya berusaha berontak, memukul d**a Alvero sekuat tenaga ketika tiba-tiba Alvero menciumnya. Resya tidak terima, Resya berusaha mendorong Alvero. Tenaganya melemah, tidak mungkin dia melawan Alvero yang lebih besar darinya. Resya hanya menangis dalam diam, tidak membalas ciuman Alvero. Merasa tidak ada perlawanan, Alvero melepaskan ciumannya lalu melihat kearah Resya yang menutup matanya dengan air mata mengalir. Alvero mencium kedua mata Resya yang tertutup. "Maafin gue, gue bakal ngelakuin apa aja biar lo maafin kesalahan gue. Tapi, gue ga akan pernah ngelepas lo lagi. Gue ga peduli kalo Revino nanti bakal nyiksa gue, yang paling penting gue bisa balik lagi sama lo kaya dulu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN