Aku terbangun di pangkuan Angkasa. Yah, apa sih yang bisa kulakukan selain tiduran di toilet bersama Angkasa semalaman? Nggak ada, kan? Orang Angkasa juga kesakitan, memangnya mau ngobrolin apa seiyanya dia bisa ngebacot? Ngebacotin kenapa dia begitu peduli dengan Nataya? Ngebacotin kenapa dia selalu membela dan membela Nataya? Pengin sih. Apalagi dia juga udah misahin aksiku yang mau mutusin rambut Nataya sekepala-kepalanya, kan? Tapi yah, aku nggak tega menyudutkannya yang merintih-rintih sepanjang malam. Entah dia merintih sampai jam berapa, aku sudah tertidur dan nggak tahu apa yang terjadi berikutnya. “Mbak Tata, maaf sudah membuat Mbak Tata kerepotan menjaga saya.” “Hem…,” jawabku malas. Aku dan Angkasa duduk selonjoran di balik pintu toilet. Menunggu dengan sabar OB yang jaga shi

